Mamaku dan Senyum Eks Imigran Berdaya di Seberang Kilang Cilacap
31 Oktober 2025 18:37 WIB
Β·
waktu baca 7 menit
Mamaku dan Senyum Eks Imigran Berdaya di Seberang Kilang Cilacap
Refinery Unit (RU) IV atau Kilang Cilacap menjadi pilar ketahanan energi di Pulau Jawa, namun juga menjadi asa bagi masyarakat Kutawaru.kumparanBISNIS

Refinery Unit (RU) IV atau Kilang Cilacap tidak hanya menjadi salah satu pilar ketahanan energi di Pulau Jawa. Kilang berkapasitas 348 ribu barel per hari (MBOPD), menjadi yang terbesar di Indonesia saat ini, juga menjadi asa bagi masyarakat setempat.
Berdiri kokoh di pesisir perairan Sungai Bengawan Donan, kilang ini tidak hanya berseberangan dengan Pulau Nusakambangan yang terkenal dengan penjaranya itu, namun juga dengan sebuah kelurahan yang bernama Kutawaru.
Siang itu, Sabtu (18/10), kumparan berkesempatan menyusuri perairan tersebut menuju Kelurahan Kutawaru, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Tak lama setelah bertolak dari dermaga menggunakan perahu compreng, samar-samar area kilang sudah terlihat dari kejauhan.
Kibaran flare gas dan deru operasional kilang semakin terdengar saat perahu melewati Single Point Mooring (SPM) atau dermaga apung milik Kilang Cilacap, dan kemudian mendekat ke Dermaga Penyeberangan Wilayah Kutawaru.
Dari dermaga, pemandangan Kilang Cilacap cukup memukau, apalagi jika dilihat ketika malam hari. Lampu berkelap-kelip terpancar dari kilang kerap menjadi penarik minat wisatawan berkunjung ke desa itu.
Selama berkendara di Kutawaru, lanskap kilang juga terlihat di antara pemukiman warga dan pesawahan. Sekitar 10 menit dari dermaga, kumparan sampai di salah satu lokasi program CSR PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), yakni Mamaku (Masyarakat Mandiri Kutawaru).
Berdayakan Eks TKW hingga ABK
Salah satu kegiatan pada Mamaku adalah Bank Sampah Abhipraya. Program ini dikelola oleh masyarakat Kutawaru, khususnya para eks Pekerja Migran Indonesia (PMI), baik itu Tenaga Kerja Wanita (TKW) maupun anak buah kapal (ABK), yang kesulitan mendapatkan mata pencaharian.
Selain itu, program ini juga terbuka lebar bagi keterlibatan masyarakat sekitar yang termasuk 260 kelompok rentan, mulai dari buruh kasar serabutan, ibu rumah tangga, hingga anak-anak sekolah, melakukan tata kelola sosial dan lingkungan yang mengedepankan ekonomi biru di kawasan pesisir.
Di Bank Sampah Abhipraya, terlihat kumpulan ibu-ibu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang memilah, membersihkan, dan mencacah sampah plastik, ada juga yang sedang menganyam daun nipah. Pengolahan sampah ini menjadi salah satu kegiatan unggulan dari program Mamaku.
Ketua Kelompok Mamaku yang juga dikenal sebagai salah satu local heroes Pertamina, Rato, mengatakan Desa Kutawaru memiliki total 15.000 penduduk dan 3.500 Kepala Keluarga (KK), yang tersebar di 13 RW dan 57 RT.
Sasaran utama program ini, lanjut Rato, memang eks imigran yang kerap menjadi pilihan karier masyarakat Kutawaru. Ia mencontohkan, sejak dahulu kala, siswi yang baru saja menamatkan jenjang pertama sekolah sudah banyak yang memilih menjadi TKW.
"Sejak saya kecil mungkin rata-rata dulu ke Arab. Sekarang masih banyak sekali. Terutama yang perempuan itu setelah kebanyakan lulus SMP, ketika sudah cukup umur, ya mereka langsung ke luar negeri ke Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Korea," ungkap Rato.
Sementara para pria lebih banyak yang memilih menjadi ABK. Hanya saja, Rato menyoroti minimnya kesejahteraan para imigran, dengan banyaknya kasus kecelakaan kerja hingga mengakibatkan korban jiwa sudah menjadi hal biasa di desa tersebut.
"Kita melihat dari permasalahan itu, kita punya eks ABK yang mungkin karena sudah enggak memungkinkan melaut, ke luar negeri, akhirnya kita berusaha dengan program-program Mamaku ini," imbuhnya.
Ubah Tantangan dengan Konsep Ekonomi Sirkular
Rato menyebutkan, pengolahan sampah sempat menjadi masalah besar bagi desa yang cukup terisolir dari pusat Kota Cilacap ini. Hal ini kemudian mendasari dibangunnya Bank Sampah Abhipraya, yang saat ini mengolah total 4,5-6 ton sampah organik dan anorganik per tahun.
"Secara geografis, kalau melihat permasalahan sampah, memang mau tidak mau sampah harus habis di Kutawaru. Dengan permasalahan itu, kita mencoba menyadarkan masyarakat dengan edukasi bagaimana mengolah sampah, mengurangi masyarakat membuang sampah ke lautan sehingga mencemari dan bisa menjadi polusi bagi mangrove," jelasnya.
Ketua Bank Sampah Abhipraya, Heri, mengatakan hingga saat ini Desa Kutawaru tidak memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga kebutuhan akan bank sampah menjadi mendesak.
"Karena di sini tidak ada TPA, kita punya inspirasi teman-teman dari kelompok Mamaku akhirnya membuat program bank sampah di sini," jelas Heri, yang sebelumnya berprofesi sebagai sopir odong-odong.
Heri menjelaskan beberapa produk yang diproduksi bank sampah yakni furnitur, polybag organik atau wellbag untuk penanaman mangrove, wadong atau alat penangkap kepiting, kompos, cacahan plastik, hingga atap rumah dari anyaman daun nipah.
"Dari sampah-sampah kita melihat bagaimana caranya kita untuk bisa kreatif, di sini ada dari palet ini dari sampahnya nanti dibikin produk seperti kursi, meja, dan masih banyak lagi," tutur Heri.
Tidak hanya menjadi pendapatan baru bagi para pengurus, Heri menyebutkan Program Mamaku juga berhasil menciptakan kebiasaan baru pemilahan sampah rumah tangga oleh masyarakat setempat yang ingin menukarkan ke bank sampah.
"Masyarakat di sini menerima ya, istilahnya antusias juga, yang tadinya mereka buang sampah selalu sembarang di belakang rumah, dibakar biasanya kan, sekarang mereka sudah memilah di rumah-rumah masing-masing. Pasti ada imbalannya walaupun sedikit, tapi ada kebiasaan baru untuk mereka," jelas Heri.
Sementara itu, Officer CSR and SMEPP Kilang Cilacap, Lifania Riski Nugrahani, mengatakan konsep ekonomi sirkular yang tercipta dari Program Mamaku mendapatkan apresiasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilacap.
"Kita juga sempat berkunjung ke DLH dengan membawa inovasi kita, wellbag, terkait penggantian polybag dalam proses pembibitan. Itu sudah mendapatkan apresiasi dari Kepala DLH di Kota Kilacap," ungkapnya.
Efek Berganda Program Mamaku
Rato bersyukur program Mamaku ini memberikan berkah yang luar biasa bagi masyarakat Kutawaru. Efek berganda alias multiplier effect dari pengolahan sampah saja bisa menciptakan omzet jutaan rupiah per bulannya.
Tidak hanya dari Bank Sampah Abhipraya, program Mamaku juga mengelola Wisata Kampoeng Kepiting, yang menjadi primadona kuliner kepiting cangkang lunak khas Cilacap, wisata tur mangrove, hingga pengelolaan energi baru terbarukan (EBT).
"Di Kampoeng Kepiting, kita ada dua kelompok di situ, kita mempunyai omzet hampir Rp 80 sampai 90 juta per bulan, dan rata-rata mereka yang tadinya sama sekali enggak ada pekerjaan," jelas Rato.
Selain itu, Rato menyebutkan program Mamaku juga mengelola Pasar Amarta, satu-satunya pasar di Kutawaru yang buka setiap hari Minggu. Sebelum ada pasar ini, masyarakat Kutawaru harus menyeberangi sungai atau berkendara hingga 2 jam hanya untuk mendapatkan bahan pokok.
"Hampir semua warga Kutawaru itu kalau minggu berbondong-bondong ke sana, karena dari dulu mereka kalau mau jajan, mau beli sayur harus ke kota. Tapi dengan adanya Pasar Amarta, kemarin kita sudah catat ada sekitar 70 pedagang, omzet per pasar itu Rp 70 juta lebih, hampir Rp 3 miliar per tahunnya," ungkap Rato.
Program Mamaku juga memiliki Pusat Pelatihan dan Pedesaan Swadaya, dengan omzet mencapai Rp 12.000.000 per bulan, meliputi kegiatan budidaya sayur dan tanaman hias, azola, magot, hingga peternakan burung puyuh dan kambing.
Kemudian ada juga kegiatan Pesisir Produktif yang mencakup pembibitan dan penanaman mangrove, budidaya ikan dan kepiting, hingga silvofishery dengan omzet Rp 34.000.000 per bulan. Seluruh limbah atau sampah dari Program Mamaku kemudian dikelola di Bank Sampah Abhipraya.
Komitmen Keberlanjutan Pertamina di Kutawaru
Melalui dukungan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), program Mamaku menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat Kutawaru. Tercatat, 70 persen masyarakat Kutawaru berpendidikan SMP ke bawah, dan 73 persen masyarakat berpendapatan kurang dari Upah Minimum Kota (UMK) Cilacap.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis (TKB) Pertamina Agung Wicaksono menjelaskan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) ini, masyarakat menjadi mandiri ekonomi, bahkan mendapat dampak berganda, sehingga disebut sebagai program Mamaku.
βPertamina akan terus mendorong bagaimana sustainability atau keberlanjutan akan dilakukan di tempat-tempat di mana Pertamina beroperasi dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Jadi bukan hanya berdampak pada perusahaan namun juga berdampak baik bagi lingkungan dan sekitar,β ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (28/8).
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan, program Mamaku sejalan dengan upaya Pertamina dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya di bidang aksi iklim poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta Asta Cita Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat desa.
"Pertamina berkomitmen pada keberlanjutan, tidak hanya menjaga keberlanjutan bisnis, tetapi dapat berdampak positif bagi keberlanjutan masyarakat dan lingkungan yang sehat," jelas Fadjar.
