Ketika Ojol Jadi Wajah Baru Elektrifikasi: Hemat di Kantong, Ramah di Udara

4 Desember 2025 20:23 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketika Ojol Jadi Wajah Baru Elektrifikasi: Hemat di Kantong, Ramah di Udara
Kisah nyata driver ojek yang beralih ke motor listrik demi menekan biaya, di tengah tumbuhnya jaringan SPKLU PLN dan penguatan ekosistem transportasi hijau
kumparanBISNIS
Caption: Andesa Oglifi (34) datang dengan motor listriknya di Jakarta Selatan, Rabu (3/12). Dok: Abdul Latif/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Caption: Andesa Oglifi (34) datang dengan motor listriknya di Jakarta Selatan, Rabu (3/12). Dok: Abdul Latif/kumparan
Malam itu sekitar pukul 21.30 WIB saya memesan ojek di kawasan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Lalu lintas padat dan penuh polusi. Di tengah keramaian itu, Andesa Oglifi (37) datang dengan motor listriknya, meluncur tanpa suara dan tanpa asap.
Sambil tersenyum ia mempersilakan saya naik. Ketika motor mulai menembus kemacetan, Andesa mulai bercerita tentang pengalamannya menggunakan motor listrik selama lima bulan terakhir.
Sepanjang perjalanan, ia menjelaskan bagaimana keputusan beralih dari motor bensin muncul karena biaya yang makin memberatkan. Dulu, saat memakai motor matic seperti PCX, ia harus mengeluarkan sekitar 400 ribu rupiah per bulan untuk servis rutin, ditambah 100 ribu rupiah setiap dua minggu untuk mengganti oli.
โ€œKalau pakai motor bensin itu boros sekali. Servis bisa sampai 400 ribu sebulan, belum oli yang dua minggu sekali itu harus keluar 100 ribu lagi. Jadi saya pikir, daripada tiap bulan habis buat perbaikan dan bensin, lebih baik cari pilihan yang lebih hemat. Motor listrik ini akhirnya yang paling masuk akal buat saya,โ€ katanya saat ditemui kumparan di kawasan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Rabu (3/12).
Dengan motor listrik, pengeluarannya menjadi lebih mudah dikendalikan. Setiap hari ia hanya perlu membayar 25 ribu rupiah untuk sewa baterai, serta 55 ribu rupiah per hari untuk cicilan motor listrik yang akan menjadi hak miliknya setelah masa pembayaran 16 bulan selesai.
โ€œKalau dihitung-hitung, pengeluaran jadi lebih jelas. Setelah cicilannya lunas, saya cuma bayar baterai saja per hari. Lebih enteng dan tidak seberat motor bensin yang biayanya suka tidak terduga,โ€ ujarnya.
Pendapatan bersihnya kini berada di kisaran 2 juta rupiah per bulan. Angka itu masih bisa ia terima untuk menopang keluarga, apalagi ia adalah ayah dari empat anak. Rutinitasnya dimulai sejak pukul 05.00 hingga sekitar pukul 22.00 setiap hari.
Caption: Caption: Andesa Oglifi (34) datang dengan motor listriknya di Jakarta Selatan, Rabu (3/12). Dok: Abdul Latif/kumparan
Soal perawatan motor listrik, ia mengaku tidak punya banyak kendala. Selama empat bulan, ia belum melakukan servis sama sekali dan belum menemui masalah berarti. Sesekali ia juga mengambil pesanan dari minimarket terdekat.
โ€œKalau ada barang ditaruh di Alfamidi, kita tinggal datang, ambil, dan langsung antar. Lumayan buat nambah orderan harian,โ€ tuturnya.
681 SPKLU di Jakarta, Tersebar di 354 Lokasi
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di rest area Tol Cipali, Jumat (28/3). Foto: Dok. kumparan
Manajer Layanan Prioritas PLN UID Jakarta Raya, Andika Rama, menjelaskan bahwa SPKLU R2 memiliki kapasitas daya hingga 35.000 watt dan mampu mengisi enam motor listrik sekaligus.
Setiap lokasi SPKLU R2 akan dilengkapi dua unit perangkat, sehingga totalnya bisa melayani hingga 12 pengendara dalam satu waktu. Seluruh proses penggunaan dapat dilakukan melalui aplikasi PLN Mobile yang bisa diakses pengendara ojek online (ojol).
Proses pengisian dapat dilakukan sepenuhnya melalui aplikasi PLN Mobile, mulai dari pemindaian QR code sampai pembayaran. Ketika alat mulai mengisi daya, lampu indikator akan berubah dari merah menjadi biru sebagai tanda pengisian sedang berlangsung.
PLN UID Jakarta Raya saat ini mengoperasikan 681 unit SPKLU yang tersebar di 354 lokasi di Jakarta dan sekitarnya. Fasilitas ini mencakup berbagai kapasitas daya, mulai dari 25 kW, 60 kW, hingga di atas 60 kW.
Dari total tersebut, sebanyak 98 unit merupakan SPKLU berdaya tinggi dan 71 unit berada pada rentang 25 hingga 60 kW, yang banyak digunakan pengendara harian.
Sebaran SPKLU mencakup berbagai wilayah pelayanan PLN UID Jaya, seperti Menteng dengan 77 unit, Cengkareng 38 unit, Bintaro 41 unit, Ciracas 43 unit, dan wilayah lain yang memiliki 29 hingga 49 unit.
General Manager PLN UID Jakarta Raya, Moch. Andy Adchaminoerdin, menuturkan bahwa PLN juga menyiapkan layanan darurat 24 jam bagi pengguna kendaraan listrik, termasuk selama masa libur Natal dan Tahun Baru.
Berikut SPKLU yang tersebar di seluruh wilayah pelayanan PLN UID Jaya, yaitu:
UP3 Menteng: 77 unit
UP3 Cengkareng: 38 unit
UP3 Bulungan: 29 unit
UP3 Marunda: 31 unit
UP3 Pondok Gede: 36 unit
UP3 Tanjung Priok: 30 unit
UP3 Ciracas: 43 unit
UP3 Bintaro: 41 unit
UP3 Tambelang: 28 unit
Wilayah lainnya berkisar 29โ€“49 unit.

Perluas Ekosistem Kendaraan Listrik ke Transportasi Massal

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai ekosistem transportasi berbasis listrik perlu diperluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Menurutnya, kendaraan listrik bukan hanya mengurangi emisi, tetapi juga menawarkan efisiensi biaya bagi pengguna.
โ€œMemperluas ekosistem kendaraan listrik tidak hanya bicara menurunkan polusi, tetapi masyarakat lebih hemat,โ€ kata Djoko.
Ia menambahkan bahwa fokus anggaran subsidi ke depan sebaiknya diarahkan untuk memperkuat transportasi umum. Salah satu contoh program yang dapat dijalankan adalah penyediaan bus listrik untuk keperluan sekolah.
Infografis Peta Sebaran SPKLU PLN UID Jaya.
โ€œMisalnya bus listrik sekolah gratis,โ€ ujarnya.
Sementara itu, Peneliti senior Inisiasi Strategis Transportasi, Deddy Herlambang menambahkan pemerintah ke depan perlu memberikan kebijakan pajak kendaraan bermotor apabila adopsi kendaraan roda dua listrik semakin banyak peminatnya.
โ€œWalau nilai [pajak] minim karena [berpotensi] menimbulkan kemacetan. Sehingga harus dipajakin,โ€ imbuh dia.
Trending Now