Dipasok Pertamina Patra Niaga, Pelita Air Terbang Pakai Bioavtur Minyak Jelantah

21 Agustus 2025 10:31 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dipasok Pertamina Patra Niaga, Pelita Air Terbang Pakai Bioavtur Minyak Jelantah
Bahan baku bioavtur ini dikumpulkan Pertamina Patra Niaga dari berbagai sumber, mulai dari dapur masyarakat hingga restoran. Jadi bahan bakar bersih untuk Pelita Air.
kumparanBISNIS
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra menyaksikan penerbangan maskapai Pelita Air resmi terbang perdana menggunakan bioavtur dari minyak jelantah atau (Used Cooking Oil/UCO) atau dikenal dengan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), Rabu (20/8/2025). Foto: Pertamina Patra Niaga
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra menyaksikan penerbangan maskapai Pelita Air resmi terbang perdana menggunakan bioavtur dari minyak jelantah atau (Used Cooking Oil/UCO) atau dikenal dengan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), Rabu (20/8/2025). Foto: Pertamina Patra Niaga
Maskapai Pelita Air resmi terbang secara penuh menggunakan bioavtur dari minyak jelantah atau (Used Cooking Oil/UCO) atau dikenal dengan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bioavtur ini disalurkan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) sebagai perusahaan hilir Pertamina Group.
Penerbangan komersial yang dioperasikan Pelita Air dengan rute Jakarta–Bali ini lepas landas pada Rabu (20/8) dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, menjadi momen bersejarah sekaligus menandai posisi Indonesia dalam inovasi bahan bakar berkelanjutan.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra mengatakan pihaknya bukan hanya menyalurkan bioavtur yang sudah jadi, tapi juga berperan dalam penyediaan bahan baku utama, yakni minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat. Upaya ini tidak hanya memperkuat ekosistem energi berkelanjutan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat sehingga menghadirkan ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi.
"Bahan baku SAF berasal dari minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat, mulai dari restoran, rumah tangga, hingga usaha kecil. Dengan cara ini, pengembangan ekosistem Pertamina SAF tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (21/8).
Dalam acara tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno dalam sambutannya, menekankan Pertamina SAF bukan hanya soal aspek teknis, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam geopolitik dan diplomasi energi Indonesia di tingkat global.
β€œPertamina Group harus menjadi pelopor. Seharusnya kita sebagai negara yang mampu, yang pertama dan satu-satunya di ASEAN yang membuat SAF sendiri bisa memiliki hak dalam konteks riset, pemasaran, dan kebijakan. Indonesia itu punya aset untuk menjadi pemimpin di kawasan global,” ungkap Havas.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menambahkan bahwa SAF merupakan bagian dari arahan Presiden RI dalam mewujudkan Asta Cita di bidang ketahanan dan kemandirian energi.
Garuda Indonesia uji coba penggunaan bioavtur di pesawat B737-800 NG, Rabu (26/7/2023). Foto: Dok. Garuda Indonesia
β€œIni adalah program Asta Cita yang harus terus kita laksanakan, yaitu ketahanan energi, dan untuk yang ini tidak hanya ketahanan energinya tapi juga swasembadanya, jadi kemandiriannya juga semakin kuat. Pertamina SAF telah naik kelas karena memiliki sertifikasi keberlanjutan yang diakui global,” tambah Dadan.
Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan Odo R.M. Manuhutu menekankan pentingnya menjadikan Indonesia sebagai pusat ekosistem SAF.
Menurutnya momentum ini menunjukkan komitmen nyata Indonesia dalam dekarbonisasi sektor aviasi. Kita memenuhi komitmen Net Zero Emission di sektor aviasi pada 2050, dan peta jalan SAF ini adalah salah satu upaya kita mencapainya.
"Harapannya nanti Indonesia bukan hanya pengguna, tapi juga pusat inovasi. Tujuannya menjadikan Indonesia benar-benar pusat, Indonesia harus menjadi nomor satu paling tidak di Asia Tenggara,” ucap Odo.
Acara peluncuran penerbangan perdana Pertamina SAF ini dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia Letjen TNI (Purn) A.M. Putranto, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana, Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan Odo R.M. Manuhutu, Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara RI Yuli Harsono, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI Lukman F. Laisa serta Wiko Migantoro, Senior Director of Oil, Gas & Petrochemical Danantara Asset Management.
Selain itu, turut hadir Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan dan jajaran komisaris lainnya serta Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza beserta Jajaran Direksi Pertamina Group lainnya.
Trending Now