Demi Eksis atau Apresiasi Diri? Alasan Pelari Tebus Foto di Fotoyu
1 Juni 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Demi Eksis atau Apresiasi Diri? Alasan Pelari Tebus Foto di Fotoyu
Banyak pelari rela mengeluarkan uang ratusan ribu untuk tebus foto usai lari. Apa alasannya? Simak ceritanya di sini.kumparanBISNIS

Setelah garis finish dilewati, pelari bukan hanya mencari air minum atau medali finisher. Tak sedikit yang langsung mencari akun media sosial para fotografer yang berseliweran di sepanjang rute. Tujuannya? Menebus hasil jepretan saat mereka sedang berlari—momen yang biasanya tidak bisa mereka abadikan sendiri.
Di platform seperti Fotoyu, tempat jual beli foto olahraga terbesar di Indonesia, aktivitas ini makin marak. Dalam satu event lari besar, ratusan hingga ribuan foto diunggah hanya dalam hitungan jam.
Menariknya, banyak pelari yang rela mengeluarkan puluhan ribu rupiah per foto untuk sekadar menyimpan momen saat mereka tersenyum, berlari, atau bahkan tampak kelelahan di tengah race.
Apa yang sebenarnya mendorong mereka menebus foto-foto itu? Demi eksistensi di media sosial atau ada makna lain sebagai bentuk apresiasi diri?
Salah satu pelari rekreasional, Hanna Aditya Januarisky, bercerita dia kerap menebus foto dan video larinya karena beberapa alasan. Pertama, biasanya karena melewati spot atau lokasi lari baru.
Kedua, karena pakai jersey lari baru. Menurut dia outfit lari tak melulu harus branded, tapi yang penting baru, maka dia akan mempertimbangkan untuk tebus foto.
“Misal mau pamerinjersey kantorku, nah itu ditebus. Aku di feed Instagram juga posting-nya selalu berjejer tiga baris dengan outfit yang sama, jadi kenapa suka tebus beberapa kali dengan baju yang sama,” katanya kepada kumparan, Kamis (29/5).
Alasan lain adalah untuk eksis. Menurutnya hal wajar jika seorang pelari, sekalipun bukan atlet, untuk mengunggah foto ketika lari karena sudah berjuang untuk konsisten dan disiplin bergerak, terutama ketika ikut race atau lomba lari.
ASN Kementerian Pertanian ini terhitung sering mengikuti ajang lari di beberapa kota. Salah satu pencapaiannya adalah dia berhasil ikut kelas Half Marathon 21 KM dengan waktu 2 jam 30 menit yang menurutnya wajib diabadikan dalam sebuah konten di Instagram.
Hanna tidak selalu menebus foto ketika lari. Lebih sering ketika ikut race atau lari di kota/wilayah baru terutama saat dinas. “Kalau race bisa tebus lebih dari Rp 200 ribu,” jelasnya.
Pengalaman yang sama diungkapkan Ratu Shofura Maryam. Dia baru memulai lari secara serius setahun belakangan. Mantan pramugari ini mengaku tidak selalu menebus foto ketika lari sehari-hari di Bogor atau Jakarta.
“Biasanya tebus untuk alasan eksis atau ada hasil foto yang aku rasa bagus banget, kayak kelihatan kita tuh serius banget lari. Nah itu tebus. Terakhir aku tebus itu budget Rp 100 ribu untuk 3 foto,” jelasnya.
Ratu salah satu pelari rekreasional di Kota Bogor yang kerap di-tag oleh fotografer ketika lari. Bagi dia, ketika seseorang lari di ruang publik, harus siap ‘dibidik’ kamera fotografer. Tapi dia yakin fotografer akan memahami jika si pelari enggan di foto dengan alasan privasi.
“Itu risiko pelari di foto tanpa consent di ruang publik tapi kalau enggak setuju tinggal say no atau kasih tanda jangan di foto,” jelas perempuan yang saat ini tengah serius latihan untuk persiapan Virgin Half Marathon di BTN Jakim pada 29 Juni 2025.
Hanna juga berpendapat demikian. Baginya, semua pilihan ada pada pelari. Jika tidak ingin di foto, bisa memberikan tanda atau memilih rute lain yang sepi fotografer.
Dia mengaku pernah menghilang dua bulan tidak lari di rute yang sama karena saking banyaknya fotografer yang memotret dirinya dan mengunggah foto tersebut di media sosial mereka.
“Jadi kita sebagai pelari juga harus beradaptasi ya, jangan maksa orang untuk mengerti kita. Bisa pilih cari rute lain atau minta take down foto yang di-upload,” kata Hanna.
Tebus Foto untuk Konten Edukasi
Menebus foto dan video lari juga dilakukan Raden, seorang pelari dan pelatih lari di Bogor. Lebih dari 10 tahun menggeluti dunia lari, dia kerap membagikan konten soal edukasi atau tips lari yang efektif di Instagramnya, @bangraden_7.
Menurut dia, olahraga lari bukan cuma lari. Tapi ada berbagai latihan yang harus dilakukan secara kontinyu agar tulang kaki, otot inti, dan semua bagian yang dipakai lari termasuk napas, bisa kuat saat berlari. Dan itu cukup efektif dijelaskan di media sosial.
“Alasannya untuk branding dan promosi bagi saya sebagai coach. membagikan konten lari dapat menjadi cara untuk mempromosikan diri sendiri dan jasa saya (kelas private untuk latihan lari),” katanya kepada kumparan.
Sama seperti seperti Hanna dan Ratu, dia menyiapkan biaya Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu jika ada kebutuhan konten foto/video. Bahkan kadang dia juga menyewa secara khusus fotografer jika ada produk yang harus dipromosikan (endorsement) atau club training yang dia bangun untuk mengajarkan strength secara gratis di RRF Training Club.
