Petani Jelaskan Penyebab Tetes Tebu Lokal Numpuk di Pabrik
19 September 2025 19:50 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Petani Jelaskan Penyebab Tetes Tebu Lokal Numpuk di Pabrik
Impor etanol dan tetes tebu dari Thailand bikin harga lokal anjlok dan menumpuk di pabrik. Pemerintah terbitkan larangan terbatas sebagai solusi.kumparanBISNIS

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyatakan bahwa impor etanol dan tetes tebu atau molase asal Thailand telah membanjiri pasar Indonesia.
Kondisi ini menyebabkan tetes tebu petani dalam negeri yang tak kunjung laku alias menumpuk di pabrik.
Ketua Umum APTRI Fatchuddin Rosyidi mengungkapkan harga tetes tebu di tingkat petani sebelumnya stabil di kisaran Rp 2.100 hingga Rp 2.400 per kilogram selama lima tahun terakhir.
Namun, setelah terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 16 Tahun 2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor, harga tersebut anjlok hingga hanya Rp 900 per kilogram.
Fatchuddin pun berkata bahwa aturan ini membuat produksi tetes petani dalam negeri tidak terserap industri sehingga menumpuk dan menekan harga.
βTiba-tiba ada Permendag yang membolehkan impor tetes dari Thailand untuk digunakan etanol,β kata Fatchuddin kepada wartawan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Jumat (19/9).
Ia pun menuturkan bahwa sejak pintu impor dibuka awal tahun ini, industri lebih memilih tetes dan etanol impor dari Thailand karena dinilai lebih murah. Hal itu menyebabkan produk lokal tak terserap.
βSelama lima tahun ini, nggak pernah namanya tetes (tebu) turun. Begitu ada Permendag 16, kemudian turun. Kenapa? Dibolehkan impor dari Thailand,β jelas Fatchuddin.
Katanya, terdapat dua produk yang diimpor dari Thailand, yakni etanol dan tetes tebu. Pada tahun ini, ia mengungkapkan bahwa serapan tetes tebu baru mencapai 40 persen dari total produksi 1,6 juta ton. Dengan demikian, sekitar 60 persen sisanya masih menumpuk di tangki pabrik.
Fatchuddin mengkhawatirkan kondisi tersebut bisa mengganggu jalannya operasional pabrik gula karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Jika tangki sudah penuh, pabrik terpaksa menghentikan proses penggilingan. βTangki ini kalau kemudian tidak diserap tetesnya, lainnya kan pabrik bisa mandek,β tambah Fatchuddin.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono berharap impor etanol dapat diatur kembali ke depannya agar tidak ada penumpukan tetes tebu di pabrik gula.
Sudaryono juga mengaku isu ini sudah diangkat olehnya dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Kemenko Pangan. Nantinya, progres isu ini juga akan terus dilaporkan kepada Komisi IV DPR RI.
Adapun per Jumat (19/9) Presiden RI Prabowo Subianto resmi menginstruksikan larangan terbatas (Lartas) impor untuk komoditas etanol dan turunan singkong yaitu tepung tapioka.
