Hijaukan Bekas Lahan Tambang Jadi Rumah Tarsius hingga Elang

3 September 2025 15:31 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hijaukan Bekas Lahan Tambang Jadi Rumah Tarsius hingga Elang
Rumah alam untuk tarsius hingga elang itu dibangun PT Timah di Kampung Reklamasi Air Jangkang, sebuah lahan tambang yang berhasil dihijaukan.
kumparanBISNIS
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi bekerja sama dengan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) di Kabupaten Bangka. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi bekerja sama dengan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) di Kabupaten Bangka. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Sekitar 20 menit perjalanan darat dari pusat kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, terhampar sebuah lahan bekas tambang timah yang berhasil disulap menjadi kawasan yang sangat hijau.
Semilir angin lembut menyambut para pengunjung ketika menginjakkan kaki di tengah hamparan pepohonan yang rapat. Kawasan ini menjadi rumah bagi aneka flora dan fauna, endemik hingga yang terancam punah.
Destinasi ini diberi nama Kampung Reklamasi Air Jangkang. Pada Rabu (20/8), kumparan berkesempatan mengunjungi hasil reklamasi tambang milik PT Timah (Persero) Tbk (TINS) tersebut.
Salah satu bagian reklamasi ini merupakan lahan konservasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS), yang didirikan sebuah non government organization (NGO), Alobi Foundation, sejak 2005.
Sejak awal memasuki kawasan reklamasi ini, suara kakatua terdengar nyaring bersahut-sahutan. Berbagai jenis elang, monyet, hingga rusa juga turut memecah keheningan.
Berbeda dengan satwa-satwa tersebut, terlihat sebuah musang yang terancam punah merangkak diam-diam di dalam kandangnya. Warga lokal biasa menyebutnya binturong. Hewan berbulu hitam ini ada yang berukuran kecil, namun ada juga yang cukup besar.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi bekerja sama dengan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) di Kabupaten Bangka. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Tidak jauh dari kandang binturong, terdapat sebuah kandang yang jika dilihat sekilas, tidak ada apa pun di dalamnya. Sebab, hewan yang ada di sana berukuran kecil dan sangat pendiam, yakni tarsius. Primata terkecil di dunia ini juga berstatus terancam punah.
Sebelum direklamasi, kawasan ini merupakan lahan bekas tambang dengan tailing, rawa-rawa, void atau lubang bekas tambang, dan vegetasi dengan topografi lahan yang belum stabil.
Manager Lembaga Konservasi PPS Alobi, Endi Riyadi Yusuf, mengatakan dari sekitar 5 PPS yang masih aktif di Indonesia, PPS Alobi merupakan satu-satunya yang dibangun di atas lahan bekas tambang di Indonesia.
Fakta ini sekaligus menandakan bahwa PT Timah menjadi satu-satunya perusahaan pertambangan yang membangun lahan konservasi satwa di lahan reklamasinya.
"Ini eks tambang, satu-satunya. Makanya pola ini, yang punya izin PPS itu satu-satunya PT Timah dengan NGO Alobi," ungkapnya.
Pertambangan Ilegal dan Besarnya Konflik Manusia vs Buaya
Endi mengatakan, setidaknya terdapat 120 satwa yang saat ini tengah direhabilitasi di PPS Alobi. Selain primata, burung, dan rusa, PPS ini juga merehabilitasi buaya muara alias porosus.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi daerah dengan konflik buaya dan manusia terbesar ketiga di Indonesia, setelah Riau dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Endi mengungkapkan alasannya adalah aktivitas pertambangan ilegal yang masif.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi bekerja sama dengan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) di Kabupaten Bangka. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
"Satu-satunya penyebab konflik yang terjadi itu tinggi karena pertambangan ilegal. Seluruh habitat buaya itu rusak, dihajar sama pertambangan ilegal," ungkap Endi.
Tak tanggung-tanggung, jumlah korban akibat konflik buaya dan manusia bisa mencapai 1 korban setiap bulannya. Endi menyebutkan, jumlah ini bisa lebih banyak karena tidak ada laporan kepada pihak Alobi.
"Tahun 2025 ini saja itu yang meninggal sudah 7 orang karena diserang buaya. Jadi hitungannya adalah satu bulan itu satu orang meninggal, yang luka-luka itu sudah banyak," katanya.
Endi enggan menyalahkan ganasnya buaya atas kematian tersebut. Menurutnya, buaya akan menjadi beringas jika habitatnya rusak dan sumber makanannya hilang.
Ketika ekosistemnya rusak, kata dia, buaya akan lari mencari sungai lain yang menjadi lokasi aktivitas masyarakat setempat. Bahkan, para buaya muara di Bangka bisa saja masuk ke laut, sebuah anomali yang jarang terjadi di tempat lain.
"Buaya selalu dijadikan kambing hitam masyarakat. Ditangkap, dibunuh. Padahal secaranya penyebab kenapa tingginya angka konfliknya, karena mereka juga yang merusak habitat buayanya," ucap Endi.
Sejumlah kapal ponton isap melakukan penambangan biji timah ilegal di perairan Teluk Kelabat Dalam, Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (26/1/2025). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
Setelah masuk penangkaran dan direhabilitasi, Endi mengatakan buaya-buaya tersebut akan dilepaskan kembali. Berbeda dengan penangkaran lain yang kerap mengkomersialisasikan buaya untuk diambil daging maupun kulitnya.
Peran PT Timah di Kampung Reklamasi Air Jangkang
Endi menuturkan, PPS Alobi menjalin kerja sama dengan PT Timah sejak tahun 2018. Perusahaan berperan besar bagi berjalannya seluruh program dan operasional PPS Alobi.
"PT Timah itu berkolaborasi dengan kami untuk menjalankan semua program di PPS, untuk gaji karyawan, operasional per bulan, terus penyediaan fasilitas yang ada, fasilitas penunjang seperti kandang," tuturnya.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi bekerja sama dengan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) di Kabupaten Bangka. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Adapun Kampung Reklamasi Air Jangkang seluas 37 hektare ini dikembangkan berdasarkan konsep yang terintegrasi di sektor pertanian, peternakan, pertumbuhan, perikanan, pendidikan, penelitian, dan pariwisata.
Selain PPS, salah satu sarana pendukung kegiatan reklamasi PT Timah di Air Jangkang adalah nursery atau persemaian. Lebih dari 30 ribu bibit tanaman bersifat lokal dan budidaya dikembangkan kawasan ini.
Selain nursery, di area ini juga dikembangkan peternakan sapi, kuda, kambing, bebek, dan ayam, serta budidaya perikanan darat seperti nila, lele, dan patin.
Melihat banyaknya burung berterbangan di kawasan ini, PT Timah akhirnya membuat PPS yang bertujuan untuk menyelamatkan satwa dari penyelundupan dan kepunahan. Saat ini, terdapat 26 jenis burung dengan 4 jenis berstatus spesies dilindungi, yaitu elang bondol, elang laut, elang ular bido, dan elang brontok. Di tempat ini juga terdapat buaya, rusa, beruang, owa jawa, dan satwa liar lainnya.
PT Timah tidak bekerja sendiri, tapi melibatkan masyarakat sekitar. Ada sebanyak 23 tenaga ahli yang diperbantukan untuk pengelolaan peternakan, pendidikan, sarana dan prasarana, sampai pengelolaan PPS.
Komitmen TJSL Grup MIND ID
Division Head of Corporate Social Responsibility MIND ID, Satya Nugraha, menyebutkan bahwa Grup MIND ID konsisten menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dengan pilar utama meliputi 3 Bidang Prioritas Pendidikan, Lingkungan, Pengembangan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) serta Kegiatan Sosial.
Program yang dijalankan merupakan bagian dari strategi perusahaan, sekaligus upaya menghadirkan manfaat sektor pertambangan secara langsung bagi rakyat Indonesia.
β€œBagi MIND ID, program sosial bukan sekadar upaya memperoleh kepercayaan masyarakat, tetapi langkah nyata untuk membangun bersama masyarakat dari daerah,” ujar Satya dalam kegiatan Sosialisasi MediaMIND 2025 di Gedung Graha Timah, Pangkalpinang.
Sosialisasi MediaMIND 2025 di Gedung Graha Timah, Pangkalpinang, Selasa (26/8/2025). Foto: MIND ID
Di bidang lingkungan, MIND ID konsisten menggandeng masyarakat dalam upaya pemulihan hutan hingga ekosistem pantai. Sepanjang 2024, perusahaan membangun pembibitan satu juta bibit tanaman, menanam 42 ribu pohon mangrove, serta menyediakan akses air bersih dan sanitasi layak bagi 177 rumah tangga.
"Upaya ini diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah operasional," imbuh Satya.
Department Head Corporate Communication PT Timah, Anggi Siahaan, menyampaikan perusahaan berupaya memastikan untuk memberi dampak yang maksimal dalam setiap program tanggung jawab sosialnya.
Dengan menggandeng komunitas masyarakat sekitar daerah operasional, PT Timah memastikan program tanggung jawab sosial sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat dan dijalankan secara berkelanjutan.
β€œSecara historis kegiatan tanggung jawab sosial sudah dijalankan sejak lama dan kami terus komitmen untuk menjalankan kegiatan ini agar lebih banyak lagi manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Trending Now