Punya Lebih dari Satu Paylater, Ini Alasan Gen Z Sulit Kelola Keuangan

28 September 2025 10:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Punya Lebih dari Satu Paylater, Ini Alasan Gen Z Sulit Kelola Keuangan
Banyak Gen Z yang terjebak pada utang paylater dan tidak mampu membayarnya. Mengapa demikian? Ini penjelasannya!
kumparanBISNIS
Ilustarasi generasi muda yang pusing karena menumpuk utang. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustarasi generasi muda yang pusing karena menumpuk utang. Foto: Shutterstock
Utang menumpuk dan sulit membayar, itulah citra yang sempat lekat di kalangan Gen Z. Hal ini terjadi karena kebiasaan finansial mereka yang buruk di usia muda dan berdampak jangka panjang secara signifikan.
Ya, banyak anak muda yang mengalami kesulitan dalam membangun kestabilan ekonomi di masa dewasa karena terjebak dalam siklus utang yang sulit diputus.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan paylater secara berlebihan. Tak heran, sebab banyak anak muda yang menganggap metode pambayaran ini sebagai solusi cepat untuk mendapatkan barang tanpa menyadari beban keuangannya di kemudian hari.

1. Kurang Pemahaman Keuangan Dasar

Generasi Z, meski akrab dengan teknologi digital dan tren, juga sering memiliki pemahaman yang minim manajemen keuangan dasar. Mereka cenderung melihat paylater sebagai alat pembayaran yang praktis tanpa sepenuhnya memahami konsekuensi bunga dan cicilan yang harus dibayar.
Akibatnya, mereka mudah tergoda untuk menggunakan lebih dari satu platform paylater demi memenuhi kebutuhan konsumtif.
Padahal, penting bagi setiap orang untuk paham prinsip dasar seperti menyusun anggaran, tabungan, dan investasi sebelum menggunakan alat keuangan seperti paylater.
Risiko terjerat utang pun semakin besar jika seseorang tidak punya pemahaman tersebut. Misalnya, banyak yang tidak menyadari bahwa penggunaan paylater dengan bunga tinggi dapat menambah beban finansial jika tidak dilunasi tepat waktu. Belum lagi adanya denda keterlambatan yang bisa menggunung jika tidak lekas dibayarkan.

2. Gaya Hidup Konsumtif yang Dipicu Media Sosial

Media sosial menjadi salah satu pemicu gaya hidup konsumtif di kalangan Gen Z. Iklan dan promosi di berbagai platform sering menampilkan produk yang seolah-olah β€œwajib dimiliki”. Akibatnya, banyak yang merasa perlu membeli barang tertentu hanya demi mengikuti tren atau mendapatkan validasi sosial. Jalan pintas yang dipilih tidak jarang adalah menggunakan paylater.
Padahal, jika digunakan dengan bijak, paylater justru bisa lebih bermanfaat untuk kebutuhan produktif. Misalnya, membeli iPhone 17 bukan hanya karena FOMO, melainkan karena ada kebutuhan nyata untuk membuat konten yang lebih berkualitas dan berpotensi menghasilkan penghasilan tambahan. Inilah mindset yang seharusnya diterapkan Gen Z dalam memanfaatkan paylater.
Beberapa platform paylater seperti Kredivo menawarkan cicilan ringan dengan bunga rendah mulai dari 1,99 persen per bulan. Namun, tanpa perencanaan matang, limit kredit hingga Rp 50 juta yang diberikan kepada member Premium bisa berubah menjadi jebakan finansial. Karena itu, penting bagi Gen Z untuk memahami cara menggunakan paylater secara sehat demi menjaga kondisi keuangan tetap stabil.

3. Kurangnya Disiplin dalam Pengelolaan Utang

Tantangan terbesar dalam penggunaan paylater adalah kurangnya disiplin membayar tagihan tepat waktu. Sifatnya yang fleksibel sering membuat pengguna menunda pembayaran hingga tenggat akhir, yang pada akhirnya menumpuk bunga dan denda. Kebiasaan ini jelas menambah beban keuangan.
Solusinya, pengguna perlu menyusun jadwal pembayaran yang teratur dan membuat prioritas antara kebutuhan serta keinginan. Dengan begitu, mereka bisa menghindari perilaku impulsif dan meminimalkan risiko terjebak utang berlebih.

4. Terlalu Banyak Pilihan Platform PayLater

Meningkatnya popularitas paylater membuat banyak platform bermunculan, masing-masing dengan fitur dan promo menarik. Namun bagi Gen Z, kondisi ini bisa menjadi bumerang karena muncul keinginan untuk mencoba semua layanan. Akibatnya, banyak yang memiliki lebih dari satu akun paylater aktif, sehingga pengelolaan keuangan menjadi makin rumit.
Memiliki banyak akun meningkatkan risiko lupa membayar tagihan hingga bingung menghitung total utang yang harus dilunasi. Karena itu, langkah bijak adalah membatasi jumlah platform yang digunakan. Pilihlah paylater yang paling sesuai kebutuhan, memberikan manfaat jelas, serta sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

5. Kurangnya Fokus pada Tujuan Jangka Panjang

Gen Z cenderung lebih fokus pada tujuan jangka pendek, seperti membeli gadget terbaru atau mengikuti tren fashion, dibanding memikirkan masa depan finansial. Paylater pun sering dipakai untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap rencana jangka panjang, misalnya membeli rumah, mengumpulkan dana darurat, atau persiapan pensiun.
Perubahan pola pikir menjadi lebih berorientasi jangka panjang sangat penting. Dengan menetapkan target tabungan atau investasi, Gen Z bisa mengurangi kebiasaan konsumtif sekaligus menggunakan paylater secara lebih bijak. Tujuan finansial yang jelas akan membantu mereka menjaga keseimbangan antara menikmati tren dan membangun masa depan.
Trending Now