Menperin Targetkan Manufaktur Tumbuh 5,51% di 2026, Ditopang Industri Logam-Kayu

31 Desember 2025 11:29 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menperin Targetkan Manufaktur Tumbuh 5,51% di 2026, Ditopang Industri Logam-Kayu
Industri manufaktur ditargetkan tumbuh 5,51 persen pada 2026, lebih tinggi dari realisasi kuartal III 2025 yang tumbuh 5,17 persen.
kumparanBISNIS
Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan industri pengolahan nonmigas (IPNM) atau industri manufaktur pada tahun depan bisa tumbuh 5,51 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian industri manufaktur hingga kuartal III 2025 yang sebesar 5,17 persen.
"Dengan rasio IPNM terhadap pertumbuhan PDB sebesar 18,56 persen pada 2026. Sementara kontribusi PNM terhadap PDB nasional sampai kuartal III 2025 itu 17,27 persen," ujar Agus dalam bahan materi capaian kinerja industri manufaktur 2025 dan outlook 2026, Rabu (31/12).
Pertumbuhan manufaktur itu ditopang oleh berbagai sektor industri. Utamanya industri logam dasar yang ditargetkan tumbuh 14,00 persen pada tahun depan; industri pengolahan lainnya, jasa reparasi, dan pemasangan mesin ditargetkan tumbuh 6,45 persen; industri kimia, farmasi, dan obat ditargetkan tumbuh 5,26 persen; industri makanan dan minuman ditarget tumbuh 6,06 persen; dan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 5,19 persen.
Pegawai di pabrik garmen. Foto: Algi Febri Sugita/Shutterstock
Selain itu, industri alat angkutan ditargetkan tumbuh 2,93 persen pada 2026; disusul industri kertas dan barang dari kertas tumbuh 2,71 persen; industri karet dan barang dari karet tumbuh 1,85 persen, industri pengolahan tembakau tumbuh 1,67 persen; serta industri kayu, barang dari kayu tumbuh 1,58 persen.
Agus mengatakan, pemerintah menargetkan industri manufaktur tetap mampu menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional. "Yang kami inginkan sektor manufaktur ini harus menarik ekonomi. Mudah-mudahan seperti itu, karena trennya sudah terbentuk seperti itu, dua kuartal berturut-turut sektor manufaktur kita tumbuh di atas PDB nasional," jelasnya.
Menperin menjelaskan, sebanyak 78,39 persen produk manufaktur nasional diserap oleh pasar domestik. Sementara produk manufaktur yang diekspor baru mencapai 21,61 persen.
Tingkat keterisian atau utilisasi industri manufaktur hingga Oktober 2025 sebanyak 61,2 persen. Menurut Agus, tantangan utama untuk meningkatkan tingkat utilisasi industri adalah banjirnya impor produk di berbagai sektor manufaktur.
"Industri manufaktur nasional, hampir 80 persen produknya diserap dalam negeri, hanya 20 persen yang ekspor. Padahal, output manufaktur kita sekitar Rp 8.381 triliun. negara lain mereka fokus ke ekspor karena pasar mereka nggak sebesar Indonesia," tambahnya.
Capaian Industri pada 2025
Selama Januari-September 2025, sektor industri agro tumbuh 4,83 persen (yoy), dengan angka tenaga kerja mencapai 10 juta. Sektor ini menyumbang kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 8,97 persen.
Sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil tumbuh 5,32 persen hingga September 2025, dengan jumlah tenaga kerja 7,10 juta orang. Kontribusi sektor ini ke PDB nasional sebesar 3,88 persen.
Sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika tumbuh 5,53 persen per September 2025, dengan tenaga kerja 2,03 juta orang dan kontribusinya ke PDB nasional sebesar 4,3 persen.
Kinerja sektor industri aneka tumbuh 9,55 persen pada Janurai-September 2025, dengan jumlah tenaga kerja 932.697 dan kontribusi sektor aneka ke PDB nasional sebesar 0,12 persen.
Dorong Pendidikan Vokasi untuk SDM Industri
Sepanjang tahun 2025, Kemenperin berhasil mencetak 7.691 SDM industri kompeten sebagai bagian dari implementasi Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Pencapaian tersebut merupakan hasil dari berbagai program strategis yang dijalankan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, mulai dari pendidikan vokasi industri, pelatihan vokasi industri, hingga penguatan kompetensi industri 4.0.
Sepanjang tahun ini, unit pendidikan tinggi vokasi dan SMK di bawah Kemenperin telah meluluskan 5.386 lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri manufaktur.
β€œTingkat serapan lulusan ke industri pada tahun 2025 mencapai 68 persen pada saat setelah lulus dan akan mencapai 100 persen dalam waktu enam bulan setelah waktu kelulusan,” kata Kepala BPSDMI Doddy Rahadi.
Kemenperin juga mendorong wirausaha industri baru melalui program Inkubator Bisnis Balai Diklat Industri. Sepanjang 2025, program ini telah membina 27 wirausaha baru di berbagai sektor industri dengan total omzet mencapai Rp 8,6 miliar.
Trending Now