Kapasitas Terpasang Hidrogen RI Capai 13,6 Ribu Ton per Tahun

28 November 2025 13:28 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapasitas Terpasang Hidrogen RI Capai 13,6 Ribu Ton per Tahun
Kementerian Perindustrian mencatat kapasitas terpasang hidrogen Indonesia 13,6 ribu ton per tahun. Ini strategis bagi transisi menuju ekonomi rendah karbon.
kumparanBISNIS
Konferensi pers Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) Technical Seminar 2025, Jumat (28/11/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) Technical Seminar 2025, Jumat (28/11/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kapasitas terpasang produksi hidrogen di Indonesia mencapai 13,6 ribu ton per tahun.
Hidrogen merupakan salah satu komoditas penting untuk transisi energi menuju ekonomi biru dan hijau.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Sri Bimo Pratomo, mengatakan industri gas dapat berkontribusi mendorong transformasi industri menuju ekonomi hijau dan biru.
โ€œDalam kelompok industri ekonomi biru dan ekonomi hijau, industri hidrogen dan amonia ditetapkan sebagai komoditas prioritas yang diharapkan menjadi penggerak baru dalam transisi menuju ekonomi karbon rendah,โ€ katanya saat AGII Technical Seminar 2025, Jumat (28/11).
Dengan begitu, kata Bimo, Kemenperin telah menempatkan pengembangan industri hidrogen dan amonia sebagai salah satu fokus utama.
Langkah ini tidak hanya untuk memperkuat industri nasional dan mendorong hilirisasi berbasis sumber daya alam, tetapi juga mendukung pencapaian target penurunan emisi.
Selain itu, industri hidrogen dapat mendukung ekosistem gas industri yang lebih efisien dan berkembang di masa depan. Bimo mencatat, saat ini terdapat tujuh perusahaan yang memproduksi hidrogen dengan kapasitas 13,6 ribu ton per tahun di Indonesia.
Pabrik hidrogen PT Samator Gas Batam, Jumat (21/11/2025). Foto: Dok. PT Samator Gas
โ€œSecara nasional, industri hidrogen Indonesia saat ini telah berkembang dengan kapasitas terpasang sekitar 13,6 ribu ton per tahun, yang dioperasikan oleh tujuh perusahaan di beberapa wilayah Indonesia,โ€ ungkap Bimo.
Di sisi lain, Bimo juga menyebut hidrogen dan amonia diposisikan sebagai komoditas strategis dalam pengembangan industri rendah karbon, termasuk potensi pasar ekspor ke negara-negara yang membutuhkan pasokan energi bersih.
Ia mencontohkan bahwa hal ini sejalan dengan semakin luasnya penerapan non-tariff measures (NTM) atau hambatan perdagangan yang mensyaratkan penggunaan energi bersih dalam proses produksi, terutama di negara-negara maju seperti Uni Eropa.
โ€œSaat ini terutama negara-negara Eropa sudah menerapkan non-tariff measure dalam rangka keberlanjutan. Dengan mendorong energi bersih, daya saing produk industri berbahan baku gas akan meningkat,โ€ tutur Bimo.
Memasuki periode 2030 hingga 2034, Bimo mengharapkan terdapat integrasi sumber energi terbarukan untuk produksi hidrogen hijau, mulai dari penerapan teknologi CCUS, pembangunan infrastruktur penyimpanan, hingga inovasi dan kolaborasi riset.
Ketum Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) Rachmat Harsono. Foto: Dok. AGII
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII), Rachmat Harsono, mengatakan peran hidrogen sangat besar dalam proses transisi energi di sektor industri nasional.
โ€œHidrogen digunakan untuk banyak kebutuhan manufaktur maupun industri. Selama puluhan tahun sudah dipakai oleh industri ini. Sekarang mulai digunakan untuk energi,โ€ katanya.
Untuk itu, Rachmat memastikan seluruh produsen yang tergabung dalam AGII siap memproduksi hidrogen dan memasok kebutuhan dalam negeri dengan tetap memprioritaskan keselamatan.
โ€œJadi kapan pun mereka membutuhkan, kita sudah siap. Khususnya terkait safety, karena kita sudah paham. Sudah puluhan tahun kami memahami aspek keselamatannya. Tentunya kami akan mendukung mulai dari safety yang penting, teknologi, cara handling, hingga distribusinya,โ€ tegasnya.
Trending Now