Sri Mulyani Bantah Deflasi di Mei 2025 Akibat Daya Beli Melemah
2 Juni 2025 18:59 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Sri Mulyani Bantah Deflasi di Mei 2025 Akibat Daya Beli Melemah
Mei 2025 tercatat mengalami deflasi 0,37 persen (mtm), Sri Mulyani bantah karena daya beli melemah. kumparanBISNIS

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) di Mei 2025 menunjukkan deflasi sebesar 0,37 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membantah deflasi ini disebabkan oleh daya beli yang melemah.
Menurut Sri Mulyani, deflasi yang terjadi bukan karena daya beli masyarakat yang menurun melainkan karena pemerintah melakukan intervensi harga.
βKalau deflasi ini kan kaya kita melakukan diskon transport, ini pasti menimbulkan deflasi, bukan karena masyarakat daya belinya turun, karena pemerintah melalui administered price, pemerintah melakukan intervensi,β kata Sri Mulyani di Istana Negara, Jakarta Pusat pada Senin (2/6).
Ia juga menyinggung dengan adanya 5 stimulus pemerintah termasuk diskon transportasi juga bisa menyebabkan deflasi. Meski demikian Ia melihat permintaan daya beli masyarakat masih tetap terjaga.
βJadi kita pasti melihat dari komponen deflasi dari BPS. Kalau inflasi intinya masih di sekitar 2 persen itu berarti ada kenaikan harga, karena ada permintaan, karena core inflation adalah berasal dari kenaikan harga akibat daya beli atau permintaan, gitu,β ujarnya.
Meski menunjukkan deflasi secara mtm, secara tahunan (yoy), IHK masih menunjukkan tingkat inflasi 1,60 persen. Walau demikian deflasi yang terjadi pada Mei 2025 disebut lebih dalam dari deflasi di tahun lalu pada periode yang sama.
"Pada Mei 2025, terjadi deflasi yang lebih dalam dari deflasi Mei 2024," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini di Kantor Pusat BPS, Senin (2/6).
Pudji mengatakan, tingkat inflasi tahun kalender per Mei 2025 sebesar 1,19 persen. Penyumbang inflasi bulanan terbesar utama pada bulan Mei ini berasal kelompok tarif informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil inflasi 0,02 persen.
Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,02 persen, dengan andil deflasi 0,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif angkutan antar kota dan bensin.
Kemudian, komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 2,48 persen, dengan andil deflasi 0,41 persen. Dengan komoditas penyumbang adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih.
Lebih lanjut, Pudji mencatat 31 provinsi di Indonesia mengalami deflasi, sementara 7 provinsi mengalami inflasi. Adapun total provinsi Indonesia saat ini ada 38 provinsi.
