Pertamina Bangun Pilot Plant Green Hydrogen, Jadi Alternatif Energi Bersih

10 September 2025 11:03 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertamina Bangun Pilot Plant Green Hydrogen, Jadi Alternatif Energi Bersih
Pertamina telah melakukan groundbreaking pilot plant green hydrogren Ulubelu pada Selasa (9/9).
kumparanBISNIS
PT Pertamina (Persero) resmi melakukan groundbreaking pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu di Ulubelu, Lampung, Selasa (9/9/2025). Foto: Dok. Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
PT Pertamina (Persero) resmi melakukan groundbreaking pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu di Ulubelu, Lampung, Selasa (9/9/2025). Foto: Dok. Pertamina
PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) resmi melakukan groundbreaking pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu di Ulubelu, Lampung, Selasa (9/9).
Fasilitas ini menjadi yang pertama di dunia dengan mengintegrasikan teknologi Anion Exchange Membrane (AEM) electrolyzer dengan energi panas bumi sebagai sumber listrik bersih.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan pemanfaatan panas bumi sebagai energi primer untuk memproduksi hidrogen hijau adalah langkah strategis yang menempatkan Indonesia selangkah lebih dekat dengan tujuan ketahanan energi nasional.
"Green Hydrogen diyakini akan menjadi game changer dalam transisi energi global karena sifatnya yang fleksibel dan dapat menjadi komoditas ekspor di masa depan," ujar Yuliot melalui keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (10/9).
Proyek di Ulubelu ini dirancang sebagai laboratorium energi bersih. Sehingga operasi dari empat unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Ulubelu, dengan kapasitas total 220 MW, tidak menambah emisi karbon.
β€œDengan semakin banyak alternatif pilihan, masyarakat tentu akan membandingkan mana yang lebih efektif dan lebih efisien. Pilihan energi terbarukan yang lebih bervariatif akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam memilih kebutuhan sumber energi yang jauh lebih berkualitas namun tidak berdampak negatif terhadap lingkungan,” jelas Yuliot.
PT Pertamina (Persero) resmi melakukan groundbreaking pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu di Ulubelu, Lampung, Selasa (9/9/2025). Foto: Dok. Pertamina
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan groundbreaking ini bukan hanya tonggak sejarah, tapi langkah konkret Pertamina group untuk mewujudkan visi menjadi perusahaan energi bersih kelas dunia.
Melalui inisiatif ini, lanjut Simon, Pertamina membuktikan teknologi green hydrogen berbasis panas bumi dapat diterapkan secara nyata. Proyek ini juga menjadi fondasi regulasi, standar, dan model bisnis hidrogen di Indonesia, dan menjadi ekosistem energi baru yang bisa direplikasi di wilayah lain.
"Dari Ulubelu, kita menunjukkan kepada dunia bahwa transisi energi bisa diwujudkan dengan mengandalkan kekuatan energi bersih dari tanah air sendiri," ujar Simon.
Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu ini diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran teknologi dan uji kelayakan komersial, termasuk studi permintaan serta kualitas produk untuk fase berikutnya.
Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dengan nilai investasi sekitar USD 3 juta atau setara Rp 49 miliar. Hidrogen hijau yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk uji pasar, termasuk ke sektor transportasi dan industri.
Fasilitas ini ditargetkan mampu memproduksi hingga Β±100 kilogram green hydrogen per hari dengan tingkat efisiensi 82–88 persen menggunakan teknologi elektrolisis membran modern (Anion Exchange Membrane/AEM) yang lebih ramah lingkungan, hemat energi, dan efisien dibandingkan teknologi konvensional.
Proyek pilot hidrogen hijau di Ulubelu bertujuan sebagai tempat uji kelayakan komersial. Mulai dari biaya, efisiensi teknologi, hingga model bisnis. Meskipun biayanya kini lebih tinggi ketimbang hidrogen fosil (grey hidrogen), upaya peningkatan skala dan kebijakan diharapkan menurunkan biaya hidrogen hijau agar lebih kompetitif.
Pemilihan Ulubelu sebagai lokasi proyek didasarkan kepada infrastruktur panas bumi yang sudah mapan, pasokan listrik bersih yang stabil, ketersediaan cooling tower untuk kondensat, serta posisi yang dekat dengan jalur distribusi Sumatera-Jawa membuat lokasi ini cocok untuk menguji integrasi hidrogen ke jaringan energi dan pasar industri.
Trending Now