Rasio Utang Pemerintah Sentuh 40% PDB, Ekonom Ingatkan Tekanan Fiskal Meningkat
25 Mei 2025 18:50 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Rasio Utang Pemerintah Sentuh 40% PDB, Ekonom Ingatkan Tekanan Fiskal Meningkat
Ekonom mengingatkan agar utang pemerintah tetap dijaga sesuai kapasitas fiskalnya, jangan sampai melebihi penerimaan negara.kumparanBISNIS

Angka tersebut masih dalam batas aman, yakni di bawah batas maksimal 60 persen dari PDB sesuai Undang-Undang Keuangan Negara. Namun, para ekonom memperingatkan posisi utang pemerintah saat ini menandakan tekanan fiskal yang kian besar. Terutama jika melihat tren pertumbuhan utang yang melebihi kapasitas penerimaan negara.
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai permasalahan utama bukan terletak pada nominal rasio utang itu sendiri. Melainkan pada kecepatannya tumbuh dan implikasinya terhadap ruang belanja negara.
"Pertumbuhan utang kita lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi dan kapasitas fiskal. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, rasio bunga utang terhadap penerimaan negara menunjukkan tren memburuk," kata Yusuf kepada kumparan, Minggu (25/5).
Yusuf menyebut, beban pembayaran bunga dan cicilan pokok di tahun ini semakin menggerus ruang fiskal untuk belanja, yang bersifat produktif dan mendukung pertumbuhan. Dia bilang, risiko fiskal terbesar kini justru datang dari lemahnya penerimaan negara dan tidak optimalnya belanja pemerintah.
Menurutnya, struktur utang yang semakin sensitif terhadap gejolak eksternal, seperti pelemahan rupiah dan suku bunga global yang tinggi, juga menjadi perhatian serius.
"Dalam kondisi ini, kita menghadapi risiko snowball effect: beban bunga membengkak, defisit makin besar, dan pemerintah kembali menambah utang hanya untuk membayar utang," tegas Yusuf.
Hal serupa juga diungkapkan Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Menurutnya, rasio utang yang telah menembus 40 persen dari PDB perlu menjadi perhatian. Meski belum melampaui batas maksimal, angka ini sudah melenceng dari target pemerintah dalam APBN 2025 yang berada di kisaran 37,8โ38,7 persen .
"Idealnya dijaga di bawah 40 persen PDB, apalagi target APBN 2025 adalah 37,8โ38,7 persen ," ujarnya.
Wija menegaskan, indikator yang lebih mengkhawatirkan justru adalah rasio pembayaran utang (debt service ratio), yang kini mendekati 50 persen dari penerimaan negara.
"Yang lebih mengkhawatirkan adalah debt service ratio yang saat ini mendekati 50 persen. Sudah di atas threshold aman 25โ30 persen. Dampaknya, biaya bunga akan meningkat dan refinancing utang akan makin menantang," kata Wija.
