ESDM Ungkap Pasokan CPO untuk Realisasi Program B50 Aman, Butuh 20 Juta KL

6 Oktober 2025 19:07 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ESDM Ungkap Pasokan CPO untuk Realisasi Program B50 Aman, Butuh 20 Juta KL
Kebutuhan CPO untuk implementasi B50 diperkirakan mencapai 20 juta kiloliter (KL).
kumparanBISNIS
Ilustrasi Biodiesel. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Biodiesel. Foto: Shutterstock
Kementerian ESDM memastikan pasokan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk kebutuhan program biodiesel 50 persen (B50) akan mencukupi. CPO akan digunakan sebagai bahan dasar Fatty Acid Methyl Ester (FAME), komponen utama dalam campuran biodiesel.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan kebutuhan CPO untuk implementasi B50 diperkirakan mencapai 20 juta kiloliter (KL), naik 4 juta KL dari target capaian permintaan biodiesel 40 (B40) tahun ini sebesar 15,6 KL.
"Kalau dari domestik sendiri itu bisa. Karena kan produksi total CPO itu 50-an (juta KL) ya,” kata Eniya dalam acara Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2025, Senin (6/10/2025).
Eniya menambahkan, pemerintah juga tengah berupaya memperkuat produksi CPO nasional. Salah satunya melalui langkah Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang telah menguasai kembali 3,4 juta hektare lahan sawit ilegal dan menyerahkannya kepada PT Agrinas Palma Nusantara.
β€œNanti tambahannya bagaimana kita belum tau,” ujar dia.
Menurut Eniya, saat ini sudah ada perkembangan ekspansi sejumlah pabrik. Sebelumnya terdapat tiga pabrik bioetanol yang tengah dalam proses konstruksi. Untuk merealisasikan program B50, Indonesia setidaknya membutuhkan lima pabrik biodiesel baru dengan kapasitas masing-masing sekitar 1 juta kiloliter (KL).
β€œJadi ekspansi dari pabrik-pabrik sudah mulai, ada 4 perusahaan yang mengajukan ke saya juga untuk ekspansi,” ujarnya.
Meski kebutuhan CPO meningkat, Eniya memastikan program B50 tidak akan mengganggu ekspor CPO. "Nggak ada, karena kan justru ekspor yang jadi acuan. Pungutan ekspornya banyak," jelasnya.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (17/7). Widya/kumparan Foto: Widya Islamiati/kumparan
Eniya mengatakan program B50 akan melewati uji coba dengan tiga skema sesuai arahan Menteri ESDM. Pengujian akan dilakukan pada berbagai jenis kendaraan dan mesin, termasuk kereta, truk, mobil penumpang, kapal, hingga genset milik PLN.
β€œJadi kemarin kalau statisnya sudah selesai, nah ini sekarang proses yang lebih besar lagi, seperti biasa kayak nanti truk juga, terus passenger car juga seperti itu,” ujarnya.
Menurut Eniya, tahap uji coba B50 akan dilakukan dengan pola yang sama seperti saat pemerintah menyiapkan program B30 sebelumnya. Nantinya akan ada uji jalan (road test) untuk memastikan performa dan efisiensi bahan bakar di berbagai jenis kendaraan.
Namun, kali ini prosesnya akan dibuat lebih cepat. Eniya menegaskan, uji coba B50 tidak akan melalui seremoni.
β€œSecepatnya, karena langsung kita suruh gerak aja, jadi nggak pake seremoni-seremonial, lah,” ujarnya.
Reporter: Nur Pangesti
Trending Now