RI Jadi Sasaran Utama Penipuan Lowongan Kerja di Kawasan Asia Pasifik

23 November 2025 12:52 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
RI Jadi Sasaran Utama Penipuan Lowongan Kerja di Kawasan Asia Pasifik
Indonesia jadi target utama penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik, menyumbang 62 persen dari total kasus.
kumparanBISNIS
Sejumlah pencari kerja antre mencari informasi lowongan pekerjaan dalam bursa lowongan kerja Naker Fest Kota Semarang 2025 di Kantor BBVP Semarang, Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/5/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pencari kerja antre mencari informasi lowongan pekerjaan dalam bursa lowongan kerja Naker Fest Kota Semarang 2025 di Kantor BBVP Semarang, Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/5/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Indonesia disebut sebagai utama penipuan lowongan kerja di kawasan Asia Pasifik. Adapun para pelaku penipuan juga sudah menyesuaikan cara untuk memanfaatkan kondisi pasar kerja dan kebutuhan ekonomi masyarakat Indonesia.
Hal ini merupakan temuan dari SEEK, induk dari Jobstreet, yang mencatat bahwa 38 persen penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik menyasar Indonesia. Hal ini menjadikannya yang terbesar, adapun Filipina menyusul dengan persentase 20 persen.
Sementara untuk kawasan Asia, Indonesia menjadi target penipuan lowongan kerja yang menyumbang 62 persen kasus.
β€œIndonesia sebagai salah satu sasaran penipuan lowongan pekerjaan ini sangat mengkhawatirkan dan mengkonfirmasi urgensi yang tinggi. Kita tidak lagi hanya berbicara soal kerugian finansial, tetapi juga risiko keamanan serius di mana job scam telah berevolusi menjadi pintu masuk kejahatan terorganisir seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang yang menyasar warga Indonesia,” kata Operations Director Indonesia, Jobstreet by SEEK, Willem Najoan dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (23/11).
Selain itu, SEEK juga menemukan pola unik di mana pelaku penipuan menunjukkan strategi penargetan yang canggih dan berbeda-beda antara Australia dan Selandia Baru dengan enam negara Asia lain yakni Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Temuan ini didapatkan dari periode Juli 2024-Juni 2025.
Seorang pencari kerja mencari informasi lowongan pekerjaan saat bursa kerja Naker Fest di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (11/10/2024). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
β€œKami melihat para penipu ini menjadi semakin canggih dalam menargetkan tiap pasar yang berbeda. Mereka menyesuaikan pendekatan mereka untuk setiap pasar, dengan menargetkan jenis pekerjaan dan industri di mana mereka tahu para pencari kerja berada di posisi paling rentan,” ujar Tom Rhind, Head of Trust & Safety, SEEK.
Adapun per Oktober 2025, SEEK mencatat 5 kategori iklan lowongan kerja teratas yang menjadi target penipu di Indonesia. Pada posisi pertama terdapat Administration & Office Support, dengan total pekerjaan yang terdeteksi penipuan sebesar 29,36 persen.
Kategori itu disusul oleh Manufacturing, Transport & Logistics sebesar 21,06 persen, Retail & Consumer Products sebesar 12,23 persen, Trades & Services sebesar 7,98 persen dan Hospitality & Tourism sebesar 5,74 persen.
SEEK juga menemukan dalam kategori pekerjaan di bidang Administration & Office Support, peran yang paling banyak terdapat penipuan lowongan adalah untuk peran pekerjaan seperti admin toko online, admin e-commerce, dan data entry.
Sementara itu untuk kategori Manufacturing, Transport & Logistics, penipuan iklan lowongan kerja menargetkan posisi operasional gudang seperti staff gudang.
Modus Penipuan Sudah Pakai AI
Temuan itu juga mendapati bahwa saat ini para penipu sudah menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Mereka juga disebut sering menyamar sebagai Jobstreet dan menghubungi kandidat yang menjadi target melalui berbagai platform mulai SMS sampai media sosial.
Untuk Indonesia, SEEK menyebut modus yang paling banyak adalah modus tawaran kerja paruh waktu seperti memberikan tugas like atau subscribe konten media sosial.
Biasanya, pola seperti ini dimulai dari membangun kepercayaan target, dilanjutkan dengan skema yang mengharuskan target melakukan deposit atau top up dana yang nantinya akan diambil pelaku.
Trending Now