Optimisme Konsumen Turun, Warga AS Tertekan Inflasi-Pengangguran
23 November 2025 14:30 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Optimisme Konsumen Turun, Warga AS Tertekan Inflasi-Pengangguran
Indeks konsumen di AS diproyeksi turun ke level terendah, warga AS tertekan inflasi-pengangguran, diperparah dengan government shutdown.kumparanBISNIS

Sentimen konsumen, yang mengindikasikan optimisme konsumen, di Amerika Serikat turun pada November dibandingkan bulan sebelumnya, berdasarkan survei bulanan Universitas Michigan.
Indeks utama survei turun ke level 51, mendekati salah satu posisi terendah dalam sejarah survei ini. Angka akhir tersebut sedikit lebih tinggi dari estimasi awal November sebesar 50,3 yang dirilis dua minggu lalu, namun tetap lebih rendah dibandingkan 53,6 pada Oktober. Hasil ini sesuai dengan proyeksi para ekonom yang disurvei The Wall Street Journal.
Direktur survei, Joanne Hsu, menjelaskan bahwa konsumen masih menghadapi tekanan inflasi yang terus berada di atas tren selama hampir lima tahun. Sepanjang paruh pertama November, masyarakat juga terdampak oleh penutupan pemerintahan yang berlangsung lama dan memecahkan rekor, sehingga mengganggu distribusi bantuan pangan, layanan penerbangan, hingga gaji pegawai federal.
Kecemasan konsumen juga menjalar ke kondisi pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen pada September, meski penciptaan lapangan kerja bersih mencapai 119.000. Badan statistik federal masih memperbarui data seiring normalisasi aktivitas ekonomi setelah masa lockdown.
Sejak musim semi, banyak ekonom memperkirakan perusahaan masih menambah posisi baru dalam jumlah yang cukup untuk menahan lonjakan pengangguran. Namun, situasinya jauh berbeda dibanding awal dekade ketika kandidat kerja mudah mendapatkan pekerjaan. Kini, durasi pencarian kerja lebih panjang, membuat frustrasi, dan berita PHK massal semakin memperburuk sentimen tenaga kerja.
Survei terbaru juga menunjukkan jurang perbedaan dalam optimisme konsumen Amerika: mereka yang memiliki portofolio saham besar cenderung lebih percaya diri dibandingkan konsumen dengan kepemilikan yang minim, karena reli pasar saham memberi keuntungan besar bagi investor.
Namun rasa optimisme tersebut dapat teruji karena November menjadi bulan yang berat bagi Wall Street. S&P 500 turun sekitar 5 persen dari puncaknya pada akhir Oktober, terguncang oleh kekhawatiran tentang apakah investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan benar-benar mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
Pelemahan pasar tenaga kerja mendorong Federal Reserve memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada September dan Oktober. Namun, para pejabat kini terbelah antara mempertahankan suku bunga tinggi pada Desember untuk melawan inflasi, atau kembali menurunkannya demi menopang pasar tenaga kerja.
Walaupun tekanan inflasi dan lemahnya pasar kerja membebani konsumen, kekhawatiran inflasi jangka panjang setidaknya belum semakin buruk. Survei Universitas Michigan mencatat bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang turun menjadi 3,4 persen pada bulan ini dari 3,9 persen pada Oktober, menjadi sinyal positif bagi The Fed karena kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan dapat memicu inflasi itu sendiri.
