PLN Uji Cofiring Hidrogen di PLTDG Bali Pesanggaran
1 Desember 2025 14:25 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
PLN Uji Cofiring Hidrogen di PLTDG Bali Pesanggaran
Pengujian dilakukan PLN IP dengan 3 variasi beban. Mulai dari 75 persen hingga 100 persen.kumparanBISNIS

PLN Indonesia Power melakukan uji coba lanjutan cofiring hidrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bali Pesanggaran. Pengujian pra-operasi ini berlangsung pada 18-20 November 2025 dan menjadi kelanjutan dari uji hidrogen yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Agus Pramono turut hadir menyaksikan proses pengujian.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyampaikan bahwa pengujian cofiring hidrogen merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mengeksplorasi teknologi energi bersih. βPengujian ini dilakukan untuk melihat potensi penerapan hidrogen di aset pembangkitan kami, sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060,β ujar Bernadus dalam keterangannya, Senin (1/12).
VP Technology Development PLN Indonesia Power, Hedwig Lunga Sampe Pajung, menjelaskan pengujian tahun ini dilakukan pada tiga variasi beban: 75 persen, 85 persen, dan 100 persen kapasitas mesin. Rasio cofiring hidrogen tercatat 23 persen pada beban 75 persen, 22 persen pada 85 persen, dan 17 persen pada 100 persen. Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari performa mesin pada berbagai kondisi operasi dan menentukan batas maksimum penggunaan hidrogen yang aman.
Secara teknis, pengujian menggunakan Pressure Regulator System (PRS) berbasis Programmable Logic Controller (PLC) dan Human Machine Interface (HMI) untuk pengaturan injeksi hidrogen. Sistem ini diharapkan membuat proses suplai hidrogen lebih stabil dan presisi.
Hasil awal menunjukkan indikasi peningkatan efisiensi pembakaran. Konsumsi energi total (gas alam + hidrogen) dilaporkan lebih rendah dibanding pembakaran murni gas alam, dengan penurunan kadar emisi karbon monoksida (CO) saat cofiring).
Uji cofiring hidrogen ini melibatkan beberapa pihak. Institut Teknologi Bandung (ITB) bertindak sebagai konsultan perencanaan dan pelaksanaan, PDG mengembangkan dan membuat PRS, sementara Wartsila menjadi konsultan teknis pabrikan. Dengan pengujian ini, PLN Indonesia Power mengevaluasi potensi hidrogen sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi pembangkit listrik di Indonesia.
