Hilirisasi Pasir Silika RI Semakin Dilirik, Malaysia Minta Akses Solar PV
17 September 2025 14:05 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Hilirisasi Pasir Silika RI Semakin Dilirik, Malaysia Minta Akses Solar PV
Airlangga menyebut hilirisasi pasir silika Indonesia semkain digemari negara lain, seperti Malaysia dan Singapura. kumparanBISNIS

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan masa depan hilirisasi pasir silika Indonesia yang mulai dilirik oleh negara tetangga, Malaysia.
Sebelumnya, Singapura juga melirik Solar Photovoltaic (PV) Indonesia yang merupakan hasil hilirisasi pasir silika. Airlangga mengatakan, pemerintah menyiapkan tempat untuk memproduksi Solar PV di Batam.
โKemudian di situ (Batam) sedang disiapkan photovoltaic yang selain digunakan di dalam negeri juga bisa di ekspor ke negara lain termasuk Singapura dan Malaysia. Malaysia juga sudah bicara untuk bisa memperoleh akses daripada fotovoltaik tersebut,โ tutur Airlangga dalam gelaran kumparan Green Initiative Conference, Rabu (17/9).
Airlangga juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang perlu didorong oleh energi hijau dan sektor digital. โSektor digital salah satu yang hungry power adalah data center. Dan pemerintah mendorong data center di kawasan ekonomi khusus di Batam, lokasinya semua sudah sold out,โ katanya.
Lebih lanjut Airlangga juga menjelaskan pentingnya pengembangan energi berbasis fotovoltaik. Menurut dia fotovoltaik saat ini dipandang penting sebab menjadi bagian dari hilirisasi pasir silika.
โJadi hilirisasi silika itu juga bisa membuat ada dua jalur, satu jalur dari silika sampai floating glass, fotovoltaik untuk solar panel dan ini akan dibutuhkan di Indonesia. Kemudian jalur yang kedua dari silika itu dibuat smelter, kemudian dibuat wafer (yang) juga menjadi fotovoltaik sel tetapi bisa juga menjadi semikonduktor,โ jelasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan Presiden Prabowo Subianto saat ini meminta agar 80 ribu desa bisa dialiri melalui fotovoltaik. Tujuannya untuk mempercepat karbon netral kita.
โSekarang sedang dikaji berapa persen yang di daerah urban, kemudian berapa persen nanti yang skala besar dengan baterai. Dan ini proyeknya dalam 3-4 tahun ke depan. Nah kalau ini bisa kita lakukan dalam 3-4 tahun ke depan maka kita bisa menciptakan ekosistem,โ tutupnya.
