Survei KedaiKOPI: Rata-rata Kelas Menengah Habiskan Rp 1,5 Juta untuk Gaya Hidup

28 Oktober 2025 13:11 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Survei KedaiKOPI: Rata-rata Kelas Menengah Habiskan Rp 1,5 Juta untuk Gaya Hidup
Survei KedaiKOPI melihat kelas menengah mulai pulih, rata-rata menghabiskan Rp 1,5 juta untuk gaya hidup.
kumparanBISNIS
com-Bank Mandiri, ilustrasi belanja online Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Bank Mandiri, ilustrasi belanja online Foto: Shutterstock
Lembaga survei KedaiKOPI menyajikan hasil riset mengenai perilaku konsumsi dan daya beli masyarakat kelas menengah. Hasil survei tersebut mencakup tingkat optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Survei ini dilakukan pada periode 14-19 Oktober dengan metode Online-Computerized Assisted Self Interview (CASI) dengan melibatkan 932 responden usia 17-55 tahun dengan pendapatan Rp 3,5 sampai 14,5 juta per bulan.
Dari hasil survei tersebut, tercatat masyarakat kelas menengah menempatkan pengeluaran rumah tangga untuk bahan pokok dibanding barang hobi atau rekreasi.
β€œ3 dari 5 Masyarakat Kelas Menengah mempersepsikan naiknya pengeluaran rumah tangga dalam 3 bulan terakhir, termasuk di dalamnya biaya pendidikan. Hal ini menyebabkan belanja kebutuhan pokok lebih diprioritaskan,” kata peneliti senior Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah di Kantor KedaiKOPI, Jakarta, Selasa (28/10).
Selain itu, hasil survei tersebut juga menyebut bahwa sebesar 54,4 persen masyarakat kelas menengah yang memiliki tempat tinggal secara lunas. Sementara 19,3 persen adalah kontrak atau sewa, dan 16,5 persen adalah menumpang bersama keluarga.
β€œ54,4 persen responden yang mengisi survei itu menyatakan sudah memiliki tempat tinggal, dan tempat tinggalnya alhamdulillah lunas gitu ya, sudah tidak ada tanggungan lagi cicilan segala macam,” paparnya.
1 dari 2 Masyarakat Kelas Menengah Gunakan Paylater
Ilustrasi Paylater. Foto: Przemek Klos/Shutterstock
Selain itu, dari hasil survei terbaru itu disebutkan bahwa hampir setengah dari masyarakat kelas menengah itu menggunakan fitur paylater atau bayar nanti.
β€œPayLater itu, jumlah yang memakainya itu 57 persen. Satu dari dua orang itu pasti pakai, pernah pakai PayLater,” kata dia.
Masyarakat kelas menengah juga mengeluarkan pendapatannya sebagian untuk layanan hiburan seperti drama, lalu serial dan disusul dengan konten pertandingan olahraga.
β€œKita melihat polanya bahwa layanan streaming ini sudah menjadi kebutuhan bagi kelas menengah karena cukup banyak yang berlangganan, gitu. Dan konten yang paling banyak dikonsumsi adalah drama,” tuturnya.
Perilaku Belanja Kelas Menengah: Rp 500 ribu-1,5 juta
Ilustrasi perempuan belanja. Foto: Shutterstock
KedaiKOPI juga mencatat bahwa masyarakat kelas menengah paling banyak mengeluarkan uang untuk gaya hidup, baik itu belanja maupun hobi itu di rentang biaya Rp 500 ribu-1,5 juta.
β€œKalau pakai Jakarta, berarti setengahnya tadi Rp 2,5 juta kebutuhan hidup, kita ambil batas atasnya Rp 1,5 juta buat gaya hidup,” terangnya.
Terkait dengan fenomena rombongan jarang beli (Rojali) dan Rohana juga memang fakta bahwa kelas menengah ke mal tidak dengan tujuan berbelanja. Hasilnya, 65,8 persen hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah datang ke mal hanya untuk jalan-jalan dan menikmati suasana.
β€œKenapa Rohana dan Rojali dilakukan, gitu ya? Ternyata memang tujuannya beda. Tadi mereka balik bahwa ke mal itu kita cuma pengin jalan-jalan kok, pengen lihat-lihat,” terangnya.
Belanja Online Meningkat
Masyarakat kelas menengah membandingkan produk dengan toko yang dijual di platform daring. Sebelumnya berdasarkan laporan NielsenIQ dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), penjualan e-commerce pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2024 mencapai Rp 31,2 triliun, dengan Rp 16,1 triliun berasal dari produk lokal.
Angka tersebut setara 6,6 kali lipat dari rata-rata penjualan harian reguler. Jumlah pengguna internet dalam tiga bulan terakhir juga mencapai 44 juta, dengan 39 juta di antaranya aktif berbelanja online.
Survei NielsenIQ dan idEA juga menunjukkan faktor utama yang mendorong konsumen berbelanja adalah gratis ongkir dan diskon, yang masing-masing dipilih 70 persen responden. Meski sedikit menurun dibanding tahun lalu, keduanya masih menjadi daya tarik terbesar, diikuti oleh voucher yang naik menjadi 41 persen dan hadiah gratis yang meningkat hingga 33 persen.
Ilustrasi Belanja Online. Foto: Shutterstock
Sebagian besar konsumen, yakni 91 persen, juga melakukan belanja secara terencana. Dari jumlah itu, 66 persen sudah mengetahui produk apa yang akan dibeli, 25 persen masih belum menentukan produk spesifik, sementara hanya 9 persen yang benar-benar berbelanja secara impulsif.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dan tumbuh 4,04 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).
Realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2024 sebesar 5,05 persen (yoy), dan lebih tinggi jika dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,87 persen (yoy).
Sementara itu, dalam konferensi pers APBN KiTA, Senin (22/9), Menteri Keuangan Purbaya menyebut penerimaan pajak dari sektor perdagangan online Januari-Agustus 2025 tumbuh 65 persen menjadi Rp 17,4 triliun dibanding periode Januari-Agustus 2024 yang berada di angka Rp 10,5 triliun.
Secara keseluruhan, tren kinerja penerimaan pajak dari sektor perdagangan tumbuh 0,3 persen ke angka Rp 333,8 triliun periode Januari-Agustus 2025 dari periode yang sama 2024 sebesar Rp 332,7 triliun.
Trending Now