Inpex Bakal Ekspor LNG Blok Masela ke China hingga Korea Selatan
28 Agustus 2025 18:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Inpex Bakal Ekspor LNG Blok Masela ke China hingga Korea Selatan
Permintaan LNG dari Blok Masela di dalam negeri relatif terbatas, sehingga akan diekspor ke China, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. kumparanBISNIS

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan setelah dipetakan, permintaan LNG di dalam negeri cenderung terbatas, sehingga produksi LNG dari Blok Masela akan diekspor.
Permintaan LNG dari Blok Masela di dalam negeri, kata Yuliot, meliputi pupuk, industri, dan pembangkit PT PLN (Persero).
"Kalau di dalam negeri off taker-nya juga relatif terbatas ya, kita juga akan memasarkan produk ini untuk ekspor," ungkapnya saat konferensi pers Peresmian Tahap FEED LNG Abadi Masela, Kamis (28/8).
Sementara itu, President & CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menyebutkan pasokan LNG dari Blok Masela tentunya akan diprioritaskan untuk pembeli di Indonesia.
"Kami memahami bahwa ada begitu banyak kebutuhan di Indonesia karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ini adalah calon pelanggan pertama," kata Ueda.
Adapun Inpex sendiri merupakan perusahaan dari Jepang, sehingga Ueda memastikan prioritas kedua penjualan LNG dari Blok Masela yakni untuk memenuhi kebutuhan Jepang.
"Kedua tentu saja Jepang. Jepang membutuhkan pasokan energi yang stabil, sehingga dari sudut pandang ini, banyak calon pelanggan Jepang juga sangat tertarik untuk mempertimbangkan membeli proyek Abadi," jelas Ueda.
Ueda juga membidik negara di Asia lainnya sebagai target pasar LNG Blok Masela, terutama negara-negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan.
"Ketiga ada banyak perusahaan Asia lainnya seperti Tiongkok, Korea, Taiwan, dan beberapa negara lain yang juga membutuhkan banyak energi karena pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.
Kendati begitu, Ueda membuka potensi terdapat offtaker dari negara lain yang berminat membeli LNG Blok Masela, bahkan permintaannya lebih besar dari total kapasitas gas di proyek itu sendiri.
Ueda menyebutkan, sudah ada serangkaian perjanjian jual beli gas yang tidak mengikat (non-binding) melalui Memorandum of Agreement (MoA) maupun Head of Agreement (HoA). Dia optimistis permintaan LNG sangat besar di dalam negeri maupun Asia.
"Kami akan mengubah MoA yang tidak mengikat menjadi kontrak jangka panjang yang mengikat dalam proses FEED. Itu tantangan lain bagi kami. Namun, kami sedikit optimis karena permintaannya ada di sini," tegasnya.
Dia menambahkan, minat yang besar juga datang dari beberapa negara tetangga Indonesia, seperti Thailand dan Malaysia, mengingat Petronas juga merupakan mitra Inpex di Blok Masela bersama PT Pertamina (Persero).
"Mungkin yang pertama adalah Jepang. Kedua adalah Malaysia, karena Petronas adalah mitra kami. Ketiga, mungkin negara-negara Asia seperti Taiwan. Namun, negara-negara lain seperti Tiongkok atau Thailand dan beberapa negara lain juga tertarik untuk membeli Abadi LNG," ungkap Ueda.
Berlokasi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, proyek ini akan mengolah gas alam dari Lapangan Abadi untuk memproduksi sekitar 9,5 juta metrik ton per annum (MTPA) LNG per tahun, 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, dan 35.000 barel kondensat per hari.
Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi USD 20,94 miliar ini ditargetkan dapat menyerap sekitar 12.611 tenaga kerja pada fase pengembangan dan sekitar 850 tenaga kerja pada fase operasi.
