Esai Foto: Meraup Nilai Ekonomi dari Serat Daun Nanas

22 November 2025 9:36 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Esai Foto: Meraup Nilai Ekonomi dari Serat Daun Nanas
Dengan memanfaatkan pengetahuan, teknologi dan digitalisasi, pelaku usaha mampu meraup berkah dari limbah sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan yang menggerakkan roda perekonomian di daerahnya.
kumparanBISNIS
Pekerja bersama petani mengumpulkan limbah daun nanas. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja bersama petani mengumpulkan limbah daun nanas. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Mentari pagi menyentuh ufuk timur, mengusir selimut kabut tipis di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Udara dingin diisi oleh perpaduan sempurna antara aroma embun, tanah basah, dan wangi khas daun nanas.
Pekerja mengendarai kendaraan roda tiga membawa limbah daun nanas melintasi lahan perkebunan di Kampung Cigore, Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengendarai kendaraan roda tiga membawa limbah daun nanas melintasi lahan perkebunan di Kampung Cigore, Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Samar-samar terdengar deru konstan mesin dekortikator dari sebuah rumah produksi yang mengolah serat daun nanas. Kesibukan para pekerja mulai tampak.
Pekerja mengolah serat daun nanas sebelum dijemur di rumah produksi. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Mereka mulai memisahkan serat dari limbah daun nanas yang sebelumnya telah disortir menggunakan mesin itu. Setelah serat terpisah, selanjutnya para pekerja mencuci dan menjemur serat nanas di bawah panas matahari hingga serat kering atau kadar air di bawah 13 persen.
Pekerja memasukkan limbah daun nanas ke dalam mesin dekortikator untuk pengekstrasi serat. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Di sudut lainnya, pekerja yang didominasi ibu-ibu dengan cekatan menenun dan memintal serat yang telah melewati proses pemeriksaan kualitas (quality control) menjadi berbagai kerajinan.
Gambaran rutinitas itulah yang dilakukan setiap hari di rumah produksi pengolah serat daun nanas di Desa Cikadu, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, yang berusaha memberikan nilai lebih pada limbah daun nanas.
Pekerja menjemur serat daun nanas. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Alan Sahroni, pemilik dari rumah produksi itu menyatakan kisah perjalanannya bermula pada tahun 2013. Saat itu, ia melihat potensi nanas di daerahnya belum dimanfaatkan secara optimal.
"Kita tahu kalau Kabupaten Subang sudah terkenal menjadi salah satu penghasil buah nanas terbesar di Jawa Barat bahkan di Indonesia. Namun, sebagian besar petani hanya menjual serta mengolah buahnya saja," kata Alan Sahroni, dilansir dari Antara.
Pekerja memeriksa kualitas serat daun nanas. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Namun setelah panen usai, limbah daun nanas pada umumnya dibuang dan dibiarkan membusuk bahkan tak jarang dibakar oleh petani. Akhirnya, pria lulusan teknik tekstil di salah satu perguruan tinggi ini mencoba untuk mengolah limbah daun nanas tersebut menjadi produk bernilai ekonomi.
"Limbah daun nanas memiliki nilai fungsi dan nilai ekonomis, petani pun tersenyum karena mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual limbah daun itu," ujar Alan.
Pekerja memeriksa kualitas serat daun nanas. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Rumah produksi tersebut telah memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengolah 3,2 ton limbah daun nanas menjadi 50 hingga 60 kilogram serat daun nanas setiap bulannya. Serat tersebut kemudian dijadikan berbagai produk eco-fashion seperti benang, topi, tas makrame, dompet, selendang serta pernak-pernik menarik lainnya.
Pekerja menenun benang dari serat daun nanas menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Dari segi penjualan, rumah produksi itu juga memanfaatkan jaringan internet dan digitalisasi dengan memasarkan produk di berbagai lokapasar (e-commerce).
Pemilik Alfiber Serat Daun Nanas Subang Alan Sahroni mengambil gambar produk olahan serat limbah daun nanas menggunakan gawai di rumah produksi, Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Alhasil, beragam produk tersebut dapat terjual ke hampir seluruh daerah di Indonesia dengan harga mulai dari Rp 95 ribu hingga Rp600 ribu. Bahkan, di rentang tahun 2021-2022, produk olahan limbah daun nanas tersebut mulai berhasil menembus pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Jerman dan Belanda dengan omzet mencapai ratusan juta.
Pemilik Alfiber Serat Daun Nanas Subang Alan Sahroni memantau penjualan produk olahan serat limbah daun nanas di salah satu lokapasar (e-commerce). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Selain menjadi tempat pengolahan, rumah produksi itu menjadi sarana edukasi inovasi berkelanjutan yang seringkali dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa, pengusaha hingga perangkat daerah yang ingin belajar dan melakukan penelitian.
Warga menunjukkan selendang dari olahan serat limbah daun nanas saat sesi foto. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Dengan memanfaatkan pengetahuan, teknologi dan digitalisasi, pelaku usaha mampu meraup berkah dari limbah sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan yang menggerakkan roda perekonomian di daerahnya.
Pekerja berpose dengan beberapa produk dari olahan serat daun nanas. Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
Trending Now