Esai Foto: Pesona dan Warisan Kampung Adat dari Papua Barat Daya

19 Oktober 2025 13:56 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Esai Foto: Pesona dan Warisan Kampung Adat dari Papua Barat Daya
Masyarakat Suku Moi di Kampung Malasigi menetapkan hutan Balempe sebagai sumber utama mata pencaharian mereka.
kumparanBISNIS
Suasana halaman depan Kampung Adat Malasigi yang berada di Desa Klayili, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana halaman depan Kampung Adat Malasigi yang berada di Desa Klayili, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
β€œBok Feden Pau Kiwi Malasigi” ucapan sederhana yang memiliki arti Selamat Datang di Malasigi dalam bahasa Moi Kelim, menyambut siapa pun yang menapakkan kakinya di tanah yang kaya akan keindahan di Papua Barat Daya ini.
Sejumlah masyarakat adat berdiri untuk bersiap melakukan Tari Alen, tarian khas untuk menyambut para tamu yang datang ke Kampung Malasigi, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah masyarakat adat berdiri untuk bersiap melakukan Tari Alen, tarian khas untuk menyambut para tamu yang datang ke Kampung Malasigi, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Bagi masyarakat Moi, suku besar yang mendiami Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, ungkapan itu memiliki makna lebih dari sekadar ucapan selamat datang. Ini menjadi simbol kehangatan, penghormatan, dan kebanggaan terhadap tanah warisan leluhur yang senantiasa mereka jaga dengan penuh cinta dan tanggung jawab.
Sejumlah anak-anak suku Moi Kelim berjalan di pintu masuk Kampung Adat Malasigi seusai pulang sekolah. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Pada tahun 2020, masyarakat Suku Moi di Kampung Malasigi menetapkan hutan Balempe sebagai sumber utama mata pencaharian mereka.
Edison Fami, Warga adat Malasigi, Koordinator Pemelihara PLTS dan Pompa Air di Malasigi mengamati burung cendrawasih kuning kecil di hutan Balempe. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Sejak saat itu, mereka berupaya keras memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah agar dapat mengelola hutan tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
Anak-anak Suku Moi bermain bersama mengisi waktu luang selepas pulang sekolah di Kampung Adat Malasigi, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Di tahun 2023, usaha mereka berbuah hasil, pengakuan diterima dan itu menjadi kabar gembira bagi warga yang tinggal di kampung seluas 1.750 hektare tersebut, karena memberi mereka dorongan baru untuk menjaga kelestarian hutan. Kini, masyarakat memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaan kawasan hutan kampung mereka.
Warga suku Moi Josua Fami mengamati burung cendrawasih kuning kecil di hutan Balempe. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Kampung Adat Malasigi yang berada di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya ini merupakan wilayah binaan Pertamina EP Papua Field (PEP Papua), yang sebelumnya berhasil menyabet penghargaan sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Edison Fami, Warga adat Malasigi, Koordinator Pemelihara PLTS dan Pompa Air di Malasigi bersiap untuk mencari lokasi burung cendrawasih kuning kecil di hutan Balempe. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Kampung Malasigi menawarkan pesona alam dengan hamparan hutan alami yang rimbun, menjadi habitat berbagai jenis burung endemik Papua, termasuk Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisea minor).
Burung cenderawasih ekor kuning (Paradisaea Minor) bertengger di ranting pohon di hutan Belempe. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Tak hanya keindahan flora dan fauna, tradisi masyarakat yang selalu ramah dengan para pengunjung juga menambah daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke kampung itu.
Burung cenderawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus) bertengger di ranting pohon di hutan Belempe. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Pengembangan Kampung Malasigi sebagai destinasi wisata terus digencarkan melalui berbagai upaya promosi dan penataan kawasan guna menarik lebih banyak wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Anak-anak Suku Moi berpose untuk difoto selepas pulang sekolah di Kampung Adat Malasigi, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Inisiatif ini mendapat dukungan dari pemerintah, organisasi non-profit, serta perusahaan yang bersama-sama berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Para mama-mama menganyam Tas Noken, tas tradisional khas suku Moi Kelim yang menjadi salah satu sumber pencarian nafkah bagi para perempuan di Kampung Adat Malasigi, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Di tengah gencarnya tekanan dari berbagai investasi yang memanfaatkan lahan, masyarakat adat Kampung Malasigi tetap teguh mempertahankan hutan mereka.
Rumah Moi yang berbentuk rumah panggung dengan luas antara 50-70an meter persegi. Untuk menunjang kebutuhan tamu di Kampung Adat Malasigi, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Bagi mereka, hutan bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga warisan leluhur yang harus dijaga demi keseimbangan kehidupan.
Mama dan Bapak suku Moi Kelim berdiri di antara bangunan yang ada di Kampung Adat Malasigi, Papua Barat Daya. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Trending Now