Riset Segara Ungkap Pola Utang Warga RI: Pilih Pinjol karena Cepat Cair

9 Desember 2025 19:29 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Riset Segara Ungkap Pola Utang Warga RI: Pilih Pinjol karena Cepat Cair
Segara Institute merilis hasil riset perilaku masyarakat dalam berutang, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Salah satunya ke pinjam ke pinjol.
kumparanBISNIS
Ilustrasi meminjam uang online. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi meminjam uang online. Foto: Shutterstock
Segara Institute memaparkan hasil riset terbaru terkait potret sumber pembiayaan dan perilaku peminjam di Indonesia yang dilaksanakan pada Juni sampai Juli 2025. Survei ini dilakukan di 20 daerah dengan total 2.118 responden dari berbagai latar belakang usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.
Responden survei umumnya berusia 21-30 tahun (60,43 persen) berstatus tidak/belum menikah (63 persen), mayoritas berpendidikan SMA atau sampai sarjana. Pekerjaan responden yang terbanyak adalah karyawan atau buruh (28,47 persen), diikuti pengelola UMKM (26,11 persen), dan Bekerja Mandiri (18,56 persen).
Di seluruh kelompok pekerjaan, umumnya responden memiliki rata-rata penghasilan di bawah Rp 5 juta per bulan (85,18 persen), dan sesuai penghasilannya memiliki rata-rata pengeluaran di bawah Rp 5 juta per bulan (86,68 persen).
Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, mengatakan hanya sekitar 2,28 persen responden yang berpenghasilan di atas Rp 10 juta.
Piter menegaskan bahwa mismatch antara penghasilan dan kebutuhan tetap terjadi. Ia menyebut fenomena ini sebagai realita ekonomi sehari-hari yakni pendapatan kecil tidak selalu berarti pengeluaran selaras. Mismatch inilah yang kemudian mendorong masyarakat untuk meminjam uang.
Piter Abdullah dan Ketua Bidang Humas AFPI Kuseryansah di Seribu Rasa Menteng, Selasa (9/12/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Ketika Terdesak, Keluarga Jadi Andalan

Data survei menunjukkan, pada saat mengalami defisit keuangan itu ada sebanyak 39,05 persen masyarakat memilih meminjam keluarga. Kemudian sebanyak 29,37 persen mengandalkan pindar. Lalu, pinjam ke teman 19,74 persen, sementara pinjam bank hanya 8,45 persen.
Survei tersebut juga menunjukkan pindar ternyata menjadi sumber pinjaman nomor satu di provinsi dengan pusat ekonomi besar yaitu Jawa Timur sebesar 50,87 persen, Banten 51,93 persen, dan DKI Jakarta 35,86 persen.
Piter mengungkapkan masyarakat lebih memilih pindar dibanding bank karena mempertimbangkan kecepatan pencairan uang dan persyaratan pinjaman yang lebih mudah.
β€œMeski bunga pindar di persepsikan tinggi, masyarakat tetap memilih pindar dan sebagian besar menyatakan puas atas layanan pindar. Sementara bank dan lembaga keuangan nonbank seperti Pegadaian, meskipun dipersepsikan berbunga rendah tidak menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki persyaratan yang tidak mudah,” ujar Piter berdasarkan hasil survei tersebut.

Besaran Pinjaman dan Tenor

Pinjaman yang diambil responden sangat bervariasi, dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Untuk rentenir, rata-rata pinjaman berada di kisaran Rp 4 juta; perusahaan Rp 7 juta; pinjol sekitar Rp 2,6 juta; sementara pinjaman melalui bank bisa mencapai rata-rata Rp 50 juta.
Rentang tenor juga berbeda-beda, dengan bank memiliki tenor paling panjang hingga 180 bulan. Sebaliknya, pinjol dan rentenir menawarkan tenor jauh lebih pendek.
Ilustrasi pencurian uang digital. Foto: Shutterstock
Salah satu temuan yang dipaparkan Piter adalah bunga riil pinjol bisa melebihi bunga rentenir. Hal ini terjadi karena masyarakat tidak dapat membedakan antara pinjol legal dan ilegal.
β€œYang menarik adalah pindar ada yang lebih tinggi daripada rentenir,” kata Piter.
Secara keseluruhan, bunga riil pinjaman berada di rentang 0,02 persen hingga 16,7 persen per bulan.
Meski bunga bank dinilai rendah dan tidak memberatkan, masyarakat tetap tidak menjadikan bank sebagai pilihan utama. Penyebabnya jelas, pencairan lambat dan persyaratan rumit. β€œYang dicari sama masyarakat itu cepat cair mudah,” terang Piter.
Karena itu, pinjol dan keluarga lebih diminati ketimbang lembaga resmi seperti bank, koperasi, atau pegadaian.
Riset Segara Institute juga menemukan isu pinjaman daring dipotong besar-besaran, tidak terbukti secara statistik. Mayoritas responden mengaku menerima pokok pinjaman sesuai dengan jumlah yang mereka ajukan.
β€œKita tidak menemukannya supaya tidak mendapatkan bukti yang cukup kuat secara statistik,” ujar Piter.
Meskipun bunga pinjol dan rentenir dinilai tinggi dan memberatkan, mayoritas responden tetap berusaha membayar kewajibannya. Bahkan tingkat kelancaran pembayaran di bank atau perusahaan resmi mencapai 80 persen.
Piter menduga tingginya kedisiplinan membayar pada skema rentenir juga disebabkan oleh kedekatan sosial. Rentenir di pasar tradisional, kata dia, memiliki hubungan baik dengan peminjam.
Piter menyimpulkan bahwa perilaku masyarakat dalam berutang lebih dipengaruhi oleh kondisi darurat ketimbang kalkulasi biaya dan bunga. Selama dana cepat cair, masyarakat tetap akan mengambil pinjaman, termasuk dari pinjol dan rentenir meskipun bunganya tinggi.
Trending Now