Indonesia Siap Jadi Pusat Pengembangan Industri Obat Herbal Dunia
22 Oktober 2025 19:03 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Indonesia Siap Jadi Pusat Pengembangan Industri Obat Herbal Dunia
Indonesia bekerja sama dengan WHO dan negara lainnya untuk menjadi sentral pengembangan obat berbasis biodiversitas. kumparanBISNIS

Apalagi, Indonesia menjadi tuan rumah The 16th Annual Meeting of the World Health Organization β International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (WHO IRCH) yang dihadiri 58 peserta dari 24 negara. Dalam forum bergengsi tersebut, Indonesia menegaskan peran sentralnya dalam memperkuat kerja sama global di bidang regulasi dan pengawasan obat herbal.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengatakan bahwa pemerintah akan mempercepat kemandirian farmasi nasional dengan obat bahan alam atau fitofarmaka.
βBPOM berperan menyediakan regulasi dan pedoman agar setiap produk memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu. Kami juga terus mendorong integrasi obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional,β ujar Taruna dalam keterangannya, Rabu (22/10).
Dia menilai, The 16th WHO-IRCH Annual Meeting merupakan momentum penting bagi Indonesia untuk memperkenalkan potensi jamu dan obat herbal di mata dunia. "Kolaborasi antara BPOM, WHO, dan industri farmasi merupakan langkah konkret dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan obat berbasis biodiversitas dunia," jelasnya.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, memiliki lebih dari 30.000 jenis tumbuhan dan sekitar 9.600 di antaranya diketahui memiliki khasiat obat. Namun, dari lebih dari 18.000 produk jamu dan obat herbal yang terdaftar di BPOM, hanya 71 yang berstatus Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 20 yang sudah menjadi fitofarmaka.
Taruna menilai, angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk riset dan pengembangan industri obat bahan alam di Tanah Air. βKita memiliki potensi luar biasa, tinggal bagaimana mengoptimalkan kolaborasi riset, investasi industri, dan regulasi agar potensi ini memberi manfaat ekonomi dan kesehatan yang nyata bagi masyarakat,β katanya.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sektor kosmetik dan obat tradisional memiliki posisi strategis dalam peta industri manufaktur nasional, baik dari sisi jumlah pelaku usaha maupun nilai pasar.
Sepanjang tahun 2024, ekspor produk kosmetik Indonesia tercatat mencapai USD 410,7 juta, dengan negara tujuan ekspor utama yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand. Di sisi lain, industri obat tradisional menunjukkan performa ekspor yang menjanjikan. Sepanjang tahun 2024, nilai ekspornya mencapai USD 6,9 juta dengan pasar utama di Taiwan, Malaysia, dan Filipina.
Secara struktural sektor ini didominasi oleh pelaku industri yang masih berskala kecil dan menengah. Berdasarkan data tahun 2024, terdapat 1.292 industri kosmetik di Indonesia dan 89 persennya merupakan IKM. Sementara dari 1.043 industri obat tradisional, 86 persen juga didominasi oleh IKM.
βLebih dari 80 persen pelaku usaha di kedua sektor ini adalah IKM. Ini membuktikan bahwa IKM tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi juga motor inovasi industri berbasis budaya dan kearifan lokal,β ucap Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita.
