Desain MRT Medan Satria-Tomang Diubah, Jalur di Kawasan Senen Bakal Digeser
10 Oktober 2025 10:58 WIB
·
waktu baca 2 menit
Desain MRT Medan Satria-Tomang Diubah, Jalur di Kawasan Senen Bakal Digeser
Perubahan desain MRT Medan Satria-Tomang sudah mendapat persetujuan dari Kemenhub.kumparanBISNIS

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) mengajukan perubahan desain proyek MRT lintas timur-barat (east-west line) Fase 1 Tahap 1 yang membentang dari Tomang hingga Medan Satria. Langkah ini dilakukan untuk menghindari pembangunan di lahan bermasalah.
"Akan dilakukan re-design untuk MRT Fase 1 Tahap 1 Timur-Barat," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, dalam acara MRT Jakarta Fellowship Program di Wisma Nusantara, dikutip pada Jumat (10/10).
Syafrin menjelaskan perubahan desain dilakukan pada jalur yang melintasi kawasan Senen. Dalam rancangan awal, jalur bawah tanah MRT sempat direncanakan melewati area bekas bioskop tua Rivoli.
"Kalau dulu yang pernah nonton di Rivoli, eh gak ada ya? Itu zaman saya berarti, ada bioskop di sana, itu ternyata bermasalah lahannya. Sehingga harus digeser, jadi digeser lebih ke utara," ungkap Syafrin.
Perubahan desain ini, kata dia, sudah mendapatkan persetujuan dari Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi.
“Sebelumnya di sisi timur jalan Stasiun Senen, nah itu digeser lebih mendekat ke arah stasiun. Tapi ini kan di bawah. Sehingga itu akan dilakukan re-design untuk MRT Fase 1 Tahap 1 Timur-Barat,” jelas Syafrin.
Proyek MRT Jakarta lintas timur-barat Fase 1 Tahap 1 Tomang–Medan Satria akan terbentang sepanjang 22,7 kilometer. Pada tahap awal, jalur ini akan memiliki 21 stasiun, dengan rute bawah tanah dari Roxy hingga Galur, serta stasiun layang (elevated) di segmen Tomang–Grogol dan Cempaka Baru–Ujung Menteng.
Syafrin menilai perubahan desain ini menjadi langkah positif bagi kelancaran proyek MRT lintas timur-barat. Menurutnya, dengan menggeser jalur dari area bermasalah, proses pembangunan bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus tersendat urusan pembebasan lahan.
Ia menyebut langkah re-design ini bukan hanya soal perubahan teknis, tetapi juga strategi untuk mengantisipasi potensi hambatan sejak awal. Dengan begitu, pekerjaan konstruksi bisa langsung difokuskan pada area yang aman secara hukum dan tata ruang.
“Tentu ini kabar gembira buat MRT dan kita di Jakarta karena otomatis dengan dilakukannya hal tersebut, kendala-kendala kita di lapangan itu bisa kita mitigasi di awal,” terang Syafrin.
Syafrin menuturkan percepatan ini akan berdampak besar terhadap jadwal pembangunan secara keseluruhan. “Sehingga akselerasi proyek itu tentu tidak akan terkendala oleh misalnya pembebasan lahan yang memang dari awal pembebasan lahannya bermasalah,” tutur Syafrin.
