Kementerian ESDM Yakin Produksi Minyak Mentah Naik 100 Ribu BOPD Setiap Tahun

3 Desember 2025 14:46 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kementerian ESDM Yakin Produksi Minyak Mentah Naik 100 Ribu BOPD Setiap Tahun
Kementerian ESDM menjelaskan peningkatan produksi minyak mentah dilakukan sedikit demi sedikit.
kumparanBISNIS
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto saat acara Rakor Dukungan Bisnis SKK Migas, Sentul, Bogor, Rabu (3/12/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto saat acara Rakor Dukungan Bisnis SKK Migas, Sentul, Bogor, Rabu (3/12/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Kementerian ESDM meyakini produksiminyak mentah nasional bisa bertambah 100 ribu barel per hari (BOPD) setiap tahun. Sehingga bisa mencapai 1 juta BOPD pada 2030.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan target produksi minyak mentah sebesar 605 ribu BOPD pada 2025, lalu pada tahun 2026 ditetapkan sebesar 610 ribu BOPD.
"Pada tahun 2024, tingkat produksi kita sekitar 580 ribu barel per hari. Jadi dengan adanya peningkatan sekitar 25 ribu barel per hari pada tahun 2025 ini merupakan bagian capaian dalam rangka ketahanan energi," kata Yuliot saat acara Rakor Dukungan Bisnis SKK Migas, Rabu (3/12).
Peningkatan produksi minyak, kata Yuliot, akan dilakukan secara gradual atau sedikit demi sedikit. Pada 2027 ditargetkan terjadi peningkatan produksi menjadi sekitar 700 ribu BOPD, kemudian pada 2028 menjadi 800 ribu BOPD, dan pada 2029 bisa mencapai 900 ribu BOPD.
"Jadi targetnya sampai dengan 900 ribu barel sampai dengan 1 juta barel per hari. Berarti rata-rata per tahun kita harus meningkatkan produksi sekitar 100 ribu barel per hari," ungkap Yuliot.
"Tentu kita berusaha untuk bagaimana secara gradual peningkatan produksi ini bisa kita lakukan sampai dengan pada tahun 2030 mencapai sekitar 1 juta barel per hari," tambahnya.
Yuliot mengungkapkan ada beberapa strategi untuk mencapai target peningkatan produksi tersebut. Pertama, penyempurnaan regulasi dalam rangka pemenuhan perizinan yang ada di perusahaan atau KKKS, mulai terkait pengadaan lahan hingga pemenuhan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Kemudian tantangan penyediaan infrastruktur dasar yang diperlukan percepatan baik oleh perusahaan KKKS sendiri maupun oleh pemerintah.
Terakhir yakni terkait ekosistem ketersediaan peralatan di dalam negeri. Saat ini, kata Yuliot, tingkat pemenuhan TKDN di hulu migas umumnya sudah mencapai 40 persen.
"Ke depan, berdasarkan ekosistem yang terbangun, kita secara bertahap akan meningkatkan ketersediaan barang-barang yang diperlukan oleh perusahaan KKKS dalam rangka pencapaian TKDN," jelas Yuliot.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto saat acara Rakor Dukungan Bisnis SKK Migas, Sentul, Bogor, Rabu (3/12/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Sementara itu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan untuk mencapai target produksi, SKK Migas telah menerapkan beberapa strategi dan inisiatif peningkatan produksi. Pertama, penerapan teknologi Multi-Stage Fracturing (MSF), Enhanced Oil Recovery (EOR), hingga pengelolaan sumur tua, idle, dan masyarakat.
Djoko mengatakan SKK Migas juga akan menetapkan target pengeboran sumur eksplorasi lebih banyak pada 2026 dalam work program and budget (WP&B) untuk menggencarkan pencarian sumber daya baru.
"Kami minta agar dalam work program and budget 2026, paling tidak minimum 100 sumur eksplorasi, kemudian 100 MSF, dan 100 sumur di struktur atau lapangan-lapangan baru. Saat ini sedang, tim sedang bekerja untuk mencari titik-titik di mana kita lakukan pengeboran di 300 struktur," tutur Djoko.
Djoko juga mencatat tantangan utama bagi pencapaian target peningkatan produksi migas di ekosistem dukungan bisnis, misalnya proses perizinan, rantai pasok pengadaan yang belum sepenuhnya terprediksi, kesiapan vendor nasional dan pencapaian TKDN, dinamika sosial masyarakat dan aspek keamanan operasi, serta koordinasi lintas lembaga yang belum terintegrasi.
Dia mencontohkan beberapa waktu lalu masih terjadi hambatan dan gangguan operasi, terutama di Selat Madura. Selain itu, hambatan juga terjadi dari sisi monetisasi penemuan gas untuk bisa segera diproduksikan atau dimanfaatkan.
"Alhamdulillah tim bekerja saat ini untuk negosiasi harga gas yang sebelumnya sangat lama, sekarang dalam waktu kurang dari 1 jam, bahkan 5 menit, 10 menit sudah selesai," ungkap Djoko.
"Sebagai contoh untuk monetisasi gas, temuan gas di Blok Andaman itu sekitar 11 TCF, dan 300 MMSCF akan diproduksikan segera, itu negosiasi harga gasnya dengan PLN cuma makan waktu tidak kurang dari 10 menit," tambahnya.
Trending Now