Surplus Perdagangan Terus Menguat, Sinyal Ketahanan Ekonomi Indonesia
2 Desember 2025 10:29 WIB
·
waktu baca 2 menit
Surplus Perdagangan Terus Menguat, Sinyal Ketahanan Ekonomi Indonesia
Neraca perdagangan RI surplus USD 35,88 miliar pada periode Januari-Oktober 2025. Jadi sinyal kuat ekonomi nasional. kumparanBISNIS

Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat menjelang akhir 2025. Surplus neraca perdagangan pada periode Januari–Oktober 2025 mencapai USD 35,88 miliar, meningkat sekitar USD 10,98 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, mengatakan surplus ini juga memperpanjang catatan positif selama 66 bulan berturut-turut, sebuah capaian yang mengindikasikan daya saing ekspor Indonesia masih berada di jalur yang solid meski kondisi global belum sepenuhnya stabil.
” Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus sepanjang Januari–Oktober 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD 51,51 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 15,63 miliar,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/12).
Nilai ekspor tumbuh impresif, nyaris tujuh persen. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar USD 187,82 miliar, atau naik 15,75 persen.
Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 41,84 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Oktober 2025. Tiongkok tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas non migas Indonesia dengan nilai mencapai USD 52,45 miliar (23,51 persen), disusul Amerika Serikat sebesar USD 25,56 miliar (11,46 persen) dan India sebesar USD 15,32 miliar (6,87 persen).
Sementara itu, nilai impor juga mengalami kenaikan, meski dengan laju lebih lambat. Sepanjang Januari–Oktober 2025, impor naik 2,19 persen. Peningkatan terbesar terjadi pada barang modal, yang menandakan aktivitas produksi dan investasi masih bergerak
Kombinasi antara ekspor yang terus tumbuh dan impor barang modal yang menguat memberi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Pertumbuhan impor barang modal sering menjadi indikator peningkatan produksi di sektor industri dan manufaktur, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi.
