Mentan Sebut Nilai Ekspor Kelapa Bisa Tembus Rp 2.400 T dengan Hilirisasi
8 November 2025 17:37 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Mentan Sebut Nilai Ekspor Kelapa Bisa Tembus Rp 2.400 T dengan Hilirisasi
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut hilirisasi kelapa bisa jadi strategi utama meningkatkan nilai ekspor.kumparanBISNIS

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut hilirisasi kelapa bisa jadi strategi utama meningkatkan nilai ekspor nasional. Selain itu, hilirisasi kelapa juga menjadi cara meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah.
Amran mengatakan, saat ini nilai ekspor kelapa Indonesia mencapai Rp 24 triliun. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir kelapa terbesar di dunia dengan masih besarnya potensi pengembangan.
Jika hilirisasi dijalankan sesuai diagram pohon industri, maka nilai ekspor kelapa nasional bisa meningkat hingga 100 kali lipat atau setara Rp 2.400 triliun.
"Sekarang ekspor kelapa kita nilainya Rp 24 triliun, kita terbesar nomor satu dunia. Nah, ini kita hilirisasi, kalau sesuai diagram pohon industri itu bisa 100 kali lipat. Artinya apa, bisa Rp 2.400 triliun," ujar Amran di Kementan, Jumat (7/11).
Meski begitu, Amran mengungkapkan hitungan tersebut hanya secara teori. Sehingga bisa jadi hanya setengahnya, atau bahkan 20 kali lipat.
Selain itu, hilirisasi kelapa juga menurutnya mampu memperkuat rantai nilai industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan.
Amran menuturkan efek hilirisasi sudah mulai dirasakan di lapangan, salah satunya di Maluku Utara, di mana harga kelapa naik dari Rp 600 menjadi Rp 3.500 per butir atau sekitar 500 persen.
Ia optimistis harga kelapa bisa terus meningkat hingga Rp 6.000 per butir atau naik 1.000 persen, apabila seluruh rantai produksi dan pengolahan berjalan optimal secara nasional.
"Yang kami baru kunjungan di Maluku Utara, harga kelapa sebelum kita hilirisasi harganya Rp 600 per biji. Sekarang Rp 3.500 per biji, itu naik kurang lebih 500 persen," ujarnya.
Dengan potensi tersebut, Amran menegaskan, hilirisasi kelapa bukan sekadar strategi industri, tetapi tonggak penting dalam membangun ekonomi rakyat dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar kelapa dunia.
"Dan kita harap, harusnya harganya minimal Rp 5.000 per butir. Dan bisa naik 1.000 persen harusnya. Nah, itulah keuntungan," ujarnya.
