Produk Furnitur Kena Tarif AS, HIMKI Bakal Diversifikasi Pasar ke Eropa-Timteng

1 Oktober 2025 14:22 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produk Furnitur Kena Tarif AS, HIMKI Bakal Diversifikasi Pasar ke Eropa-Timteng
Mencari pasar baru di luar negeri jadi opsi yang bisa ditempuh HIMKI untuk pasarkan furnitur usai kena tarif impor hingga 50 persen dari AS.
kumparanBISNIS
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur dalam gelaran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025, Jakarta International Expo (JiExpo), Kamis (6/3/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur dalam gelaran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025, Jakarta International Expo (JiExpo), Kamis (6/3/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenakan tarif sebesar 30 sampai 50 persen untuk impor produk furnitur. Merespons itu, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) akan melakukan diversifikasi pasar ekspor ke Eropa sampai Timur Tengah
Sebelumnya Trump mengenakan tarif 50 persen untuk lemari dapur dan meja rias kamar mandi impor serta tarif 30 persen untuk furnitur berlapis kain. Semua bea masuk baru ini akan berlaku mulai 1 Oktober sebagai upaya menghidupkan kembali bisnis furnitur AS.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menuturkan diversifikasi pasar tersebut akan dilakukan dengan memanfaatkan beberapa perjanjian dagang yang sudah ada.
โ€œHIMKI bersama pelaku usaha sudah menyiapkan strategi diversifikasi pasar. Eropa melalui jalur EU-CEPA yang baru ditandatangani akan jadi prioritas, Kanada juga terbuka melalui perjanjian dagang baru. Selain itu, Timur Tengah, dan Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh) punya prospek besar,โ€ kata Abdul kepada kumparan, Rabu (1/10).
Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Ia juga menjelaskan selama ini pasar AS memang masih memegang kontribusi yang besar atau sekitar 40 persen dari total ekspor furnitur Indonesia. Maka dari itu, keberadaan tarif untuk produk furnitur tersebut mengkhawatirkan industri.
โ€œJadi (AS) memang dominan dibanding Uni Eropa, Jepang, Timur Tengah, atau Australia. Karena itu tarif baru ini jelas mengkhawatirkan. Namun inilah momentum bagi Indonesia untuk mempercepat diversifikasi pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah produk agar tidak terlalu bergantung pada satu negara tujuan,โ€ ujarnya.
Abdul menyebut HIMKI sangat HIMKI sangat menyayangkan adanya kebijakan tarif tinggi dari AS terhadap produk furnitur. Padahal, selama ini furnitur Indonesia menurutnya telah menjadi bagian penting dari rantai pasok global dengan kualitas, desain, dan keberlanjutan yang kuat.
โ€œKami menilai kebijakan tarif ini kontraproduktif karena justru menekan konsumen di AS yang selama ini menikmati furnitur dengan harga kompetitif dari Indonesia,โ€ kata Abdul.
Ke depan, HIMKI juga berencana untuk melakukan advokasi bersama pemerintah agar ada negosiasi ulang atau relaksasi tarif melalui forum dagang bilateral maupun multilateral.
Trending Now