Indonesia Buka Peluang Ekspor Tekstil hingga Furnitur ke Uganda
10 Juli 2025 19:33 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Indonesia Buka Peluang Ekspor Tekstil hingga Furnitur ke Uganda
Ekspor furnitur Indonesia selama ini paling banyak ke Eropa dan AS. Kini buka peluang ke Uganda. kumparanBISNIS

Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag) Dyah Roro Esty mengatakan Indonesia akan terus menggali sektor-sektor potensial yang dibutuhkan oleh pasar Uganda untuk mendorong keberlanjutan kerja sama perdagangan antara kedua negara.
βKami sangat ingin mengetahui seperti apa yang sedang diminati oleh pasar Uganda. Mungkin tekstil atau mungkin lebih ke seni dan kerajinan lokal, atau bahkan mungkin furnitur,β ujar Roro dalam acara Uganda-Indonesia Business Forum 2025 di Jakarta Pusat, Kamis (10/7).
Furnitur menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia, yang selama ini sudah banyak dikirim ke kawasan Eropa dan Amerika.
Dalam kesempatan yang sama, Roro juga menekankan kontribusi besar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional. Menurutnya, sektor UMKM menyerap hingga 97 persen tenaga kerja dan menyumbang 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
βUMKM juga menyumbang 15,7 persen terhadap ekspor nasional dan berperan dalam mendukung target pertumbuhan ekspor sebesar 9 persen dalam lima tahun ke depan,β jelas Roro.
Indonesia tengah mendorong UMKM untuk lebih dikenal di kancah internasional, seiring dengan upaya perluasan pasar ekspor yang didukung oleh berbagai perjanjian dagang yang sedang dirumuskan bersama sejumlah negara.
βDan (ekspor serta UMKM) adalah sesuatu yang selalu ingin kami (Indonesia) tingkatkan juga,β sebut Roro.
Nilai perdagangan Indonesia dan Uganda hanya USD 8,93 juta sepanjang 2020 dan melonjak menjadi USD 55,35 juta pada 2024. Kemudian dalam empat bulan pertama tahun ini, nilai perdagangannya mencapai USD 52,8 juta.
Untuk saat ini, nilai ekspor Indonesia ke Uganda masih kecil, hanya USD 8,4 juta. Adapun untuk ekspor Indonesia ke Uganda rinciannya adalah ekspor baja tahan karat senilai USD 5,8 juta, minyak nabati USD 1,88 juta, dan produk kaca sebesar USD 274 ribu.
βDari data tersebut terlihat masih banyak ruang bagi kita untuk memperluas dan meningkatkan perdagangan ke depannya,β jelasnya.
