Ekspor Batik Pekalongan Baru Capai 20 Persen, Asia Tenggara Jadi Pasar Utama

2 Oktober 2025 13:34 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ekspor Batik Pekalongan Baru Capai 20 Persen, Asia Tenggara Jadi Pasar Utama
Batik Pekalongan banyak dijual di Malaysia, Thailand, hingga Vietnam. Tapi baru 20 persen, sisanya lebih banyak dijual di dalam negeri.
kumparanBISNIS
Wali Kota Pekalongan, H.A Afzan Arslan Djunaid, usai acara Indonesia Batik Outlook & Launching Festival Batik 3 Kota 2025 di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (2/10/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Pekalongan, H.A Afzan Arslan Djunaid, usai acara Indonesia Batik Outlook & Launching Festival Batik 3 Kota 2025 di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (2/10/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
Wali Kota Pekalongan, H.A Afzan Arslan Djunaid, menyebut ekspor batik dari Kota Pekalongan saat ini baru mencapai sekitar 20 persen dari total produksi. Selebihnya masih diserap oleh pasar dalam negeri yang dinilai relatif stabil.
โ€œKalau untuk pasar ke luar negeri kita masih di Kota Pekalongan masih sekitar 20 persen (dari total produksi) itu memang masih sedikit,โ€ ujar Afzan kepada wartawan usai acara Indonesia Batik Outlook & Launching Festival Batik 3 Kota 2025 di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (2/10).
Afzan menjelaskan pasar utama ekspor batik Pekalongan saat ini berada di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Selain itu, produk sarung dari Pekalongan juga diminati di Timur Tengah, sedangkan pasar Afrika cenderung menggemari batik dengan warna-warna cerah.
"Kalau di Eropa masih sangat sedikit terbatas, hanya misalkan kita kemarin di Paris Fashion Week dan beberapa desainer nasional sebenarnya sudah ada yang buka toko," tutur Afzan.
Katanya, tren penjualan batik saat ini mulai membaik setelah terdampak pandemi COVID-19. Bahkan lebih baik lagi. Peningkatan penjualan didukung oleh keterlibatan generasi muda dalam pengembangan batik. Pemerintah Kota Pekalongan secara rutin menggelar lomba desain batik untuk melibatkan milenial dan Gen Z.
com-Sampoerna, ilustrasi membatik Foto: Shutterstock
Selain itu, dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian UMKM dan Kementerian Luar Negeri dinilai membuka akses pasar baru lewat keikutsertaan pada sejumlah pameran internasional.
โ€œSeperti kemarin di Dubai, terus di Hamburg, Jerman, kemarin di Kota Pekalongan ada yang ikut juga. Itu menurut saya juga mendorong,โ€ katanya.
Meski begitu, Afzan mengatakan kondisi ekonomi nasional tetap menjadi faktor penting yang mempengaruhi perkembangan industri batik. Penutupan sejumlah pabrik tekstil di beberapa daerah sempat menimbulkan persoalan pasokan bahan baku, namun Pekalongan relatif aman karena memiliki sentra pabrik tekstil dan produsen pewarna batik.
Saat ini, Pekalongan juga tengah mengembangkan batik berbasis pewarna alami. Namun, Afzan mengakui pengembangan ini masih menghadapi kendala.
โ€œKelemahan kita, batik warna alam itu warnanya belum bisa cerah. Jadi untuk kalangan anak muda masih kurang menarik. Tetapi ini kita kembangkan terus bagaimana nanti ke depan biar warnanya bisa cerah dan diminati anak muda,โ€ ujarnya.
Meski Pekalongan memiliki motif batik khas, Afzan mendorong setiap daerah untuk mengembangkan corak batiknya masing-masing.
โ€œMisalkan Magelang membuat motif Borobudur, terus di Banyumas, di Cirebon dengan Megamendungnya. Itu saya rasa setiap daerah justru kita dorong untuk memiliki motif supaya lebih beragam. Karena batik ini kan seni, tidak ada keterbatasan motif, tidak ada keterbatasan perpaduan warna,โ€ katanya.
Trending Now