Penambang Kripto Beralih ke AI, Bitcoin Kini Bukan Andalan Utama Lagi
19 Oktober 2025 7:44 WIB
·
waktu baca 4 menit
Penambang Kripto Beralih ke AI, Bitcoin Kini Bukan Andalan Utama Lagi
Perusahaan yang fokus menambang kripto mulai dianggap sebagai perusahaan infrastruktur teknologi karena melirik bisnis AI alih-alih membeli Bitcoin.kumparanBISNIS

Saham-saham perusahaan teknologi besar pendukung ekosistem Bitcoin kembali mencatat kinerja lebih baik dari aset kripto itu sendiri. Perusahaan-perusahaan tersebut kini mulai mengubah arah bisnisnya ke model hybrid yang menekankan pada pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan komputasi berkinerja tinggi (High-Performance Computing/HPC).
Mengutip Bloomberg, perusahaan-perusahaan ini kerap bergantung pada fluktuasi harga Bitcoin yang sangat volatil hingga dulunya dikenal sebagai “penambang” karena dianggap mirip dengan proses menambang emas.
Dua tahun lalu, sektor ini sempat menikmati keuntungan besar di awal ledakan AI, tetapi setahun kemudian harga saham mereka anjlok akibat menurunnya profitabilitas penambangan dan meningkatnya persaingan.
Meskipun pasar kripto mengalami tekanan selama sepekan terakhir, Bitcoin masih mencatat kenaikan sekitar 14 persen sepanjang 2025, dan kini berada tak jauh dari rekor tertinggi mendekati USD 126.000 yang dicapai pada awal bulan ini. Antusiasme investor meningkat tajam sejak pemerintahan Donald Trump yang mengadopsi kebijakan pro-kripto pada periode kedua.
Namun, pemenang terbesar dalam kebangkitan pasar kripto tahun ini bukanlah para pemegang Bitcoin, melainkan para penambang itu sendiri. Sebuah dana yang melacak kinerja perusahaan penambangan kripto tercatat melonjak lebih dari 150 persen sejak awal tahun.
Berubah Jadi Perusahaan Infrastruktur Teknologi
Tidak seperti siklus sebelumnya, ketika harga saham penambang hanya naik mengikuti pergerakan Bitcoin, kini perusahaan-perusahaan tersebut mulai dipandang sebagai perusahaan infrastruktur teknologi.
“Investor kini hampir sepenuhnya menilai perusahaan penambang Bitcoin dari potensi mereka di sektor HPC/AI. Kurang dari 10 persen pembicaraan kami tentang perusahaan penambang masih berkaitan langsung dengan Bitcoin dan aktivitas penambangan,” ujar analis di Needham & Co.
Contohnya adalah Cipher Mining Inc. dan IREN Ltd., dua perusahaan yang sahamnya di bursa Nasdaq masing-masing melonjak sekitar 300 persen dan 500 persen sepanjang tahun ini setelah beralih dari fokus utama pada penambangan Bitcoin ke pengembangan infrastruktur AI.
Pada awal 2025, Cipher menandatangani perjanjian kolokasi senilai sekitar USD 3 miliar dengan Fluidstack, yang sebagian didukung oleh Google dengan jaminan kewajiban sewa sebesar USD 1,4 miliar, sebagai imbalan atas waran yang mewakili 5,4 persen kepemilikan saham. Kesepakatan ini menjadi salah satu sinyal paling jelas bahwa batas antara penambangan kripto dan komputasi AI kini semakin kabur.
Sementara itu, IREN baru saja menyelesaikan penerbitan obligasi konversi senilai USD 1 miliar pada Rabu (15/10) lalu. Di sisi lain, TeraWulf Inc., perusahaan penambang asal AS, mengumumkan rencana untuk menerbitkan obligasi senior senilai USD 3,2 miliar guna membiayai ekspansi pusat data Lake Mariner di Barker, New York.
Perusahaan berbasis di Singapura, Bitdeer Technologies Group, juga melonjak hampir 30 persen pada Rabu (15/10) setelah mengumumkan rencana mengonversi sebagian besar lokasi penambangan mereka menjadi pusat data AI, termasuk fasilitas 570 megawatt di Clarington, Ohio. Perusahaan itu menyebutkan bahwa dalam skenario terbaik, konversi penuh bisa menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari USD 2 miliar pada akhir 2026.
“Bagi Bitdeer, AI dan HPC bukan pengganti, melainkan pelengkap bagi kegiatan penambangan, kami tetap fokus pada efisiensi penambangan mandiri, sambil secara selektif mengonversi lokasi yang layak menjadi fasilitas AI/HPC dengan imbal hasil jangka panjang yang kuat,” ujar Wakil Presiden Bidang Pasar Modal dan Strategi di Bitdeer.
Peralihan ke AI terjadi setelah halving Bitcoin tahun lalu yang memotong imbalan penambang dari 6,25 menjadi 3,125 Bitcoin per blok. Sejak saat itu, meningkatnya tingkat kesulitan jaringan dan menurunnya volume transaksi telah menekan margin keuntungan. Bahkan harga Bitcoin yang sempat mencapai rekor tertinggi baru-baru ini pun belum banyak membantu memperbaiki unit economics para penambang.
Menurut Wolfie Zhao, analis di TheMinerMag, pergeseran ke AI dan HPC membuat perusahaan memperlambat atau menghentikan ekspansi hashrate, ukuran total kapasitas penambangan industri, karena sebagian daya listrik mereka kini dialihkan untuk kegiatan komputasi. Ia mencatat bahwa Riot Platforms Inc., IREN, dan Bitfarms telah menandakan tidak akan menambah kapasitas hashrate dalam waktu dekat.
“Fokusnya kini bukan lagi pada seberapa besar hashrate bisa ditambah, melainkan seberapa efisien energi bisa dimanfaatkan,” ujar Wolfie. Dengan harga hash Bitcoin yang berada di titik terendah sepanjang masa. Pergeseran ini tidak terhindarkan sehingga menandai fase yaitu penambangan dan komputasi kini berbagi ‘ekonomi energi’ yang sama.
“Pendapatan per megawatt dan margin EBITDA jauh lebih tinggi untuk kolokasi HPC dan AI dibandingkan dengan penambangan,” tambah Todaro dari Needham. Katanya, dengan volatilitas harga Bitcoin dan risiko halving, pasar modal kini lebih menghargai pusat data berfokus AI dibandingkan penambang tradisional.
