Kumparan Logo

Studi Teknis Terkait Blok Masela Jadi Pusat CCS Telah Rampung

kumparanBISNISverified-green

Β·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela di Laut Arafura, lepas pantai Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, Maluku. Foto: SKK Migas
zoom-in-whitePerbesar
Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela di Laut Arafura, lepas pantai Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, Maluku. Foto: SKK Migas

Studi teknis terkait Carbon Capture Storage (CCS) dalam mendukung produksi gas yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di proyek lapangan gas abadi di Blok Masela telah rampung. Kemajuan ini merupakan tindak lanjut dari penetapan proyek tersebut sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Sebelumnya, Inpex Corporation (Inpex), melalui anak perusahaannya Inpex Masela Ltd, menargetkan proyek LNG Abadi Masela akan menjadi CCS hub alias pusat CCS. Inpex bekerja sama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) untuk studi teknis terkait CCS untuk memastikan kesiapan subsurface yang kini sudah rampung.

”Studi ini menjadi dasar penting dalam merancang teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang sesuai dengan kondisi geologi wilayah Maluku,” kata Deputi Eksploitasi SKK Migas, Taufan Marhaendrajana dalam keterangan tertulis, Minggu (26/10).

Studi teknis tersebut menjadi komitmen proyek untuk mendukung Net Zero Emission dan peningkatan daya saing. Nantinya, komponen CCS akan dirancang untuk menangkap dan menyimpan CO2 dari hasil produksi gas sehingga mendukung target dekarbonisasi sektor energi nasional.

Dengan selesainya studi teknis ini, maka Inpex telah mengimplementasikan teknologi CCS dari sisi subsurface dan siap untuk lanjut ke tahap Front End Engineering Design (FEED).

”Proyek ini proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan mendorong upaya dekarbonisasi Indonesia sambil tetap menyediakan energi bagi negara,” kata Executive Project Director INPEX Masela Ltd, Jarrad Blinco.

Studi teknis tersebut sudah dimulai sejak tahun 2022 dengan menggandeng ITB untuk memberikan tinjauan subsurface yang komprehensif terkait kesiapan CCS dan mengestimasi kapasitas penyimpanan CO2. Studi lanjutan dimulai di tahun 2024 dan 2025 yang meliputi analisis laboratorium, pemodelan 3D geomekanika, serta simulasi 4D coupled flow-geomechanics untuk memahami resiko dan ketidakpastian terkait containment dan perilaku plume CO yang diinjeksi.

Dengan studi tersebut, Peneliti LAPI ITB, Benyamin Sapiie menuturkan hal ini juga bisa bermanfaat baik untuk Inpex maupun pemerintah karena bisa mengetahui potensi ekonomi dari wilayah operasi.

Pelaksanaan penuh proyek Abadi Masela direncanakan akan berproduksi pada tahun 2030. Menantunya, volume LNG tahunan dari proyek Abadi diperkirakan mencapai 9,5 juta ton, setara dengan lebih dari 10 persen impor LNG tahunan Jepang.

Sebelumnya, investasi dari Inpex juga mengalami kenaikan. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan kenaikan investasi Abadi Masela yang diakibatkan teknologi CCS mencapai 5 persen dari total investasi, yakni USD 1 miliar atau sekitar Rp 16,3 triliun (kurs Rp 16.331 per dolar AS).

"Dari USD 20 miliar, 5 persennya itu nambah sekitar USD 1 miliar akibat dari ada proyek CCS," ungkapnya saat konferensi pers Peresmian Tahap FEED LNG Abadi Masela, Kamis (28/8).

Djoko membuka potensi Abadi Masela menjadi CCS hub karena bisa menerima pengiriman CO2 dari tempat lain, bahkan diimpor dari negara lain.

instagram embed
Trending Now