Dukuh Atas Bakal Punya Jembatan Melingkar Ikonik, Target Rampung 2027
9 Oktober 2025 18:10 WIB
·
waktu baca 5 menit
Dukuh Atas Bakal Punya Jembatan Melingkar Ikonik, Target Rampung 2027
Proyek jembatan melingkar ikonik akan dibangun di Dukuh Atas untuk menghubungkan empat kawasan dan moda transportasi, ditarget rampung pada 2027 tanpa dana APBD.kumparanBISNIS

Kawasan Dukuh Atas di Jakarta Pusat bakal segera bertransformasi menjadi simpul transportasi yang lebih terintegrasi dan ikonik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan proyek pembangunan jembatan penghubung berbentuk cincin donat yang akan menghubungkan empat kuadran utama di kawasan tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konsep Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta, di mana konektivitas antar moda transportasi publik menjadi prioritas utama.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, ide pembangunan jembatan ini berasal dari peninjauan langsung Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di kawasan Dukuh Atas.
Saat itu, Gubernur menilai integrasi antar moda transportasi di kawasan tersebut belum sepenuhnya terwujud.
“Jadi, Pak Gubernur Pramono Anung melihat Dukuh Atas, kok ini belum ada integrasinya di lokasi tersebut? Memang dulu sudah sempat ada Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) yang mengintegrasikan LRT Jabodebek dengan KRL di sisi timur Dukuh Atas. Dan itu sekarang sudah operasional,” kata Syafrin dalam acara Media Fellowship Program MRT Jakarta 2025 di Wisma Nusantara, Kamis (9/10).
Namun, lanjutnya, Gubernur menginginkan integrasi yang lebih menyeluruh dan utuh, mencakup seluruh kawasan Dukuh Atas yang memiliki empat kuadran besar yakni area BNI, Landmark, UOB, dan Transport Hub.
“Pak Gubernur minta Pak Tuhiyat (Dirut MRT) untuk kemudian dilakukan pengintegrasian secara utuh di keempat kawasan Dukuh Atas. Dan bahkan beliau sudah menyampaikan targetnya 2027,” ujar Syafrin.
Syafrin menambahkan, desain jembatan dibuat melingkar untuk menyesuaikan bentuk kawasan yang simetris. Sekaligus menjadi simbol konektivitas modern.
“Kenapa melingkar? Karena memang ini untuk mengintegrasikan empat kuadran. Dan Dukuh Atas ini dia kan simetris. Sehingga bentuk cincin donat tadi itu menjadi ideal,” tuturnya.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat menjelaskan, ide jembatan berbentuk cincin donat ini berawal dari kegiatan susur sungai yang dilakukan bersama Gubernur DKI Jakarta. Saat itu, Pramono Anung menyoroti bagaimana empat kuadran utama di kawasan tersebut belum terkoneksi sepenuhnya.
“Nah, kami tawarkan ide itu yang kita lakukan pada saat itu benchmarking ke Yokohama. Yang bentuknya adalah donut bridge,” ungkap Tuhiyat.
Jembatan ini akan dibangun di atas kawasan Sudirman–Dukuh Atas, dengan lebar sekitar 12 meter. Dari total itu, tujuh meter diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pesepeda, sedangkan lima meter lainnya akan digunakan untuk aktivitas bisnis atau area komersial.
“Nanti akan menghubungkan empat juga mode transportasi. Ada KCI, ada MRT Jabodebek, ada MRT, kemudian ada kereta bandara. Sementara LRT Jakarta belum sampai ke sini,” jelasnya.
Tuhiyat menambahkan, proyek ini juga sejalan dengan rencana revitalisasi Stasiun KRL Sudirman yang akan langsung terkoneksi dengan jembatan tersebut. “Sehingga nanti kalau ada di Stasiun Sudirman itu langsung terkoneksi ke sini, langsung terkoneksi ke jembatan. Jadi tidak perlu ke bawah. Jadi akan dimanjakan lah kira-kira orang untuk bisa berjalan,” katanya.
Dengan proyeksi pergerakan mencapai 70 ribu orang per hari, jembatan ini diharapkan dapat mengurai kemacetan dan memudahkan perpindahan antar moda transportasi publik di kawasan Dukuh Atas.
“Kita lakukan itu untuk bisa mengkoneksikan Dukuh Atas sehingga ini bisa memecah kemacetan yang ada di Dukuh Atas. Traffic yang kita perkirakan itu sekitar 70.000 rider, 70.000 mobilitas yang ada di situ sehari,” ujar Tuhiyat.
Ia menambahkan, pembangunan akan menggunakan skema kerja sama dengan pihak swasta. “Hampir kita pastikan minggu ini sudah kepastian. Senin besok dirataskan dan kita go,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Jepang dan Skema Creative Financing
Sebagai bagian dari pengembangan kawasan berorientasi transit, MRT Jakarta menegaskan bahwa proyek ini bukan hanya infrastruktur penghubung, tetapi juga langkah strategis menuju konektivitas penuh di jantung kota.
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda) Farchad Mahfud menyampaikan, pembangunan Jembatan 4 Kuadran di kawasan Dukuh Atas ini merupakan upaya menciptakan interkoneksi antartransportasi publik yang selama ini masih terpisah oleh jalur Sudirman dan Banjir Kanal Barat.
“Atas inisiatif Pemprov DKI Jakarta, Kementerian Perhubungan, dan Pemerintah Pusat juga, kami menginisiasi sebuah konsep interconnectivity antartransportasi publik di kawasan Dukuh Atas berbentuk donat,” kata Farchad.
Konsep jembatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MRT Jakarta dengan Urban Renaissance Agency (UR Agency) dari Jepang, yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada April 2024.
Farchad menegaskan, proyek ini akan dibangun tanpa menggunakan dana pemerintah. “Kita akan upayakan tanpa pendanaan pemerintah. Konsepnya sama seperti saat anak usaha kami membangun jembatan di Dukuh Atas,” ujarnya.
Ia menambahkan, ada berbagai model pembiayaan yang bisa digunakan, termasuk investasi langsung dari MRT Jakarta maupun kemitraan dengan pihak swasta. “Jembatan ini bukan sekadar fasilitas publik, tapi juga punya fungsi komersial sehingga bisa self-funded. Ada revenue center-nya,” tutur Farchad.
Berdasarkan kajian awal MRT Jakarta, saat ini terdapat sekitar 75.000–80.000 orang yang beraktivitas di kawasan Dukuh Atas setiap hari. Dengan adanya jembatan ini, jumlah tersebut berpotensi meningkat dua kali lipat pada tahun 2030.
“Kalau sampai 2030, mungkin bisa dua kalinya dari kondisi sekarang,” kata Farchad.
MRT Jakarta menargetkan pembangunan jembatan cincin donat ini selesai dan beroperasi pada tahun 2027. Saat ini, perusahaan tengah menyiapkan proses pendanaan, desain teknis, serta studi kelayakan proyek yang mendapat dukungan berupa hibah dari Pemerintah Jepang.
“Kita enggak perlu keluar biaya. Tapi kita jadi tahu bahwa ini visible, bisa dibiayai, dan sebagainya,” ucap Farchad.
