SPBU Digital hingga Hidrogen: Pertamina di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo

21 Oktober 2025 14:07 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
SPBU Digital hingga Hidrogen: Pertamina di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo
Setahun pemerintahan Prabowo-Gibran, banyk invoasi dilakukan Pertamina. Mulai dari permudah transaksi denngan MyPertamina hingga proyek hidrogen hijau.
kumparanBISNIS
Operator membantu pengendara menggunakan kartu transaksi non tunai, untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM). Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
zoom-in-whitePerbesar
Operator membantu pengendara menggunakan kartu transaksi non tunai, untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM). Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting bagi transformasi sektor energi nasional. Di tengah dorongan transisi menuju energi bersih dan efisiensi layanan publik, PT Pertamina (Persero) tampil sebagai motor penggerak, dari digitalisasi ribuan SPBU hingga pengembangan energi masa depan seperti hidrogen hijau.
Langkah-langkah itu bukan hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menandai arah baru Pertamina menuju kemandirian dan keberlanjutan energi Indonesia.
Inovasi digital Pertamina semakin terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui subholding Pertamina Patra Niaga, perusahaan menghadirkan MyPertamina, aplikasi pembayaran nontunai yang dirancang untuk memudahkan pelanggan bertransaksi di SPBU.
Salah satu pengguna MyPertamina, Gracia, warga Tangerang Selatan, mengaku puas dengan pengalaman digital tersebut. “Jujur, pengalaman saya pakai aplikasi MyPertamina cukup oke. Tampilan aplikasinya simpel dan gampang banget dipahami, jadi waktu pertama kali coba pun nggak bikin bingung,” kata Gracia kepada kumparan, Selasa (21/10).
Warga menunjukan aplikasi MyPertamina saat mengisi bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Rabu (29/6/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
Meski sempat menghadapi proses registrasi yang panjang saat awal penggunaan, Gracia menilai aplikasi ini sangat membantu. Kesan serupa datang dari Putri, warga Purworejo, yang mengenal MyPertamina lewat media sosial seperti TikTok dan X.
“Karena aku emangudah biasa cashless, jadinya pakai MyPertamina tuh enak banget. Transaksi lebih praktis dan akurat, sesuai nominal pembelian. Kalau pakai cash kan suka dibulatkan, lumayan bisa hemat beberapa rupiah,” tuturnya.
Menurut Putri, kemudahan terbesar justru pada sistem pembayaran yang bisa langsung terhubung dengan berbagai e-wallet. “Aku user GoPay, jadi tinggal connect aja, nggak ribet,” katanya. Kendala kecil yang kerap ditemuinya adalah ketika aplikasi harus diperbarui sebelum bisa digunakan. “Kalau rajin update sih aman. Tapi kalo pas lagi di SPBU terus disuruh update dulu, ya agak ganggu dikit,” ujarnya.
Cerita-cerita seperti Gracia dan Putri menggambarkan bagaimana digitalisasi SPBU mulai mengubah kebiasaan masyarakat dalam membeli BBM, lebih cepat, transparan, dan efisien.

Sebanyak 6.800 SPBU Tersambung MyPertamina

Transformasi digital ini merupakan bagian dari langkah besar Pertamina dalam satu tahun terakhir. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menegaskan digitalisasi bukan hanya soal pembayaran, tetapi juga soal menghadirkan pengalaman baru bagi pelanggan.
“MyPertamina kini bukan sekadar aplikasi pembayaran, tetapi platform gaya hidup digital masyarakat,” ujar Ega dalam keterangan resminya, Jumat (26/10).
Ilustrasi pengisian bahan bakar di SPBU Pertamina Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Hingga akhir 2025, lebih dari 6.800 SPBU di seluruh Indonesia telah terintegrasi ke dalam sistem MyPertamina. Aplikasi tersebut kini mencatat lebih dari 2,5 juta pengguna aktif bulanan, dengan total transaksi diproyeksikan mencapai 16 juta transaksi tahun ini.
Tingkat kepuasan pelanggan pun meningkat, dari skor 4,22 pada 2023 menjadi 4,29 pada 2024. Bahkan, pengguna unik yang menukarkan poin loyalitas naik 36 persen dalam setahun terakhir.
Selain memberi kemudahan konsumen, digitalisasi ini juga memperkuat transparansi distribusi BBM bersubsidi—sejalan dengan arah kebijakan Prabowo–Gibran yang menekankan efisiensi pelayanan publik berbasis teknologi.

Melangkah ke Masa Depan: Hidrogen Hijau

Jika digitalisasi menjadi wajah baru di hilir, maka di sisi hulu Pertamina mulai membangun fondasi energi masa depan. Pada September 2025, Pertamina Geothermal Energy (PGE) menandai babak baru transisi energi nasional dengan membangun pilot plant hidrogen hijau di Ulubelu, Lampung. Proyek bernilai USD 3 juta atau sekitar Rp 49 miliar ini menjadi langkah awal pengembangan hidrogen hijau di Indonesia.
Hidrogen hijau disebut sebagai sumber energi masa depan karena dihasilkan dari proses elektrolisis air menggunakan listrik dari energi terbarukan—tanpa emisi karbon. Pertamina memanfaatkan potensi panas bumi di wilayah kerja PGE untuk menghasilkan listrik ramah lingkungan bagi proyek ini.
PT Pertamina (Persero) resmi melakukan groundbreaking pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu di Ulubelu, Lampung, Selasa (9/9/2025). Foto: Dok. Pertamina
Pembangunan proyek tersebut menegaskan komitmen Pertamina untuk memperluas portofolio energi baru terbarukan (EBT), dari panas bumi hingga biodiesel. Langkah ini menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan menuju net zero emission 2060, sekaligus mendukung target pemerintah dalam mempercepat transisi energi.
Fasilitas tersebut ditargetkan mampu memproduksi 100 kilogram hidrogen per hari, menggunakan teknologi elektrolisis air berbasis Anion Exchange Membrane (AEM) dengan efisiensi 82–88 persen. Lokasinya berada di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu yang memiliki kapasitas 220 megawatt (MW).
“Proyek ini menjadi langkah awal menuju pemanfaatan energi panas bumi untuk memproduksi hidrogen hijau yang bebas emisi,” ujar Direktur Utama PGE Julfi Hadi, Rabu (10/10).
Pertamina mencatat, potensi panas bumi nasional mencapai 24–26 gigawatt (GW), dengan kapasitas terpasang saat ini 727 MW. Perusahaan menargetkan kapasitas itu meningkat dua kali lipat pada 2030, menjadikan Indonesia salah satu produsen panas bumi terbesar di dunia.

Energi Baru dan Ketahanan Nasional

Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di green house kebun melon hidroponik milik kelompok pemuda tani Kabupaten Tanggamus, Lampung. Foto: Dok. Pertamina
Selain panas bumi dan hidrogen, Pertamina juga terus memperluas pengembangan energi terbarukan lain. Di antaranya biodiesel B40 berbasis minyak sawit, renewable diesel bebas sulfur, pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai wilayah, serta biogas di kawasan operasional.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan kapasitas terpasang panas bumi Pertamina saat ini mencapai 727 MW, dan ditargetkan akan double capacity pada 2030.
“Dengan potensi 24-26 GW, Indonesia berpeluang menjadi negara terbesar penghasil panas bumi di dunia,” papar Oki dalam keterangannya, Kamis (11/10).
Selain itu, Pertamina juga tengah menyiapkan proyek green hydrogen berbasis energi panas bumi melalui elektrolisis air. Di mana saat ini sudah terpetakan potensi klaster hidrogen di Sumatra, Sulawesi, dan Jawa. Pertamina juga mengembangkan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk menekan emisi dari operasi migas. Salah satu proyek potensial ada di Asri Basin, Laut Jawa, dengan kapasitas penyimpanan lebih dari 1 gigaton.
Oki menegaskan, seluruh langkah ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi emisi global, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional dengan mengurangi impor, membuka lapangan kerja, serta menciptakan ekosistem energi hijau di Indonesia.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza melakukan pengisian secara simbolis bahan bakar Bioethanol pada acara Pengisian Perdana Bioethanol Sorgum Pertamina & Toyota yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang pada Rabu (24/7/2024). Foto: Pertamina
Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, semua inisiatif tersebut bukan sekadar strategi bisnis, tapi bentuk nyata komitmen terhadap ketahanan energi nasional.
“Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina mengambil langkah besar mengembangkan sumber energi baru terbarukan yang berdampak positif bagi lingkungan dan perekonomian,” ujar Fadjar.
Langkah ini juga mendukung target pemerintah mencapai Net Zero Emission 2060, sekaligus memperkuat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di sektor energi.
Reporter: Nur Pangesti
Trending Now