Kemenperin Harap Green Financing Bisa Turunkan Biaya Proyek Hijau di RI

17 September 2025 13:38 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kemenperin Harap Green Financing Bisa Turunkan Biaya Proyek Hijau di RI
Kemenperin menilai proyek-proyek hijau cenderung memiliki biaya yang lebih tinggi dibandingkan proyek konvensional.
kumparanBISNIS
Staf Ahli Menteri Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Emmy Suryandari menyampaikan paparan saat sesi panel dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Staf Ahli Menteri Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Emmy Suryandari menyampaikan paparan saat sesi panel dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti proyek-proyek hijau Indonesia, mulai dari infrastruktur hingga produk makanan dan minuman, berbasis hijau atau ramah lingkungan yang cenderung memiliki biaya lebih tinggi dibandingkan proyek konvensional.
Staf Ahli Menteri Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin, Emmy Suryandari, menyatakan bahwa kebutuhan akan pembiayaan dan dukungan dalam proyek hijau menjadi sangat penting, terutama pembahasan mengenai green financing yang dianggap krusial untuk menjawab tantangan biaya tinggi tersebut.
β€œItu justru sesuatu (produk makanan) yang di label green itu harganya lebih murah atau lebih mahal? Lebih mahal. Jadi project yang green itu somehow itu ternyata lebih mahal. Sehingga yang namanya financing, supporting itu memang sangat diperlukan,” kata Emmy dalam gelaran kumparan Green Initiative Conference di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (17/9).
Staf Ahli Menteri Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Emmy Suryandari (kanan) menyampaikan paparan saat sesi panel dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Emmy pun menyoroti pembiayaan proyek hijau di negara lain, meskipun pada awalnya biaya infrastruktur energi hijau relatif berat, tetapi dalam jangka panjang biaya tersebut dapat lebih terjangkau jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB). Sementara di Indonesia sendiri, sejumlah infrastruktur menuju energi hijau sudah mulai berkembang, tetapi percepatannya masih perlu diperkuat.
β€œHanya saja memang speed-nya (di Indonesia) ini yang perlu dikolaborasikan, dielaborasi antara pendanaan dan juga who does what-nya ini siapa. Karena kalau tidak diutilisasi akan sampai berapa tahun juga hanya akan sebatas potensi,” jelas Emmy.
Ia pun juga mengingatkan bahwa diperlukan strategi nasional yang disusun bersama seluruh elemen dalam negeri agar program pemerintah berjalan efektif, insentif dapat dimanfaatkan optimal, serta green financing mampu menjadikan energi maupun produk hijau lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
β€œDan juga bagaimana peran dari green financing untuk bisa membantu sehingga nantinya memang green energy ataupun green product ini akhirnya bisa menjadi affordable bagi sebagian besar atau bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutur Emmy.
Trending Now