Jadi Garda Terdepan Produksi SAF, Kilang Cilacap Siap Dukung Mandatori Bioavtur
19 Oktober 2025 17:55 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Jadi Garda Terdepan Produksi SAF, Kilang Cilacap Siap Dukung Mandatori Bioavtur
Saat ini, Kilang Cilacap mengolah SAF dari minyak jelantah sebanyak 9.000 barel per hari, dengan campuran sebesar 2,5 persen.kumparanBISNIS

Refinery Unit (RU) IV PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) atau Kilang Cilacap siap mendukung kebijakan mandatori bioavtur yang rencananya akan diterapkan pada tahun 2026 mendatang.
General Manager Kilang Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo, mengatakan teknologi Kilang Cilacap sudah mampu memproduksi bahan bakar pesawat berbahan baku nabati, alias Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Kilang Cilacap bisa dibilang sebagai pionir produksi SAF di Indonesia. Kilang yang saat ini berkapasitas terbesar di negeri ini sudah memproduksi SAF berbahan baku minyak inti sawit pada tahun 2022.
Kemudian, kilang mulai merambah kepada SAF berbahan baku minyak jelantah (Use Cooking Oil/UCO) mulai tahun 2025 dengan campuran 2,5 persen. Produk tersebut bahkan sudah dikomersialisasikan melalui PT Pertamina Patra Niaga, dan digunakan dalam penerbangan Pelita Air Service rute Jakarta-Denpasar.
"PT KPI RU IV Cilacap berhasil mengolah SAF kandungan UCO, yang ini relatif sudah beyond expectation dengan campuran bisa mencapai 2,5 persen," kata Wahyu kepada media di Kilang Cilacap, dikutip Minggu (19/10).
Saat ini, Kilang Cilacap mengolah SAF dari minyak jelantah sebanyak 9.000 barel per hari, dengan campuran sebesar 2,5 persen. Wahyu membuka peluang teknologi yang digunakan akan semakin berkembang, mengikuti kebijakan pemerintah yang akan mewajibkan alias mandatori bioavtur di Indonesia.
"Kita sudah siap ya. Kita sudah 2,5 persen, sudah beyond. Tinggal nanti kebijakan pemerintah seperti apa, tentunya pemerintah sebagai shareholder Pertamina, dan PT KPI tentunya pasti akan support, pasti akan melaksanakan dari kebijakan pemerintah," tegas Wahyu.
Adapun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan implementasi mandatori bioavtur langsung dimulai dengan campuran 3 persen. Peta jalan bioavtur sebelumnya mencanangkan mandatori campuran 1 persen mulai tahun 2027.
Ke depannya, Wahyu memastikan Kilang Cilacap akan terus meningkatkan kemampuan katalisnya untuk menyesuaikan kenaikan mandatori bioavtur.
"Nanti kita upgrade lagi katalisnya, nanti bila mana roadmap jangka panjangnya seperti itu, tentunya teknologi akan mengikuti dengan kebijakan. Tapi saat ini kita sudah beyond expectation," imbuhnya.
Kilang Cilacap memiliki total kapasitas pengolahan 348 Million Barrel Steam Day (MBSD). Terdiri dari dua Crude Distillation Unit (CDU), CDU-1 sudah beroperasi sejak tahun 1976 berkapasitas 100 MBSD, kemudian CDU-2 beroperasi pada 1984 dengan kapasitas 200 MBSD.
Pada tahun 1997, Kilang Cilacap melakukan revamping atau pengembangan, menambah kapasitas CDU-1 menjdi 118 MBSD, dan CDU-2 menjadi 230 MBSD. Dengan begitu, total kapasitas Kilang Cilacap menjadi 348 MBSD hingga saat ini.
Selain itu, kilang ini juga memiliki Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) mulai tahun 2015 dengan kapasitas 62 ribu barel per hari. Unit ini didesain untuk mengolah residu menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi seperti LPG, Propylene, Polygasoline (mogas dengan RON 98), Naptha (RON 92), Light Sycle Oil (LCO) dan Decant Oil (DCO).
Sementara produk bahan bakar hijau (biofuel) diproduksi melalui Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT). Pengolahan dilakukan secara co-processing antara Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), maupun minyak jelantah (UCO).
Wahyu menyebutkan, Kilang Cilacap merupakan kilang dengan hasil produk terbanyak dibandingkan kilang milik Pertamina lainnya, meliputi BBM Perta Series, solar, LPG, dan avtur konvensional maupun SAF.
"Di antara kilang KPI, ini paling komplit, dari BBM ada Perta Series Solar ada, Avtur ada, LPG ada, Propylene ada, lub base, kemudian petrochemical ada juga, di sini Parasilin, ada Bensin, dan kalau dibutuhkan kita bisa menghasilkan Toluena," pungkasnya.
