Kata Para Pedagang soal Rebranding Pasar Senen Jadi Pusat Brand Lokal

10 November 2025 7:09 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kata Para Pedagang soal Rebranding Pasar Senen Jadi Pusat Brand Lokal
Pedagang Pasar Senen khawatir rebranding jadi pusat brand lokal akan sulit dan merugikan usaha thrifting yang selama ini jadi andalan mata pencaharian mereka.
kumparanBISNIS
Aktivitas thrifting di Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Minggu (9/11/2025). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas thrifting di Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Minggu (9/11/2025). Foto: Argya Maheswara/kumparan
Pasar Senen direncanakan akan diubah atau rebranding menjadi pusat penjualan produk dan brand lokal, dari yang sebelumnya dikenal sebagai sentra thrifting. Rencana ini mendapat beragam respons dari para pedagang lokal di sana.
Salah satunya Marijan (56), yang sudah berjualan pakaian bekas, terutama jas dan blazer sejak 1991. Ia masih mempertanyakan skema rebranding Pasar Senen menjadi pusat brand lokal. Kekhawatirannya, skema bisnis baru justru bisa merugikan pedagang.
Dalam sistem yang selama ini ia jalankan, Marijan mendapatkan barang dagangan dari penyuplai tanpa harus membeli terlebih dahulu sebagai modal. Barang tersebut baru dibayar setelah terjual. Ia ragu apakah pola semacam itu masih bisa diterapkan jika pasar sudah di-rebranding.
โ€œSetiap minggu kami setor, kurang tambah lagi. Kami sampai ratusan juta utang sama bos-bos itu (penyuplai). Apa pemerintah mau begitu? Apa UKM yang bikin-bikin di sana sanggup ngasih utang dulu? Dijual dulu baru dikasih duit (bayar),โ€ kata Marijan kepada kumparan, Minggu (9/11).
Terkait anggapan pemerintah bahwa pakaian impor bekas menghambat perkembangan brand lokal, Marijan memiliki pandangan berbeda. Ia menilai pemerintah seharusnya lebih dulu menertibkan banjir pakaian baru dari luar negeri yang kini mendominasi pasar.
โ€œMending yang gede dulu habisin. Semua dari China sekarang, pakaian baru, pakaian muslim juga. Sekarang di Tanah Abang itu kan yang menghantam produk dan brand lokal,โ€ ujarnya.
Respons serupa datang dari Efrial (47), pedagang topi bekas di Pasar Senen sejak 1995. Menurutnya, rebranding Pasar Senen akan sulit dilakukan karena sejak lama tempat itu sudah dikenal sebagai pusat thrifting.
Aktivitas thrifting di Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Minggu (9/11/2025). Foto: Argya Maheswara/kumparan
โ€œKayaknya susah (dijadikan pusat brand lokal), soalnya dari dulu tahunya di sini begini. Dari mana-mana aja, Jabodetabek, Serang, Banten, belanjanya ke sini semua,โ€ ucapnya.
Ia juga mengaku tidak setuju dengan langkah pemerintah yang ingin memperketat impor pakaian bekas, karena banyak pedagang yang bergantung pada sektor tersebut untuk mencari nafkah.
โ€œKalau kita yang sudah biasa dagang thrifting begini jelas enggak setuju,โ€ ujar Efrial.
Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian Koperasi dan UKM, Temmy Satya Permana, telah bertemu dengan perwakilan pedagang Pasar Senen untuk membahas rencana peralihan tersebut. Menurutnya, para pedagang siap beradaptasi dan mulai menjual produk-produk lokal, meski proses transisi membutuhkan waktu.
Adapun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan menerbitkan aturan baru untuk menindak maraknya praktik impor pakaian bekas.
Trending Now