Inovasi Pertamina di 1 Tahun Prabowo-Gibran: B40 hingga Bioavtur dari Jelantah
20 Oktober 2025 19:33 WIB
·
waktu baca 6 menit
Inovasi Pertamina di 1 Tahun Prabowo-Gibran: B40 hingga Bioavtur dari Jelantah
Pemerintahan Prabowo-Gibran sudah berjalan setahun. Selama itu, Pertamina melakukan berbagai inovasi.kumparanBISNIS

Pada awal 2025, pemerintah sudah meluncurkan program untuk menurunkan emisi gas rumah kaca pada sektor energi. Mandatori campuran Crude Palm Oil (CPO) dalam Bahan Bakar MInyak (BBM) solar alias biodiesel resmi meningkat menjadi 40 persen (B40). Selain itu, pemerintah juga mendukung pengembangan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
“Di sektor penerbangan Pertamina sudah ada biofuel yang disebut SAF. Selain itu program B40 sudah berjalan dengan baik per hari ini (14/2) program mandatory B40 sudah tersalurkan sekitar 12 juta kilo liter. Kami sangat mengapresiasi implementasi biofuel yang telah dilakukan Pertamina," kata Eniya.
Menyusul mandatori biodiesel, pemerintah juga mencanangkan mandatori bioavtur pada tahun 2026 dengan campuran 3 persen. Eniya menjelaskan, peta jalan bioavtur sebelumnya mencanangkan mandatory campuran 1 persen dimulai pada tahun 2027.
"Tetapi saat ini kita berhitung dengan Pertamina, bahwa bioavtur bisa dipercepat dengan 3 persen dan bisa dimandatorikan di tahun 2026," ungkap Eniya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR, Februari 2025.
Produksi Bioavtur
Pertamina memang sudah berhasil mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bioavtur, mulai dari campuran minyak kelapa sawit hingga inisiatif terbaru menggunakan minyak jelantah (used cooking oil/UCO).
Melalui Refinery Unit (RU) IV atau Kilang Cilacap, Pertamina sudah memproduksi SAF berbahan baku minyak inti sawit pada tahun 2022. Kemudian, kilang mulai merambah kepada SAF berbahan baku minyak jelantah mulai tahun 2025 dengan campuran 2,5 persen.
"PT KPI RU IV Cilacap berhasil mengolah SAF kandungan UCO, yang ini relatif sudah beyond expectation dengan campuran bisa mencapai 2,5 persen," kata General Manager Kilang Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo kepada media di Kilang Cilacap, dikutip Minggu (19/10).
Produk tersebut bahkan sudah dikomersialisasikan melalui PT Pertamina Patra Niaga pada pertengahan Agustus 2025 lalu, dan digunakan dalam penerbangan armada PT Pelita Air Service rute Jakarta-Denpasar.
Proses produksi dilakukan dengan teknologi Co-Processing UCO, yaitu menggunakan Katalis Merah Putih yang merupakan hasil formulasi dan produksi dalam negeri. Produk ini telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091, menjadi produk SAF pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang bersertifikat resmi.
Rencananya, produksi SAF akan direplikasi di RU II Kilang Dumai dan RU VI Kilang Balongan. Saat ini, SAF diproduksi di unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) Kilang Cilacap dengan kapasitas 9.000 barel per hari. Nantinya, baik kilang RU VI Balongan dan kilang RU II Dumai, ditargetkan memiliki kapasitas produksi masing-masing 8.000 barel per hari.
SAF memang menjadi salah satu solusi energi ramah lingkungan yang menjadi masa depan sektor penerbangan. Airbus Indonesia menyatakan dukungannya terhadap upaya Pertamina dalam mempercepat pengembangan SAF di Tanah Air. Ridlo Akbar, Senior Manager Business Growth Airbus Indonesia, menegaskan, SAF merupakan solusi paling realistis untuk mendukung dekarbonisasi industri aviasi.
“Sebagai drop-in fuel, SAF dapat digunakan langsung tanpa perlu modifikasi pesawat atau infrastruktur bandara. Secara teknis, SAF mampu menurunkan emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil, menjadikannya langkah signifikan menuju penerbangan rendah emisi,” jelas Ridlo.
Ridlo juga menambahkan bahwa seluruh pesawat Airbus mampu terbang dengan penggunaan SAF hingga 50% campuran dan menargetkan mampu terbang menggunakan 100% SAF pada tahun 2030.
“Kami percaya dengan kolaborasi erat antara produsen bahan bakar, produsen pesawat, regulator & pembuat kebijakan, serta operator maskapai, SAF dapat menjadi standar baru penerbangan global,” ujarnya.
Pengembangan B40
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menetapkan alokasi biodiesel untuk B40 pada tahun ini sebanyak 15,6 juta kiloliter (KL). Implementasi program ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 341.K/EK.01/MEM.E/2024.
"Kita sudah memutuskan dari Kementerian ESDM tentang peningkatan dari B35 ke B40. Hari ini kita umumkan bahwa berlaku per 1 Januari 2025," kata Bahlil saat konferensi pers, Jumat (3/1).
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), sebagai Subholding Refining & Petrochemical, menjalankan mandatori pemerintah untuk program B40 sebagai bahan bakar nabati (BBN) guna mendukung swasembada energi.
Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional Taufik Aditiyawarman menyebut bahwa, kesiapan kilang dalam memproduksi B40 sebagai bentuk komitmen KPI untuk penyediaan energi yang lebih baik dari aspek lingkungan, aspek ekonomi, aspek sosial dan juga aspek keberlanjutan.
“Produksi Biosolar B40 ini tentunya juga akan menjadi kontribusi KPI dalam pencapaian Net Zero Emision di tahun 2060 atau lebih cepat, mendukung Sustainable Development Goals dalam menjamin akses energi yang terjangkau serta pada penerapan ESG,” ujar Taufik.
B40 merupakan campuran bahan bakar nabati berbasis CPO atau sawit, yaitu Fatty Acid Methyl Esters (FAME) sebanyak 40 persen dan porsi BBM jenis solar sebesar 60 persen.
Produk B40 sementara ini diproduksi di Kilang Plaju Sumatera Selatan dan Kilang Kasim Papua Barat Daya. Produksi B40 dari Kilang Plaju ditargetkan sebesar 119.240 KL per bulan, sementara untuk Kilang Kasim sebanyak 15.898 KL per bulan.
Adapun produksi Biosolar diimplementasikan sejak program Biosolar B20 pada Januari 2019 lalu, yang terus ditingkatkan komposisinya secara bertahap menjadi B30 pada 2019, meningkat lagi menjadi B35 pada 2023, hingga saat ini menjadi B40 pada awal 2025.
Peneliti INDEF, Abra Talattov, menilai langkah pemerintah dan Pertamina untuk memperluas pemanfaatan energi hijau seperti B40 hingga bioavtur merupakan arah kebijakan yang tepat dalam mendorong swasembada energi sekaligus menekan emisi karbon.
“Sebenarnya baik B40 maupun bioavtur semangatnya sudah bagus. Keduanya menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengikuti tren global penggunaan energi bersih,” ujar Abra kepada kumparan.
Menurutnya, bioavtur dari minyak jelantah menjadi salah satu terobosan penting yang perlu terus dioptimalkan produksinya. Selain memperluas bauran energi hijau di sektor transportasi udara, langkah ini juga mampu memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi berkelanjutan dunia.
“Kita sudah mulai mengikuti praktik global di mana beberapa negara mewajibkan penggunaan bioavtur. Ini langkah baik untuk mengurangi emisi dari sektor aviasi sekaligus menunjukkan kemampuan industri dalam negeri memproduksi bahan bakar ramah lingkungan,” jelasnya.
Abra menambahkan, arah kebijakan energi ke depan seharusnya tidak hanya berfokus pada pengembangan produk baru, tetapi juga memastikan seluruh proses produksi dan distribusinya efisien dan transparan.
“Kata kuncinya efisiensi. Jangan sampai inovasi justru menambah biaya produksi. Jadi, selain menghasilkan produk energi yang inovatif, badan usaha juga harus menjaga agar prosesnya efisien dan berkelanjutan,” kata dia.
