Populer: Luhut Bicara Izin Bandara IMIP; Laba Garuda Indonesia Anjlok
2 Desember 2025 6:17 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Populer: Luhut Bicara Izin Bandara IMIP; Laba Garuda Indonesia Anjlok
Luhut buka suara soal polemik Bandara PT IMIP. Jadi berita populer bersamaan dengan laba Garuda Indonesia yang anjlok. kumparanBISNIS

Selanjutnya adalah berita PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang membukukan penurunan pendapatan sebesar 10,53 persen secara year on year (YoY) menjadi USD 842,16 juta atau sekitar Rp 14,03 triliun (kurs Rp 16.663 per Dolar AS) pada kuartal III 2025. Berikut ringkasannya:
Luhut Bicara Izin Bandara IMIP
Menyoal izin bandara IMIP, Luhut mengakui izin pembangunan bandara tersebut memang didapat darinya saat menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi era kepresidenan Jokowi.
Ia menjelaskan, izin tersebut sebenarnya lazim diberikan sebagai fasilitas untuk investor sebagaimana yang terjadi di beberapa negara lain.
βMengenai izin pembangunan lapangan terbang, keputusan itu diambil dalam rapat yang saya pimpin bersama sejumlah instansi terkait. Itu diberikan sebagai fasilitas bagi investor, sebagaimana lazim dilakukan di negara-negara seperti Vietnam dan Thailand,β kata Luhut dalam keterangan tertulis, Senin (1/12).
Apalagi, kata Luhut nilai investasi di Morowali mencapai USD 20 miliar. Selain itu, investasi tersebut menurutnya juga sudah menyerap 100 ribu tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan sampai saat ini.
Laba Garuda Indonesia Anjlok
Perseroan mencatat laba bersih perusahaan juga anjlok 29,65 persen YoY menjadi USD 37,93 juta atau sekitar Rp 632,03 miliar. Manajemen menyebut program pemeliharaan pesawat menjadi faktor utama yang menekan kinerja.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menjelaskan program maintenance yang sedang berlangsung secara langsung menekan kapasitas produksi perusahaan. βSecara keseluruhan, total pendapatan turun 10,5 persen year on year terutama disebabkan oleh program maintenance yang sedang kita lakukan sekarang,β ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (1/12).
Berkurangnya armada operasional sementara menurunkan volume penumpang dan kargo. βProgram ini secara tidak langsung mempengaruhi pendapatan, laba operasional, dan laba bersih akibat berkurangnya ketersediaan pesawat yang bisa serviceable,β lanjutnya.
Secara rinci, pendapatan penumpang turun 11,36 persen menjadi USD 618,91 juta, pendapatan kargo turun 3,81 persen menjadi USD 41,88 juta, dan unscheduled revenue tergerus 17,20 persen menjadi USD 93,71 juta. Sementara itu, pendapatan lainnya naik tipis 1,48 persen menjadi USD 87,65 juta.
