Madu Lebah Liar, Usaha dari Bangka Tengah yang Cari Peluang Ekspor Melalui LPEI

16 Oktober 2025 9:04 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Madu Lebah Liar, Usaha dari Bangka Tengah yang Cari Peluang Ekspor Melalui LPEI
Madu asal Desa Namang, Bangka Tengah, ini berhasil tembus pasar global berkat dukungan LPEI.
kumparanBISNIS
Madu hutan liar Namang. Foto: Najma Ramadhanya/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Madu hutan liar Namang. Foto: Najma Ramadhanya/kumparan.
Usaha kecil yang datang dari Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hadir dalam pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2025. Usaha yang bertajuk “Madu Lebah Liar” ini menjual berbagai produk yang diproduksi dari Desa Namang, terutama produk madu pahit asli.
Kepala Desa Namang, Haji Muhammad Zaiwan, menjelaskan desanya memiliki potensi alam khas berupa kayu pelawan, jenis kayu endemik Bangka Belitung yang secara turun-temurun dipercaya masyarakat setempat sebagai penanda adanya kandungan timah di bawah tanah.
Pria yang biasa disapa Zaiwan menyadari bahwa hutan adat di desanya memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Hutan tersebut menjadi habitat lebah madu hutan liar yang telah lama dimanfaatkan masyarakat Melayu sebagai bagian dari kearifan lokal.
“Karena hutan yang banyak timah tadi yang menghasilkan madu, boleh ditambang, boleh dijual,” kata Zaiwan saat dikunjungi di lapaknya dalam Trade Expo Indonesia 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (15/10).
Ia kembali bercerita, pemerintah desa di bawah kepemimpinannya menerbitkan peraturan desa (perdes) yang menetapkan kawasan hutan adat sebagai wilayah lindung guna menjaga kelestarian hutan dan keberlanjutan sumber madu.
Pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2025. Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
Awalnya, Zaiwan menyatakan putusan ini sempat menuai kritik karena dianggap menolak potensi keuntungan besar dari penambangan timah. Namun, ia tetap bertahan dengan keyakinan bahwa menjaga hutan lebih bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. “Alhamdulillah setelah dikata stres, Bapak diikuti oleh Kementerian Kehutanan waktu itu,” tambahnya.
Langkah tersebut kemudian mendapat perhatian dari Kementerian Kehutanan dan menjadi contoh nasional dalam program One Village One Product. Melalui program ini, Desa Namang ditetapkan sebagai salah satu desa percontohan penghasil madu pelawan bersama beberapa daerah lain seperti Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.
Zaiwan pun menjelaskan, madu pelawan yang dihasilkan masyarakat di desanya memiliki nilai ekonomi tinggi, di mana madu grade A dijual hingga Rp 1,5 juta per kilogram, sedangkan grade B sekitar Rp 750 ribu per kilogram. “Nah itu untuk di Bangka Belitung (dijual) di toko oleh-oleh, di Pangkal Pinang juga,” tutur Zaiwan.
Meskipun belum diekspor secara resmi, madu pelawan yang diproduksi oleh desanya sudah dibawa ke sejumlah negara seperti Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia oleh masyarakat yang berangkat untuk keperluan ibadah umrah maupun haji. Kata Zaiwan, dengan letak geografis yang dekat dengan Singapura dan Batam, distribusi produk ini pun akan semakin mudah.
“Petani kami juga udah ratusan sih, yang kami koordinir itu ada beberapa kelompok, satu kelompok ada 150, ada yang 75, kisaran 50 sampai 125,” jelas Zaiwan.
Awal Mula Mendapat Dukungan dari LPEI
Zaiwan mengungkapkan, keberhasilan bisnis desanya juga mendapat perhatian dari Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melalui proses kurasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan yang berbasis di Bangka Belitung. Awalnya, Kepala Kanwil DJPb Bangka Belitung saat itu, Syukriah, melihat potensi besar sektor madu hutan sebagai penggerak ekonomi desa. “Bersama LPEI, beliau (Syukriah) menganalisa potensi potensi, yang banyak digeluti oleh masyarakat di Bangka Belitung,” jelas Zaiwan.
“Pokoknya dengan LPEI, beliau (Sukria) menganalisa potensi potensi, yang banyak digeluti oleh masyarakat di Bangka Belitung,” jelas Zaiwan.
Dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025, Zaiwan menampilkan produk unggulan berupa madu hutan liar pelawan dari Desa Namang untuk membuka potensi ekspor dan business matching yang lebih luas lagi. Selain madu, usaha desa Zaiwan juga membawa produk lada dari PT Chan, perusahaan lokal yang telah menembus pasar ekspor ke Eropa, Jepang, dan Asia Tengah.
“Tadi alhamdulillah, kita sudah dapat ini calon buyer tadi, dari Singapura,” kata Zaiwan.
Trending Now