Malaysia Tawarkan Kerja Sama Teknologi Hemat Anggaran Buat Kelola Sampah-Banjir

22 Mei 2025 13:29 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Malaysia Tawarkan Kerja Sama Teknologi Hemat Anggaran Buat Kelola Sampah-Banjir
Kerja sama ini khususnya ditawarkan pada Pemerintah Kota Ternate yang kelimpungan mengelola sampah.
kumparanBISNIS
Principal at Kuala Lumpur City Hall (Malaysia) Khairul Azmir bin Ahmad bin Ahmad dalam acara Climate Resilience and Innovation Forum 2025 di Park Hyatt, Kamis (22/5). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Principal at Kuala Lumpur City Hall (Malaysia) Khairul Azmir bin Ahmad bin Ahmad dalam acara Climate Resilience and Innovation Forum 2025 di Park Hyatt, Kamis (22/5). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
Pemerintah Kota Ternate tengah kelimpungan menghadapi ancaman krisis sampah.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) utama kota itu nyaris penuh dan belum ada sistem pengelolaan yang efisien. Di tengah kondisi ini, tawaran kerja sama datang dari Kuala Lumpur, Malaysia.
β€œKami menyadari Ternate punya tantangan di sisi tata kelola, khususnya pengelolaan sampah dan infrastruktur dasar. Kami siap bantu berbagi sistem dan teknologi,” ujar Principal di Kuala Lumpur City Hall, Khairul Azmir bin Ahmad bin Ahmad, dalam forum Climate Resilience and Innovation Forum di Park Hyatt Jakarta, Kamis (22/5).
Khairul menyoroti pentingnya mengembangkan sistem kota cerdas (smart city) sebagai solusi jangka panjang. Bukan hanya untuk layanan publik tapi juga efisiensi fiskal dan keberlanjutan ekonomi.
Kuala Lumpur telah menerapkan sistem smart city yang terintegrasi. Termasuk smart tunnel, sebuah terowongan yang berfungsi ganda sebagai saluran banjir dan jalur lalu lintas. Sistem ini terbukti menekan biaya penanggulangan banjir dan menghemat miliaran ringgit dalam anggaran infrastruktur.
β€œDengan teknologi yang tepat, kota bisa memangkas biaya penanggulangan darurat, membuka peluang investasi swasta, dan meningkatkan kualitas hidup warga. Ini bukan soal canggih-canggihan, tapi soal efisiensi,” jelas Khairul.
Tawaran Kuala Lumpur meliputi transfer teknologi, pelatihan pegawai, pertukaran data, hingga pengembangan sistem pemantauan berbasis sensor. Skema pembiayaan bisa dibuka lewat model public-private partnership (PPP), tergantung kesiapan daerah.
Pemerintah Kota Ternate mengakui kondisi darurat sampah sudah pada titik mengkhawatirkan. TPA yang ada hampir tak bisa lagi menampung limbah domestik dan industri. Di sisi lain, kemampuan fiskal daerah terbatas untuk membangun sistem baru.
β€œKami butuh model baru yang bisa dibiayai lewat kerja sama. Kalau bisa, sekalian berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujar perwakilan Pemkot Ternate di forum tersebut.
Mereka terbuka dengan tawaran Kuala Lumpur dan menyebut akan menjajaki pembicaraan lanjutan, termasuk kemungkinan mengundang investor teknologi pengelolaan sampah dan air.
Jika terealisasi, kerja sama ini tak hanya soal bantuan antarpemerintah. Tapi juga bisa membuka pasar baru bagi perusahaan teknologi, konsultan perencana kota, dan startup penyedia sistem pemantauan berbasis AI.
Model bisnis berbasis layanan seperti penyedia CCTV terintegrasi, sistem parkir pintar, hingga pengelolaan air dan sampah berbasis data berpotensi diterapkan di kota-kota seperti Ternate yang sedang melakukan transformasi.
β€œYang penting jangan copy-paste. Harus ada local adaptation, tapi fondasi teknologinya bisa kami bantu,” kata Khairul.
Trending Now