Eropa Pertimbangkan Cara Baru agar Orang Kaya Bayar Pajak Lebih Besar

21 September 2025 11:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eropa Pertimbangkan Cara Baru agar Orang Kaya Bayar Pajak Lebih Besar
Negara-negara Eropa tengah mencari cara agar orang kaya membayar pajak lebih banyak untuk menutup defisit anggaran dan menekan ketimpangan.
kumparanBISNIS
Ilustrasi membayar pajak penghasilan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membayar pajak penghasilan. Foto: Shutter Stock
Negara-negara Eropa tengah mencari cara agar orang kaya membayar pajak lebih banyak untuk menutup defisit anggaran dan menekan ketimpangan. Namun, upaya memberlakukan pajak kekayaan langsung dinilai bukan solusi paling efektif.
Para ekonom menilai ada opsi lain yang lebih menjanjikan. Mulai dari memperketat pengawasan atas keuntungan modal, pajak warisan, hingga biaya keluar bagi mereka yang pindah ke surga pajak.
"Kekhawatiran tentang ketimpangan kekayaan tidak menyiratkan bahwa pemerintah harus menggunakan pajak kekayaan bersih," kata IMF dalam panduan terbarunya untuk pemerintah dikutip dari Reuters, Minggu (21/9).
"Meningkatkan pajak penghasilan modal cenderung lebih adil dan lebih efisien,” imbuhnya.
Saat ini, Swiss, Spanyol, dan Norwegia sudah memiliki bentuk pajak kekayaan bagi pemilik aset di atas batas tertentu. Di Prancis dan Inggris, wacana serupa tengah diperdebatkan untuk membantu menekan defisit.
Tarif pajak penghasilan tertinggi di 38 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tercatat turun dari 66 persen pada 1980 menjadi 43 persen saat ini. Di sisi lain, kelompok 0,0001 persen orang terkaya di negara-negara seperti Prancis dan Belanda nyaris tidak tersentuh pajak karena dapat menyimpan kekayaan mereka di perusahaan induk. Hal ini diungkapkan oleh profesor Paris School of Economics, Gabriel Zucman.
Zucman sendiri mengusulkan pajak kekayaan sebesar 2 persen bagi 0,01 persen orang terkaya di Prancis dalam rancangan anggaran 2026 yang kini tengah dibahas politisi.
"Kita perlu memastikan bahwa para miliarder membayar pajak setidaknya sama besarnya dengan kelompok sosial lainnya," ujarnya kepada Reuters.
"Ini adalah pertanyaan mendasar tentang keadilan dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip dasar keadilan pajak,” katanya.
Meski begitu, para pakar menilai pajak atas aset bukan satu-satunya, bahkan bukan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Penerimaan dari pajak kekayaan biasanya sangat kecil, hanya beberapa desimal dari produk domestik bruto. Alasannya, kaum ultra kaya dapat dengan mudah menyembunyikan kekayaan mereka lewat perusahaan, perwalian, barang antik yang sulit dinilai, atau dengan memindahkannya ke negara bebas pajak.
Selain itu, pajak kekayaan berlaku sama rata untuk semua jenis aset. Kondisi ini membuat pemilik aset dengan hasil rendah ikut terbebani. Sebaliknya, pajak atas pendapatan modal—seperti dividen dan keuntungan saat aset dijual—langsung menyasar laba yang nyata.
Karena pendapatan modal umumnya dikenai pajak lebih rendah daripada pendapatan tenaga kerja, banyak pihak melihat ada ruang untuk reformasi.
"Perlakuan pajak yang menguntungkan atas keuntungan merupakan pendorong signifikan rendahnya tarif pajak efektif di kalangan individu berpenghasilan tinggi," kata OECD dalam laporan yang dirilis awal tahun ini.
Beberapa negara, termasuk Prancis, Jerman, Italia, Korea Selatan, dan Jepang, masih menerapkan tarif tetap rendah untuk pajak atas keuntungan modal dan dividen.
Trending Now