Perang, Emas, hingga Embargo UEA: Krisis yang Mengguncang Sudan
2 November 2025 12:44 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Perang, Emas, hingga Embargo UEA: Krisis yang Mengguncang Sudan
Kekerasan kembali terjadi di Sudan, sedikitnya ada 2.000 orang tewas oleh RSF. UEA diduga dibalik kekacauan ini karena ingin emas Sudan.kumparanBISNIS

Kekerasan kembali terjadi di Sudan. Sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas dalam pembantaian yang dilakukan oleh Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) di kota El-Fasher, Sudan Barat, pekan ini.
Perang saudara di Sudan sendiri telah berlangsung sejak April 2023, melibatkan Militer Sudan melawan pasukan paramiliter RSF. Konflik yang bermula di ibu kota Khartoum itu kini meluas ke berbagai kota lain, menewaskan puluhan ribu orang dan membuat sekitar 12 juta warga kehilangan tempat tinggal.
βMiliter bergantung pada UEA untuk mata uang keras dari ekspor emas tetapi juga menuduhnya mendukung paramiliter Pasukan Dukungan Cepat yang merupakan saingannya dalam perang saudara selama dua setengah tahun yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan orang mengungsi,β tulis Reuters, dikutip Minggu (2/11).
UEA, yang membantah mendukung RSF namun hubungannya dengan pemerintah militer Sudan semakin tegang, menghentikan seluruh penerbangan komersial dari Port Sudan sejak awal Agustus. Padahal, kota itu merupakan jalur utama perdagangan internasional Sudan, menurut Otoritas Penerbangan Sipil Sudan dan data pelacakan penerbangan.
Selain penerbangan, lalu lintas pengiriman melalui pelabuhan UEA ke dan dari Sudan juga ikut terhenti, berdasarkan pemberitahuan pengiriman dan keterangan dari lima sumber industri.
Dampaknya terasa signifikan. Penurunan ekspor emas legal dari wilayah yang dikuasai militer membuat nilai Pound Sudan anjlok dari 2.200 menjadi 3.600 per dolar AS, menurut tiga pedagang emas dan mata uang. Sebagai perbandingan, sebelum perang pecah pada April 2023, nilai tukarnya berada di kisaran 600 per dolar.
Pihak berwenang di UEA, yang merupakan pusat perdagangan emas terbesar kedua di dunia, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Namun pada Agustus lalu, UEA menuduh tentara Sudan melakukan peningkatan tuduhan palsu dan propaganda, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Sementara itu, Kementerian Keuangan Sudan juga tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Anjloknya nilai tukar tersebut mencerminkan betapa besar ketergantungan ekonomi Sudan terhadap UEA, meski hubungan diplomatik kedua negara kini memburuk. Berdasarkan data bank sentral Sudan, UEA mengimpor hampir 90 persen dari total ekspor emas legal Sudan sekitar 8,8 ton pada paruh pertama 2025. Ekspor ini menghasilkan hampir USD 840 juta, menjadikannya sumber devisa terbesar Sudan sejauh ini.
Pemerintah Sudan memanfaatkan ekspor emas untuk membiayai impor komoditas strategis seperti bahan bakar dan gandum. Namun, sejak larangan penerbangan diberlakukan pada Agustus, harga kedua komoditas tersebut melonjak tajam di wilayah yang dikuasai tentara, menurut keterangan warga setempat.
Selain ekspor resmi, UEA juga disebut menjadi tujuan utama emas selundupan Sudan, yang jumlahnya mencapai empat kali lipat dari produksi resmi, menurut Mubarak Ardol, mantan kepala Sudan Minerals Corporation.
Para analis dan pelaku perdagangan menyebut baik militer maupun RSF turut terlibat dalam aktivitas penyelundupan emas tersebut.
