GAPKI Nilai Tarif 0% Sawit ke AS Masih Mungkin, Begini Respons Ekonom

31 Oktober 2025 7:38 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
GAPKI Nilai Tarif 0% Sawit ke AS Masih Mungkin, Begini Respons Ekonom
GAPKI menilai tarif 0% ekspor sawit ke AS masih mungkin jika timbal balik diterapkan. Ekonom CORE: trade-off besar jika negosiasi korbankan sektor lain.
kumparanBISNIS
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono. Foto: Muhammad Darisman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono. Foto: Muhammad Darisman/kumparan
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menilai peluang Indonesia memperoleh kembali tarif 0 persen untuk produk sawit di pasar Amerika Serikat (AS) masih terbuka. Menurutnya, secara historis tarif impor sawit ke Negeri Paman Sam pernah berada di level tersebut.
"Mungkin aja kan sebelumnya memang 0 persen, sebelumnya juga segitu. Kenapa begitu? Satu, kita cukup besar untuk sawit ya, untuk itu 89,9 persen. Yang kedua adalah mereka kan tidak bisa memproduksi minyak sawit, mereka tidak ada pengguna sawit yang tidak bisa kan," ujar Eddy.
Dia menjelaskan, ekspor sawit Indonesia selama ini terus meningkat karena kebutuhan industri pangan di negeri Paman Sam itu. Kondisi itu, menurutnya, menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
"Jadi ya artinya ada kemungkinan karena memang konsumen di sana membutuhkan, dan ini saling menguntungkan kan karena ini satu sisi kan Amerika juga sudah minta beberapa tarif kita kan juga 0% juga kan gitu," lanjutnya.
Untuk mencapai kesepakatan tarif 0 persen, Eddy menilai pemerintah RI perlu menerapkan prinsip timbal balik dalam negosiasi.
"Ya saya rasa harus ini, harus take and give lah, mereka minta juga seperti itu kita harus minta yang sama kan gitu. Supaya balance, imbang kan gitu. Jadi jangan nanti berat sebelah gitu. Itu saya rasa masuk akal, harusnya bisa diperjuangkan untuk menjadi 0 kembali," ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah komoditas yang dapat dijadikan bahan pertukaran dalam negosiasi dagang, seperti penambahan impor kedelai dan pembelian pesawat Boeing seperti yang direncanakan belakangan ini.
"Ya kan kita kan beberapa diminta, seperti kita kan impor kedelai juga gede, kemudian kita mesti beli Boeing kan segala gitu kan, pesawat. Ya ini dari situ lah, saya rasa pemerintah udah sangat tau lah di mana untuk poin-poin, untuk negosiasinya sehingga bisa 0 persen. Itu jadi kita beli, mereka juga beli dengan ini tarifnya juga harus seimbang gitu," kata Eddy.
Sementara itu, Ekonom Bidang Pertanian CORE Indonesia, Eliza Mardian, mengingatkan bahwa upaya memperoleh tarif 0 persen seperti Malaysia bukanlah hal yang sederhana. Ia menilai akan ada konsekuensi atau trade-off besar yang perlu diperhitungkan.
"Untuk 0 persen kaya Malaysia, pasti ada sesuatu yang akan jadi timbal baliknya, ketika bernegosiasi dengan AS ini pasti nggak akan gratis dan akan ada serangkaian trade-off (pengorbanan). tarif resiprokal dari 32 ke 19 persen aja itu banyak hal yang kita korbankan, komitmen pembelian yang nilainya besar,โ€ kata Eliza.
Pekerja menata tandan buah kelapa sawit ke atas truk di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (31/1/2024) Foto: ANTARA FOTO/Fransisco Carolio
Eliza menilai lebih baik pemerintah memaksimalkan pasar potensial lainnya ketimbang memaksa menurunkan tarif di AS yang pangsa pasarnya relatif kecil.
"Lebih baik mengoptimalkan market potensial aja, jangan memaksa ingin dapat tarif 0 persen di pasar AS yang masih amat sangat kecil. Kita tidak mesti sama seperti Malaysia, kita sendiri harus menentukan ke mana arah pengembangan sawit nasional jadi strateginya disesuaikan dengan kondisi," katanya.
Ia melanjutkan, jika pemerintah tetap ingin mengejar tarif 0 persen, negosiasi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merugikan sektor lain.
"Ini perlu ditinjau dulu kesepakatannya jangan sampai terlalu banyak merugikan dalam negeri, meski secara nggak langsung ini dapat meningkatkan ekspor tapi trade off nya akan menyasar ke sektor non sawit. Jadi tim delegasi harus strategis dan cerdas dalam bernegosiasi, harus berbasis data empiris di lapangan dan komprehensif analisanya," terang Eliza.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia akan memulai negosiasi tarif impor dengan AS pada November 2025, usai pertemuan APEC. Pemerintah menargetkan sejumlah komoditas strategis, termasuk sawit, kakao, dan karet, bisa mendapat tarif nol persen.
"(Berharap tarif) Nol persen hampir sama dengan yang didapatkan oleh Malaysia. Jadi kita sudah, sudah kita bicarakan untuk produk-produk yang Amerika tidak bisa produksi, seperti kelapa sawit, kakao, rubber, itu seluruhnya diberikan nol," ujar Airlangga di Istana Negara Jakarta.
Trending Now