LPEM FEB UI: 1,87 Juta Penduduk RI Mulai Menyerah Cari Kerja

6 Desember 2025 7:36 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
LPEM FEB UI: 1,87 Juta Penduduk RI Mulai Menyerah Cari Kerja
Sebanyak 1,87 juta penduduk Indonesia yang belum bekerja kini mulai menyerah mencari pekerjaan, jumlahnya naik 11 persen dalam setahun.
kumparanBISNIS
Pencari kerja melintasi salah satu perusahaan yang membuka lowongan saat Pameran Bursa Kerja di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
zoom-in-whitePerbesar
Pencari kerja melintasi salah satu perusahaan yang membuka lowongan saat Pameran Bursa Kerja di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) melaporkan terdapat 1,87 juta penduduk Indonesia menyerah mencari pekerjaan alias discouraged workers per Februari 2025. Data ini diolah dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS.
Dalam publikasi yang disusun oleh Peneliti LPEM FEB UI Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah ini menyebutkan, jumlah discouraged workers tersebut mengalami kenaikan 11 persen seacara tahunan.
Pola seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. International Labour Organization (ILO) mencatat bahwa di banyak negara berpendapatan menengah, discouraged workers menjadi komponen penting dari labour underutilisation, karena mereka dikelompokkan sebagai penduduk tidak aktif meski sebenarnya masih ingin bekerja dan tersedia untuk bekerja.
"Kenaikan jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa dari sekitar 1,68 juta orang pada Februari 2024 menjadi sekitar 1,87 juta orang pada Februari 2025, atau naik sekitar 11 persen, memberi sinyal yang tidak bisa diabaikan," ujar peneliti LPEM FEB UI, Muhammad Hanri, dalam laporan tersebut, Sabtu (6/12).
Laporan ini menjelaskan, kelompok tersebut memang kecil jika dilihat dari proporsi total angkatan kerja, namun keberadaannya menunjukkan hambatan struktural yang tidak tertangkap oleh indikator konvensional seperti tingkat pengangguran terbuka atau tingkat partisipasi angkatan kerja.
Lonjakan 11 persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi 'mencari kerja' menjadi 'menyerah', yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia.
Pencari kerja antre mencari informasi lowongan pekerjaan dalam bursa lowongan kerja Naker Fest Kota Semarang 2025 di Kantor BBVP Semarang, Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/5/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Alasan dari meningkatnya discourages workers beragam, mulai dari keyakinan bahwa peluang kerja memang tidak tersedia, pengalaman kerja yang dianggap tidak memadai, keterampilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, hingga persepsi mengenai usia yang dipandang tidak menguntungkan di mata pemberi kerja.
"Alasan alasan ini memberi sinyal bahwa sebagian penduduk yang memiliki preferensi untuk bekerja justru terhalang oleh kombinasi faktor psikologis, institusional, dan struktural," jelasnya.
Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, 50,07 persen kelompok putus asa berasal dari penduduk dengan pendidikan SD atau tidak tamat SD, diikuti oleh lulusan SMP dan SMA masing-masing 20,21 dan 17,29 persen, serta S2 sebesar 8,09 persen.
Sementara dari sisi gender, laki laki menyumbang sekitar dua pertiga dari total, sementara perempuan sepertiga. Fakta bahwa laki laki mendominasi justru menandakan bahwa keputusasaan dalam mencari kerja lebih melekat pada kelompok yang secara sosial diharapkan menjadi pencari nafkah utama.
Kenaikan ini konsisten dengan sejumlah temuan lembaga pembangunan tentang sulitnya mencari pekerjaan berkualitas di Indonesia. Laporan Bank Dunia tentang Pathways to Middle Class Jobs menyimpulkan bahwa dua pertiga pekerjaan di Indonesia masih berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah dan mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan menengah pertama atau lebih rendah.
"Jika dibandingkan dengan beberapa negara peer di kawasan yang telah berhasil memperkuat basis manufaktur berorientasi ekspor dan jasa modern, Indonesia tertinggal dalam penciptaan pekerjaan formal dengan produktivitas menengah," lanjutnya.
Akibatnya, proses pencarian kerja menjadi semakin kompetitif bagi pencari kerja yang pendidikannya rendah, pengalaman kerjanya minim, atau keterampilannya tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang lebih modern.
Di sisi lain, Bank Dunia juga menekankan masih lemahnya sistem informasi pasar kerja dan layanan penempatan kerja di Indonesia, sehingga pencari kerja sering tidak memiliki informasi yang jelas tentang lowongan dan keterampilan yang dibutuhkan.
"Jika dibiarkan, discouragement yang tumbuh pelan pelan ini berisiko memperlebar kesenjangan antara mereka yang mampu memanfaatkan peluang ekonomi baru dan mereka yang merasa pasar kerja bukan lagi ruang yang layak dicoba, baik di negara berkembang seperti Indonesia maupun di negara maju yang sekalipun tampak mendekati kondisi pekerjaan penuh," tambahnya.
Trending Now