Realisasi Penerimaan Pajak Neto 2025 Capai Rp 1.917 T, Turun 0,7 Persen

8 Januari 2026 14:52 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Realisasi Penerimaan Pajak Neto 2025 Capai Rp 1.917 T, Turun 0,7 Persen
Realisasi penerimaan pajak selama 2025 sebesar Rp 1.917 triliun (neto), terkontraksi atau turun 0,7 persen dari tahun lalu.
kumparanBISNIS
Petugas melayani wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Tanah Abang Dua di Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2025). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melayani wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Tanah Abang Dua di Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2025). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO
Realisasi penerimaan pajak per Desember 2025 mencapai Rp 1.917,6 triliun. Hingga akhir tahun, kinerja penerimaan tercatat mengalami kontraksi secara neto, meski secara bruto masih menunjukkan pertumbuhan.
Secara bruto, penerimaan pajak pada 2025 tercatat sebesar Rp 2.278,8 triliun, meningkat 3,7 persen dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 2.197,3 triliun. Namun secara neto, penerimaan pajak justru turun 0,7 persen menjadi Rp 1.917,6 triliun dari Rp 1.931,6 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).
β€œAngka bruto penerimaan pajak itu tumbuh 3,7 persen. Angka neto penerimaan pajak adalah minus 0,7 persen. Jadi di bawah 2025 itu di bawah 2024,” ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1).
Meski demikian, apabila dilihat berdasarkan pembagian semester, Suahasil menyatakan penerimaan pajak menunjukkan perbaikan pada semester II tahun 2025. Untuk Pajak Penghasilan (PPh) Badan, kinerja pada semester I tercatat terkontraksi sekitar 10 persen dibandingkan 2024, tetapi membaik pada semester II dengan pertumbuhan 2,3 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan jajarannya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Kamis (8/1/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
Kondisi serupa juga terjadi pada PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21. Pada semester I, penerimaan dari kelompok pajak tersebut tertekan hingga 19,4 persen, sebelum berbalik membaik pada semester II dengan pertumbuhan mencapai 17,5 persen.
β€œPPh final, PPh 22, PPh 26 juga seperti itu. Semester I tekanannya itu cukup tinggi tapi ada perbaikan di semester II. Ini dinamika perekonomian yang tercermin di dalam penerimaan pajak kita,” lanjut Suahasil.
Kemudian, Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) turut mencatatkan pola yang sama, dengan kinerja yang membaik pada paruh kedua tahun. β€œIni menjadi modal kita masuk ke 2026 perbaikan dari kondisi ekonomi,” ucap Suahasil.
Adapun berdasarkan jenis pajak, penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan secara neto mencapai Rp 321,4 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 2,3 persen.
Penerimaan PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 tercatat sebesar Rp 248,2 triliun dengan pertumbuhan 17,5 persen secara tahunan. Sementara itu, penerimaan PPh Final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 mencapai Rp 345,7 triliun dengan pertumbuhan 8 persen secara yoy.
Adapun penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tercatat sebesar Rp 790,2 triliun, tumbuh 2,1 persen secara yoy.
β€œLagi-lagi ini adalah pijakan yang baik untuk kita masuk 2026,” tutur Suahasil.
Trending Now