Starbucks Gandeng Kementan Danai Program 1 Juta Bibit Kopi di Aceh hingga Sulsel
2 Desember 2025 11:24 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Starbucks Gandeng Kementan Danai Program 1 Juta Bibit Kopi di Aceh hingga Sulsel
Starbucks dan Kementerian Pertanian kolaborasi dalam program TEKAD untuk sebar 1 juta bibit kopi dan latih petani di Aceh hingga Sulawesi.kumparanBISNIS

Kementerian Pertanian (Kementan) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Starbucks Coffee Company terkait program pengembangan kopi nasional.
Melalui kerja sama ini, Starbucks akan mendanai empat program utama, mulai dari penyebaran satu juta benih kopi unggul hingga percontohan pengendalian hama.
Kesepakatan tersebut berfokus pada program TEKAD (Tani, Ekspor, Kopi, Ajar, Dana). General Manager Starbucks Farmer Support Center, Masyitah Daud, mengatakan seluruh program akan dijalankan pada 2026 hingga 2027 di beberapa provinsi, termasuk Aceh, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan.
βProgram-program ini untuk meningkatkan produktivitas dan kemajuan pengetahuan para petani kopi di Indonesia. Kami juga mendukung peluang ekonomi petani dan mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan,β ujar Masyitah dalam acara MoU di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (2/12).
Untuk program pertama, Starbucks akan mendistribusikan satu juta bibit kopi berkualitas tinggi sebagai bagian dari program peremajaan tanaman atau replanting. Bibit tersebut memiliki ketahanan terhadap penyakit, kekeringan, serta perubahan cuaca yang tidak menentu.
βIni bisa meningkatkan hasil panen. Bibit ini dapat digunakan untuk menggantikan pohon kopi baru maupun pohon tua yang produksinya sudah rendah, sehingga menjamin keberlanjutan pertanian jangka panjang,β jelasnya.
Total terdapat enam varietas yang akan disebarkan: Komasti, Sigararutang, Gayo 1, Gayo 2, Gayo 3, dan Andungsari. Pemilihan varietas akan menyesuaikan karakter tiap daerah.
βKita melihat misalnya daerah di Sulawesi sering menghadapi kekeringan lebih panjang. Maka varietasnya harus disesuaikan,β tutur Masyitah.
Program kedua adalah melatih 200 agronomis Indonesia. Mereka diharapkan mampu membantu sekitar 15.000 petani per tahun untuk mengadopsi teknik agronomi terbaru Starbucks.
βPara agronomis ini dapat membagikan ilmunya kepada petani lain sehingga dampaknya terus berkelanjutan dan menopang industri kopi Indonesia,β ujarnya.
Dua program berikutnya adalah penyebaran 20 set mesin penggilingan kopi hemat air di berbagai wilayah produksi, serta percontohan pengendalian hama ramah lingkungan.
Untuk pengendalian hama, Starbucks memilih 500 kebun di Aceh sebagai lokasi percontohan. Mereka akan memperkenalkan Beauveria bassiana, agen hayati alami yang efektif melawan penggerek buah kopi, salah satu hama paling merusak bagi produksi.
Meski begitu, Masyitah enggan mengungkap total nilai pendanaan Starbucks untuk program tersebut.
βSaya belum bisa menyebutkan detail nominalnya. Fokus kami adalah dampaknya, kepada petani, produktivitas, dan transfer pengetahuan,β ujar Masyitah usai penandatanganan MoU.
