Hilirisasi Industri Kesehatan Bisa Kurangi Impor Bahan Baku Farmasi
9 Desember 2025 12:46 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Hilirisasi Industri Kesehatan Bisa Kurangi Impor Bahan Baku Farmasi
Saat ini, 85 persen bahan baku farmasi masih bergantung impor, namun berkat hilirisasi, 95 persen obat sudah diproduksi dalam negeri.kumparanBISNIS

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat 85 persen bahan baku farmasi di Indonesia masih bergantung impor. Namun demikian, 95 persen produk obat sudah diproduksi di dalam negeri berkat hilirisasi industri kesehatan.
โSaat ini bahan baku farmasi kita masih sekitar 85 persen impor, terutama dari India dan China. Tapi 95 persen produk obat jadi sudah diproduksi di dalam negeri. Kita hanya bisa mematahkan dominasi India dan China kalau mampu mengembangkan bahan baku dari kekayaan alam kita sendiri,โ ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Selasa (9/12).
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan bahan baku obat dari sumber daya alam lokal, seperti tanaman obat dan minyak atsiri yang tersebar di berbagai daerah. Potensi tersebut mampu memperkuat struktur industri farmasi nasional, sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada bahan baku impor, tapi juga mampu memenuhi kebutuhan domestik dari produksi sendiri.
โKita sudah punya contoh, misalnya bahan aktif berbasis tanaman obat, seperti meniran, yang sudah diekspor ke Inggris. Itu artinya industri kita sudah bisa memenuhi standar yang tinggi, karena Inggris itu salah satu negara dengan regulasi obat yang paling ketat," jelasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menambahkan bahwa hilirisasi industri kesehatan menjadi strategi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, melainkan juga produsen obat, vaksin, dan alat kesehatan.
Menurutnya, transformasi sistem kesehatan yang kini berlangsung membawa Indonesia menuju model yang proaktif, preventif, dan berbasis teknologi, di mana inovasi dari industri memainkan peran strategis.
โKita memiliki dua dekade untuk memastikan mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berdaya saing global,โ tuturnya.
Salah satu pelaku industri farmasi nasional, Dexa Group, menilai hilirisasi sektor kesehatan perlu dilakukan untuk meningkatkan farmasi di Indonesia.
Dexa Group melakukan penelitian Obat Modern Alami Integratif (OMAI) dengan memanfaatkan teknologi seperti Tandem Chemistry Expression Bioassay System, yang dilakukan oleh para saintis di Dexa Laboratories Biomolecular Sciences (DLBS), serta menjalankan uji praklinis dan uji klinis di banyak kota di Indonesia.
Business Development and Scientific Affairs Director Dexa Medica, Raymond Tjandrawinata, menegaskan pentingnya disiplin ilmiah dalam seluruh proses.
โSetiap temuan OMAI harus melewati standar ilmiah tertinggi karena keamanan dan efektivitas tidak boleh dinegosiasikan,โ tegasnya.
Filosofi ini menjadi landasan mengapa OMAI Dexa Group diterima dalam pedoman klinis nasional.Hasil penelitian tersebut kini terlihat nyata pada produk-produk fitofarmaka seperti DLBS1033 (DISOLF) yang masuk Pedoman Stroke PERDOSNI 2025, terbukti membantu perbaikan fungsi neurologis pada pasien stroke iskemik dengan efek samping minimal.
Produk Inlacin juga mendapat rekomendasi kuat dalam tata laksana PCOS resistensi insulin serta membantu mengontrol glikemik pada prediabetes dan diabetes tipe 2. Inovasi OMAI lainnya, termasuk agen gastroprotektor triple-action dan hepatoprotektor baru, mengukuhkan posisi Dexa sebagai kekuatan ilmiah dalam pengembangan terapi modern berbahan alam.
Dalam momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, Dexa Medica meraih Penghargaan Karya Anak Bangsa dari Kementerian Kesehatan RI sebagai Industri Farmasi dengan Uji Klinis Obat Bahan Alam Terbanyak di Indonesia.
Direktur Utama PT Dexa Medica V. Hery Sutanto, menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan pengakuan atas komitmen panjang industri nasional dalam mengembangkan obat berbasis kekayaan alam Indonesia sekaligus mengantarkan Dexa meraih penghargaan yang mempertegas peran Dexa dalam meningkatkan ketersediaan obat terjangkau bagi masyarakat.
โPenghargaan ini bukan hanya pengakuan atas kerja keras kami, tetapi bukti bahwa inovasi karya anak bangsa dapat memenuhi standar ilmiah global dan memberi manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,โ ujarnya.
Hingga kuartal III 2025, kinerja sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional terus mencatatkan pertumbuhan yang solid. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini tumbuh 11,65 persen (year on year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen.
Nilai investasi di sektor tersebut mencapai Rp 65,9 triliun, dengan nilai ekspor sebesar USD 15,22 miliar. Kontribusinya turut memperkuat kinerja industri manufaktur nasional yang menyumbang 17,39 persen terhadap PDB, serta menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
