Industri Alat Berat RI Merosot karena China, Dua Proyek Ini Bisa Jadi Penopang

25 November 2025 19:31 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Industri Alat Berat RI Merosot karena China, Dua Proyek Ini Bisa Jadi Penopang
Industri alat berat Indonesia tertekan tahun ini karena kebijakan batu bara China.
kumparanBISNIS
Pekerja mengoperasikan alat berat saat bongkar muat batu bara ke dalam truk di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN), Marunda, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengoperasikan alat berat saat bongkar muat batu bara ke dalam truk di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN), Marunda, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
Kinerja bisnis alat berat nasional hingga semester I 2025 menunjukkan kinerja yang merosot. Ketua IV Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI), Immawan Priyambudi, menjelaskan pertumbuhan pasar alat berat dari Januari hingga Juni 2025 mencapai sekitar 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, memasuki Juli hingga saat ini, pasar mulai melemah.
Immawan menilai penurunan ini dipengaruhi koreksi harga batu bara dan masuknya produk asal China yang semakin agresif, sehingga menyebabkan beberapa proyek besar tertunda dan permintaan alat berat melambat.
β€œTetapi begitu masuk ke bulan Juli ke sini memang terjadi sedikit penurunan, karena juga kita tahu ada komoditas coal (batu bara) yang juga masih mengikuti ya, dan ini juga sangat berpengaruh dan kemudian juga agresivitas dari teman-teman di China Trade,” kata Immawan dalam gelaran Bincang PERSpektif Trakindo 2025 di Jakarta Selatan, Selasa (25/11).
Immawan mencatat, hingga akhir 2025, pihaknya memproyeksikan total kebutuhan industri berada di kisaran 23.000 unit, terbagi pada lebih dari 10 merek yang beroperasi di Indonesia saat ini.
Untuk 2026, Immawan memproyeksikan pasar alat berat masih akan berada dalam tekanan secara umum. Namun, ia menilai peluang pertumbuhan tetap ada, terutama berkat sejumlah proyek pemerintah seperti tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) dan program lumbung pangan (food estate).
Acara Bincang PERSpektif Trakindo 2025 di Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2025). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
β€œTapi kita melihat at least ada sedikit optimisme di sana karena proyek-proyek strategic pemerintah saat ini termasuk Giant (Sea) Wall ya, itu termasuk juga food estate dan kemudian juga dari sisi pembangunan tol dan segala macam itu masih menjadi opportunity yang cukup besar buat kita,” tutur Immawan.
Ia memproyeksikan, secara umum industri alat berat pada tahun 2026 akan berada dalam kondisi berpotensi membukukan pertumbuhan 5 hingga 10 persen, seiring perbaikan aktivitas proyek pemerintah. β€œ2025, in overall turun 5 persen total ya. Tahun depan hanya tumbuh 5-10 persen dari kontraksi ini,” lanjut Immawan.

Efisiensi Lewat Opsi Pembelian Alat Bekas dan Rental

PT Trakindo Utama menyatakan masih terdapat peluang strategi bisnis dan investasi di tengah efisiensi pemerintah hingga pasar komoditas yang saat ini masih melemah. General Manager Rental & Used Equipment Trakindo, Rozy Andrianto, menjelaskan biaya investasi alat berat sangat besar sehingga perusahaan harus mempertimbangkan jangka waktu penggunaan alat dan tingkat utilisasinya.
Menurutnya, pembelian alat baru hanya efektif apabila digunakan dalam jangka panjang dengan tingkat penggunaan tinggi. Sementara itu, rental lebih sesuai untuk kebutuhan jangka pendek dengan utilisasi rendah dan kebutuhan fleksibilitas tinggi.
Operator mengoperasikan alat berat bekerja di terminal batubara Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, Rabu (9/1). Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
β€œKata kunci adalah (industri) butuh flexibility juga. Jadi karena ada kebutuhan fleksibilitas yang lebih tinggi, rental barang bekas saja. Jadi utilisasinya rendah aja, dibutuhkannya sekali-sekali aja, tapi barangnya bisa nongkrong di proyek lama,” kata Rozy dalam kesempatan yang sama.
Namun untuk alat-alat yang membutuhkan reliabilitas tinggi, ia mencontohkan pembelian alat baru tetap harus dilakukan. β€œSalah satu yang penting sebenarnya ambil Dua alternatif itu secara rerata. Nah itulah fleksibilitas tinggi akan lebih didapat,” tutur Rozy.
Rozy menekankan, bahwa perusahaan umumnya memilih strategi kombinasi untuk membeli alat baru, menggunakan unit bekas, dan menyewa alat untuk memastikan fleksibilitas dan efisiensi sesuai kebutuhan operasional masing-masing.
β€œBeli baru, beli rental juga. Sehingga ada kapasitas minimum yang bisa dipenuhi oleh perusahaan dengan capex-nya sendiri, kemudian untuk mengambil proyek-proyek yang jangka pendek, ambil rental,” ucap Rozy.
Trending Now