Rupiah Menguat ke Rp 16.286 per Dolar AS, Ekonomi-Cadangan Devisa Jadi Pendorong

7 Agustus 2025 15:49 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rupiah Menguat ke Rp 16.286 per Dolar AS, Ekonomi-Cadangan Devisa Jadi Pendorong
Rupiah menguat dari dolar AS, didorong menguatnya data pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga investor global mulai berharap penurunan suku bunga The Fed.
kumparanBISNIS
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Nilai tukar rupiah mencatat penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (7/8), terdorong oleh kombinasi sentimen domestik dan global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat berada di posisi Rp16.286 per dolar AS hingga pukul 15.16 WIB.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut penguatan rupiah kali ini terbilang tajam dan di luar perkiraan pelaku pasar.
โ€œRupiah siang ini menguat cukup tajam. Saya melihat bahwa penguatannya pun juga melampaui ekspektasi di 74 poin. Sekarang itu di Rp 16.288. Memang kalau saya lihat, baik dari segi eksternal maupun internal, kedua-duanya mendukung,โ€ ujarnya kepada kumparan, Kamis (7/8).
Dari sisi domestik, penguatan didorong oleh rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen, lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Selain pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa pada akhir Juli 2025 tetap tinggi sebesar USD 152 miliar, sedikit turun dibandingkan posisi pada akhir Juni 2025 sebesar USD 152,6 miliar.
โ€œSaya melihat tentang masalah pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua, di luar ekspektasi di 5,12 persen ini sudah cukup luar biasa,โ€ kata Ibrahim.
Sementara dari eksternal, sentimen datang dari prospek penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) AS pada pertemuan September mendatang.
Sejumlah data ekonomi AS yang dirilis di bawah ekspektasi memperkuat spekulasi pasar penurunan suku bunga akan segera dilakukan.
โ€œAda anggapan bahwa The Fed kemungkinan di bulan September akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Itu pun juga sesuai dengan jajak pendapat bahwa sampai saat ini penurunan suku bunga di bulan September masih di 96 persen,โ€ ujar dia.
Selain itu, gejolak geopolitik antara AS dan Rusia turut menjadi perhatian pasar. Meski Presiden Donald Trump dan Presiden Vladimir Putin saling melontarkan pernyataan keras terkait konflik Ukraina, potensi pertemuan keduanya memunculkan harapan akan tercapainya kesepakatan tertentu.
Ekonom dan Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan penguatan rupiah juga dipicu oleh meningkatnya tensi dagang antara AS dan India serta nada dovish dari sejumlah pejabat The Fed.
โ€œPenguatan rupiah dipengaruhi sentimen tensi dagang AS - India yang semakin meningkat serta sinyal dovish dari tiga pejabat the Fed,โ€ kata Nafan.
Ia menilai, dari sisi domestik, posisi cadangan devisa yang tetap memadai menjadi penopang utama stabilitas rupiah.
โ€œCadangan devisa masih tetap memadai demi mendukung ketahanan sektor eksternal dan memperkuat stabilitas makroekonomi maupun sistem keuangan. Hal ini mengingat bahwa tren surplus neraca perdagangan masih terus terjadi,โ€ ujarnya.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea dalam Taklimat Media BI, di Jakarta, Kamis (24/7/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, penguatan rupiah hari ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang regional. Pasar keuangan global hari ini mengalami risk-on terutama didorong oleh sentimen eksternal, yang positif sejalan dengan pelemahan dolar AS secara global dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
"Hal tersebut seiring dengan pelemahan data tenaga kerja AS. Pelaku pasar juga mencermati dampak dari kebijakan tarif baru AS terhadap sejumlah negara, seperti India dan Jepang," ujar Erwin kepada kumparan.
Di pasar domestik, mulai kembali masuknya aliran modal asing sejak kemarin juga mendukung penguatan rupiah. Secara umum, fundamental domestik yang tetap terjaga, seperti inflasi yang rendah dan data Produk Domestik Bruto (PDB) yang membaik turut memperkuat persepsi positif terhadap aset rupiah.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar, baik global maupun domestik, dan mengambil langkah-langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah sejalan dengan nilai fundamentalnya dan menjaga mekanisme pasar bekerja dengan baik," tambahnya.
Trending Now